PR UMMAT!

[Catatan Azwar Siregar]
 
PR UMMAT!

"Maaf, bang. Kali ini saya belum bisa ikut berdonasi. Saya masih berduka. Suami baru meninggal dunia," komentar salah seorang sahabat. Selama ini beliau adalah satu dari sekian ratus Sahabat Tirik Yaluk yang sangat rajin berbagi dan diajak berdonasi.

"Ngga apa-apa mbak. Semoga Almarhum ditempatkan diantara orang-orang beriman dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran." 

Tapi besoknya, beliau mengirimkan WA sekalian bukti Transfer.

"Assalamu alaikum Pak, mohon maaf ternyata saya gak tega pada diri sendiri melihat saudara yg lain punya kesempatan berbagi, kenapa saya malah tidak ikut, tidak seberapa mohon maaf semoga membawa berkah, Aamiin."

Cerita ini terjadi hari ini. Ketika sahabat-sahabat Tirik Yaluk sepakat hendak berdonasi membelikan sebuah Motor Bekas layak pakai untuk membantu seorang sahabat (ibu-ibu) Muallaf yang sedang membutuhkan untuk mencari nafkah.

Ada lagi seorang Sahabat Tirik Yaluk yang merasa perlu meminta maaf, hanya karena baru bisa mampu berdonasi senilai 50 ribu. 

Saya tahu kondisi ekonomi sahahat Tirik Yaluk kita itu bukan berlebihan. Tapi semangat beliau dan sahabat yang lain untuk berbagi dan menolong sesama membuat saya kehabisan kata-kata.

Saya mendegar langsung dari Sahabat kita, Lae Jimy Lee, Ketua Muallaf Center Bogor. Masih banyak para Muallaf yang perlu bantuan dan uluran tangan Umat.

Seringkali para Muallaf, begitu memilih menerima panggilan Hidayah Allah SWT, maka dia terpaksa terusir atau diusir keluarganya. Datang ke Yayasan Muallaf. Tapi Yayasan Muallaf khususnya MCI (Muallaf Center Indonesia) pendanaannya juga terbatas. Cuma mengandalkan sumbangan dari para donatur tidak tetap.

Seringkali untuk biaya operasional dan keperluan menjaga akidah para muallaf, khususnya untuk biaya makan sehari-hari, para Pengurus menggunakan uang pribadi.

Padahal, di saat bersamaan, kita juga tahu begitu banyak Badan Pengelola Amal Zakat yang dananya melimpah.

Untuk Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), sekitar 9-10 triliun lebih. Saya tidak tahu apakah ini total nilai sekarang atau jumlah terkumpul di setiap tahun. 

Saya mencoba membuka Laporan Keuangan Baznas, bolak-balik saya klik file PDF-nya, tidak bisa terbuka. Mungkin karena faktor HP saya yang sudah jadul.


Dulu saya juga pernah menulis, keterkejutan saya akan besarnya dana yang mengendap di Rekening-rekening Masjid. Sebagai contoh di Masjid Raya Kota Langsa. Dananya bisa ratusan juta bahkan 1 M. Padahal Masjidnya bolak-balik direnovasi. Setiap bulan bisa masuk dana ratusan juta.

Berdasarkan data Dewan Masjid. Ada sekitar 800.000 Masjid dan Mushola yang terdaftar di Indonesia. 

Kalau saja rata-rata Masjid dan Mushola memiliki dana mengendap 200.000.000. Maka ada dana 160 triliun yang mengendap dari Masjid dan musholah di seluruh negeri ini. 

Kalau ditambah dana di Baznas, ditambah dana yang mengendap di pengelolaan haji, jumlahnya bisa 400-500 triliun. Bisa bikin Bank Umat. Kalau dikelola dengan benar, harusnya manfaat Pengelolaanya saja bisa mengentaskan kemiskinan Umat paling lama dalam 10 tahun.

Sayangnya, kita begitu bangga dan begitu terpesona dengan Jumlah ratusan sampai miliaran Tabungan Masjid, tapi menutup mata dengan Bapak Tua yang datang dan selalu rajin shalat sambil mengayuh becak tuanya. Kemiskinannya tidak membuatnya lupa beribadah. Tapi kita melupakan orang miskin tersebut dan sibuk menggemukkan Rekening Masjid!

Kita marah ketika mendengar isu Pemerintah akan "meminjam" dana Zakat atau ONH untuk membangun Jalan Tol, tapi kita tidak pernah menggugat dana tersebut sampai sejauh mana sudah digunakan untuk mensejahterakan Umat.

Saya sering mendengar para muallaf yang akhirnya kembali murtad karena merasa dibiarkan sendirian dan kesulitan mencari makan.

Ada Ustadz yang malah ngomong "Itu adalah ujian buat para muallaf agar teguh dalam iman".

Saya kadang berpikir "Jangan-jangan ujiannya bukan untuk para muallaf. Tapi justru ujian kepada umat. Sampai sejauh mana kita perduli dan melindungi saudara seiman".

Jadi PR kita masih sangat banyak. Termasuk seharusnya selalu kritis kepada para Ketua Ormas Islam yang bergaya hidup mewah. Yang rumahnya dijaga layaknya Pejabat Negara. Belasan mobil mewah terparkir di Rumahnya. Persis Pengusaha. Atau mereka memang berbisnis Agama?

Ayolah, ajaran Islam itu sudah sangat sempurna. Kalau benar-benar kita lakukan, seharusnya tidak ada lagi Umat yang hidup miskin di negeri ini.

(Azwar Siregar/fb)