"GHOST IN THE MACHINE" Wajah Gak Tau Malu Erick Thohir di Mesin ATM

Oleh: Agustinus Edy Kristianto

Ada artikel menarik di Detik Health berjudul "Penyebab Orang Tidak Punya Rasa Malu" (17/4/2011). Ternyata, menurut para ilmuwan dari University of California, AS, bagian otak di sebelah kanan depan yang disebut pregenual anterior cingulate cortex adalah penyebab kunci rasa malu manusia.

Semakin kecil bagian otak ini maka semakin sedikit rasa malu seseorang. Fungsi lain dari bagian otak ini antara lain mengatur detak jantung dan pernafasan, emosi, perilaku kecanduan dan pengambilan keputusan. 

Maka, kata artikel itu, pada orang yang otaknya sehat, ketika merasa malu, bagian otak ini akan berfungsi maksimal. Rasa malunya akan membuat tekanan darah menjadi naik, detak jantung meningkat atau terjadi perubahan nafas. Bila Anda kehilangan kemampuan otak daerah ini, Anda akan kehilangan respons rasa malu.

Habis baca artikel itu, langsung saya ingat ATM!

Beberapa hari lalu saya membeli sesuatu di salah satu gerai waralaba di dekat kampus PTIK, Jaksel. Di dalam gerai itu ada mesin ATM salah satu bank BUMN. Di layar ATM, saya lihat ada orang bicara-bicara tentang akhlak. 

Saat membayar, saya tanya ke kasir. "Mbak, orang itu siapa?" 

Dijawab: "Pak Erick Thohir." 

"Lho, siapa dia bisa ada di layar begitu?"

"Menteri, Pak. Menteri BUMN." 

"Mbak, kan, setiap hari berdiri di sini menghadap mesin itu. Sejak ada bapak itu di layar, mimpi mbak makin bagus apa makin buruk, waktu tidur?" 

Ketawa dia.

"Bapak ini 24 jam ngoceh begini?"

"Iya. Malah kalau toko tutup, lampu mati aja, dia terus ngomong, gak berhenti-berhenti," jawab si kasir.

Waduh! Saya cuma berharap mbak kasir itu dapat pekerjaan baru yang lebih baik. Bukan masalah karena kasir adalah profesi yang tercela melainkan karena masalah setiap detik harus melihat dan mendengar bapak itu ngoceh. 

Hari ini warganet ramai bicarakan Menteri BUMN Erick Thohir di mesin ATM. Macam-macam alasannya, mulai dari memanfaatkan jabatan untuk persiapan pilpres, tidak fair, promosi gratisan, merusak pemandangan dsb. 

Tapi Komisaris Telkom yang juga Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, membantah. Katanya, Erick Thohir tidak terpikir soal pencapresan. Dulu waktu ia kampanye memakai masker tidak ada yang protes, kenapa sekarang soal akhlak protes. 

Pintar juga dalih orang ini. Memang tidak ada aturan yang melarang itu. Apalagi sekarang bukan masa kampanye. Jabatan menteri juga bukan masuk kategori ASN/PNS tapi pejabat negara. Tidak ditemukan larangan baik di UU Penyelenggaraan Negara Bebas KKN, UU Kementerian Negara, UU Pemilu, UU Tipikor untuk kelakuan seorang pejabat macam begini.

Untuk saat ini alasan legal-formal dan etika politik memang sulit tembus kulit menteri itu. Makanya saya pakai argumen tidak tahu malu itu yang diduga disebabkan karena mengecilnya bagian otak kanan depan seseorang. 

Saran saya, reaksi yang paling pas kita tunjukkan untuk menghadapi 'teror' ATM itu satu saja: JIJIK! Jijik---lebih bagus lagi disertai mual dan muntah---menghadapi teror iklan pejabat di fasilitas umum seperti itu menunjukkan otak pemicu rasa malu kita masih normal.

Saat ini kita hidup di era media baru. Media sosial membuat nilai-nilai penting banyak bergeser. Orang diarahkan untuk sibuk membicarakan. Persoalan kualitas substansi dan nilai apa yang dibicarakan adalah nomor sekian. Dibicarakan dan viral adalah ukuran kesuksesan. 

Tidak hanya Erick Thohir, strategi 'asal dibicarakan' juga saya lihat dipakai Giring bekas Nidji cum Plt. Ketua Umum PSI. Karena dia pernah memimpin band maka ia merasa layak memimpin negara. Seharusnya dia bikin Partai Band Indonesia, bukan Partai Solidaritas Indonesia, jika demikian logikanya.

Ingat, Erick Thohir adalah orang media, pemegang saham pengendali PT Mahaka Media Tbk (ABBA) yang sampai status ini ditulis masih berstatus dalam Notasi Khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) karena laporan keuangannya menunjukan permodalannya minus. Bakat dan wetonnya memang di bidang pengolahan persepsi orang. Makanya apapun lembaganya, langkah utama dan pertama adalah ganti logo, termasuk di Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di mana Erick Thohir menjadi ketua umumnya.

Habis ganti logo, terbitlah jargon. Akhlak adalah Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Itu besutan konsultan ESQ kawan dia, yang jasa konsultasinya banyak dipakai BUMN-BUMN.

Habis terbit jargon, muncullah award. Akhlak award mayoritas disabet Telkom Group, BUMN pengendali Telkomsel yang menyuntik Rp6,4 triliun kepada Gojek, di mana kakaknya adalah Komisaris Utama. Pun Pupuk Indonesia, BUMN pengendali Rekind yang urusan sengketanya dengan Panca Amara Utama, perusahaan yang komisarisnya adalah kakak si menteri itu juga, entah menguap ke mana.

Begitu-begitu saja taktiknya.

Saya harap masih lebih banyak orang Indonesia yang bagian otak kanan depannya normal. Masih bisa merespons rasa malu. Bisa memilah antara apa yang ada ditampilkan di layar ATM dan kebenaran faktual. Tidak mudah terbius iklan politik. Tidak mudah dibentuk persepsi yang kemudian menentukan perilaku memilihnya dalam pemilu.

Namun, lepas dari itu semua, saya tak perlu panjang-panjang menulis status ini dan warganet tak perlu ramai soal iklan ATM, kalau Erick Thohir tidak menjabat menteri. Dia bisa menjadi menteri karena ada Presiden Jokowi yang memilih (dan mempertahankannya). 

Kelihatannya perlu segera dilakukan satu paket tes kesehatan otak kanan bagian depan untuk Presiden dan pembantu kesayangannya itu. Masih sehatkah gerangan?

Salam.

(fb)