JEJAK FIR’AUN DI NUSANTARA

KAPAL itu serupa kano ramping yang memanjang. Pada bagian ujung-ujungnya terpasang bilah kayu tinggi. Barangkali untuk menjaga kestabilan lajunya. Sekalipun kecil, namun daya jelajah dan kekuatannya luar biasa. 

Kapal kuno itu bernama khufu. Kapal yang sama digunakan untuk mengantarkan Fir’aun ke “surga”. Kapal-kapal ramping itu telah sampai Nusantara sejak abad ke-13 SM. 

Menggunakan peta rahasia yang tersimpan rapat selama berabad-abad, mereka menjelajah ganasnya samudera untuk mendapat benda penting yang akan menjaga keabadian Sang Raja: kapur barus atau yang mereka lafalkan barousai.

Kapur barus adalah “azimat” rahasia yang bermanfaat untuk bermacam kebutuhan bagi masyarakat Mesir kuno, dari pengobatan, kecantikan, hingga pembalseman mumi yang rahasianya hingga kini abadi.

Tak bisa sembarangan diperoleh, namun hanya di satu negeri yang berjarak 7.767 km dari Mesir. Negeri itu dalam catatan Claudius Ptolemaus, geograf Yunani, disebut Barus (Barousai)

Lokasinya kalau sekarang  menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Antara Singkil dan Sibolga yang harus menempuh perjalanan ke selatan sejauh 414 kilometer.

Bahan baku kapur barus diambil dari bagian tengah pohon kapur. Pohon ini tidak tumbuh di tempat lain kecuali di hutan Singkel. Tak heran kalau harganya sangat mahal, sekitar 64 ribu min koin serta 10.500 tael perak.

Mumifikasi adalah proses pembalsaman atau pengawetan jenazah. Prinsipnya, pembalsaman adalah menghilangkan semua kelembapan tubuh. Jadi, yang disisakan dari tubuh jenazah adalah bagian keringnya saja.

Pertama yang dilakukan adalah mengeluarkan otak dengan cara memasukkan pengait semacam “sedotan” ke lubang hidung.

Setelah itu dilakukan sayatan pada tubuh bagian kiri dekat perut untuk mengeluarkan semua organ dalamnya. Hati, paru, usus, lambung, dsb. Organ dalam ini kemudian dimasukkan dalam guci khusus kanopik yang berisi natron atau Natrium Karbonat (Na2CO3).

Setelah itu tubuh dibalsam dengan menggunakan kapur barus, resin, minyak, anggur dan rempah-rempah untuk membuatnya tetap kering dan tidak berbau busuk.

Lalu, jenazah dikubur sementara selama 70 hari di Wadi Natrun. Yakni suatu wilayah di Mesir yang secara alami mengandung larutan garam yang terdiri atas sodium bikarbonat, sodium karbonat, sodium sulfat, dan sodium klorida.

Setelah itu baru dibebat dengan kain khusus dan diletakkan dalam sarcophagus atau peti batu. Sarcopagus dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk perjalanan ke “surga”, seperti kapal khufu, emas, perak, bahkan istrinya akan disimpan dalam pyramid.

Masyarakat Mesir kuno mementingkan kehidupan setelah kematian. Tentu saja dalam persepsi mereka. Salah satunya dibuktikan dengan pembangunan pyramid luar biasa. 

Tak hanya kuat bertahan selama berabad-abad, namun pyramid  juga dibangun dengan menggunakan bermacam teori fisika yang sangat rumit. 

Bagaimana batu-batu raksasa itu bisa diangkat hingga ke puncaknya, juga pintu masuk yang menggunakan teori hidrolik yang kita kenal kini, yang pada waktu itu disebut jebakan pyramid, karena setelah masuk tak bisa keluar lagi.

Semua ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa pada proses mumifikasi yang dimiliki peradaban Mesir Kuno itu bukan tanpa maksud. Seperti yang diisyaratkan dalam Alqur’an.

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” [QS Yunus: 92]

(By Uttiek)