Formula E & Politisi Model Tina Toon

Formula E & Politisi Model Tina Toon

By Wendra Setiawan*

Dunia saat ini sedang berusaha keras untuk mengembangkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan demi mengurangi polusi udara dan pemanasan global.

Energi listrik adalah harapan terbaik umat manusia saat ini untuk digunakan dalam berbagai keperluan, menggantikan energi fosil yang cadangannya semakin menipis.

Baterai adalah sarana penyimpanan sumber energi listrik yang mudah dibawa ke mana-mana.

Nikel, lithium, dan kobalt adalah bahan baku utama untuk membuat baterai.

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia. Hampir separuh cadangan nikel dunia ada di Indonesia.

Formula E adalah ajang balap mobil listrik. Balapan ini tidak hanya sekedar balapan. Formula E ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik.

Jika Formula E sukses, dan penyelenggaranya mampu membuktikan mobil listrik mampu melaju sekencang mobil konvensional, maka permintaan mobil listrik di masa depan akan semakin besar.

Permintaan mobil listrik meningkat, permintaan baterai pun meningkat. Permintaan baterai meningkat, permintaan nikel pun pasti juga meningkat.

Jika Formula E sukses, maka Indonesia akan mendapat dua keuntungan sekaligus.

Pertama, Indonesia akan dikenal sebagai salah satu negara yang peduli lingkungan hidup.

Kedua, permintaan nikel akan meningkat drastis.

Jika Indonesia mampu mengolah nikel dengan bijak dan benar, tidak kecolongan seperti dulu ketika Bu Mega mengobral gas dengan sangat murah ke RRC, atau seperti Soeharto yang melego gunung emas di Papua demi kepentingan politiknya, maka bisa dipastikan Indonesia akan panen besar 5 - 10 tahun ke depan.

Memang benar balapan Formula E tidak akan bikin rakyat kenyang. Apalagi buat orang yang isi otaknya cuma makan, makan, makan.

Tapi jelas efek Formula E akan membuat Indonesa kaya raya di masa depan.

Politikus yang dalam pikirannya cuma di seputaran perut ke bawah seperti Tina Toon ini jelas membuat kita khawatir. Politikus model begini lebih mudah tergoda untuk korupsi dan menggelembungkan dana reses.

Mereka ini seperti limbah.

(*sumber: fb penulis)