Siapa Yang Menutup Telinga?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Apa yang jauh lebih berbahaya dibanding sekelompok santri penghafal Alquran yang menutup telinga karena tak mau mendengar suara musik? Mereka yang terus menutup telinga atas suara kritik, yang tak mau mendengar segala masukan, keluhan, dan kemarahan.


LIHAT saja bagaimana 56 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) akhirnya dipecat mulai 30 September 2021. Segala kritik, masukan, dan kemarahan publik terhadap TWK –yang dalam kolom di Jawa Pos saya pelesetkan sebagai tes wawasan kebangsatan– sama sekali tak didengar.

Padahal, bulan Mei lalu, Presiden Jokowi telah mengatakan bahwa TWK tak bisa jadi dasar pemberhentian pegawai KPK. Apakah presiden hanya sedang bermain kata (lip service) sebagaimana yang dikatakan BEM UI? Ataukah presiden tak paham apa yang ia katakan? Atau tak paham masalah yang dihadapi? Atau memang apa pun yang dikatakan presiden sudah tidak didengar oleh semua orang yang memegang jabatan?

Ini adalah contoh nyata dari apa yang disebut sosiolog Syed Hussein Alatas sebagai bebalisma dalam bukunya, Intellectuals in Developing Societies, yang terbit kali pertama tahun 1977. Konsep bebalisma merujuk pada situasi yang lebih dari sekadar bodoh. Bebalisma adalah perpaduan antara kebodohan, penolakan pada fakta dan realitas, tidak adanya tanggung jawab, inkompetensi, malas, tidak bisa dan tidak mau mendengar. Orang-orang bebal seperti hidup dalam realitasnya sendiri. Sekeras apa pun teriakan tak akan bisa menjangkau pendengaran mereka.

Konsep bebalisma ini dibangun oleh Syed Hussein Alatas dengan berpijak pada terminologi Oblomovism yang lebih dulu populer di Rusia. Oblomovism terinspirasi dari novel karangan Ivan Goncharov yang memiliki karakter utama bernama Oblomov. Oblomov adalah seseorang yang memiliki kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun modal, tapi tak pernah bisa membuat keputusan yang tepat.

Maka, tak heran orang-orang bebal akan mengambil tindakan dan keputusan yang susah dinalar orang lain selain dirinya sendiri. Bahkan, ketika satu tindakan sudah terbukti salah atau tak layak dilakukan, orang bebal akan terus mengulang hal yang sama.

Contohnya adalah ketika seorang presiden turun untuk membagikan sembako langsung ke rumah penduduk. Sudah banyak kritik yang disampaikan bahwa itu tak seharusnya dilakukan presiden, tapi malah kembali diulang hingga membuat kerumunan orang yang berbahaya dalam masa pandemi ini. Alih-alih merasa bahwa tindakan itu salah dan tak layak, justru presiden dan orang-orangnya merasa itu adalah langkah terbaik yang patut dibanggakan.

Manusia-manusia bebal juga akan selalu tak punya rasa malu. Mereka tak akan segan melakukan hal-hal di luar etika, bahkan melanggar hukum. Karena mereka selalu menolak fakta dan realitas, pembenaran akan selalu ada untuk apa pun yang mereka lakukan. Bebalisma bukanlah sebuah ideologi atau kepercayaan. Artinya, manusia-manusia bebal bisa berasal dari latar belakang apa pun, kelompok mana pun. Kebebalan juga tak ditentukan oleh jenjang pendidikan. Maka, jangan heran jika banyak profesor yang juga bebal.

Rektor UI adalah satu contoh saja bagaimana kebebalan diidap oleh seseorang berpendidikan tinggi yang menempati jabatan tertinggi di perguruan tinggi. Berawal dari ketidakmauannya mendengar suara kritis mahasiswa, terbongkar bahwa rektor ini merangkap jabatan sebagai komisaris BUMN. Padahal, rangkap jabatan jelas tak diperbolehkan menurut aturan UI. Bahkan, ketika sudah jelas ada aturan tertulis, semua yang terlibat –mulai rektorat, Kementerian BUMN, hingga istana– tak ragu untuk melanggar. Kebebalan kian menjadi-jadi ketika kemudian aturan yang melarang rangkap jabatan itu justru diubah.

Yang patut disadari, kebebalan akan membawa akibat buruk bagi banyak orang, bukan semata dalam tataran moral, tapi juga terampasnya hak dan hilangnya keadilan. Saiful Mahdi, dosen Universitas Syiah Kuala, saat ini harus mendekam di penjara akibat kebebalan pejabat-pejabat di kampusnya. Ini menunjukkan bahwa bebalisma bukan hanya penyakit perseorangan, tapi juga sudah menjadi sebuah sistem. Sistem yang bebal, yang hadir dengan logika dan kebenarannya sendiri.

Orang-orang bebal yang hidup dalam realitasnya sendiri juga akan selalu mengada-ada, mencari-cari yang tak ada dan justru tak melihat yang di depan mata. Ini adalah mereka yang sedikit-sedikit menuding orang radikal, yang terus memelihara rasa curiga dan menyalakan bara kebencian. Melihat anak-anak menutup kuping karena tak mau mendengar musik saja sudah langsung dianggap radikal tanpa mau memahami bahwa itu memang cara yang harus ditempuh untuk bisa fokus dan konsentrasi menghafal Alquran. Demikian juga dengan cap radikal yang dituduhkan pada pegawai-pegawai KPK yang tak lolos TWK.

Pertanyaannya kini, apa yang harus kita lakukan di tengah segala kebebalan ini? Syed Hussein Alatas mengharapkan adanya peran para intelektual. Yang disebut intelektual bukanlah mereka yang berpendidikan tinggi atau para teknokrat yang ahli di bidang masing-masing. Para guru besar yang telah mengkhianati nalar dan kebenaran jelas tak layak lagi disebut intelektual.

Intelektual adalah orang-orang biasa yang terus memelihara keberanian dan nalar kritisnya. Ia bisa seorang peternak ayam yang membawa poster di hadapan presiden. Ia ada di antara suara-suara warganet yang tak putus asa berteriak meski tak ada jaminan suaranya didengar. Ia adalah kita semua yang menolak untuk menjadi bebal. [jawapos]

*) OKKY MADASARI, Sastrawan, kandidat PhD National University of Singapore
Baca juga :