Taliban dan wartawan Cebong

Taliban dan wartawan Cebong

Suatu hari seorang anggota Taliban (T) diwawancara wartawan cebong (C)

C: Pace, kenapa setelah kelompok kalian mengambil kota Kabul banyak penduduk Afghanistan kabur melarikan diri ke bandara? Mereka terlihat ketakutan sekali. Bahkan tidak peduli wabah COVID

T: Itu sama seperti Amerika bikin pengumuman, bahwa akan ada pesawat angkut mampir ke ibukota negaramu, selama seminggu akan buka angkutan gratis ke Amerika. Siapapun bebas dan boleh ikut. Penumpang nanti akan dipertimbangkan diberi kewarganegaraan Amerika setelah setahun dilatih di kamp dekat New York. Divaksin gratis. Makan gratis setahun. Uang saku. Cukup belajar bahasa Inggris dan serius nyanyi lagu Amerika. Tidak ada syarat dokumen apapun untuk naik pesawat. Yang cuma sarungan pun boleh ikut. Kira-kira pelabuhan dan bandara di negaramu bakal penuh sesak gak?

C: Saya kira tidak demikian. Warga kami sangat cinta negaranya. Negara kami adalah yang terindah dari yang terindah. Tidak mungkin mereka tertarik ikut pengumuman Amerika

T: Kamu yakin? Sekarang saya tanya lagi, di negara kalian kalo di jalan ada lelaki berbaju putih buka kaca mobil dan melempar bingkisan kecil ke arah orang-orang. Apa yang terjadi?

C: Wah mereka pasti antusias sekali berebut hadiah itu

T: Kalo ada pengumuman dikasih bansos sembako 15 Dollar?

C: Sama juga, mereka pasti saling berebut dan berdesakan, ricuh, baku pukul pun bisa. Tidak peduli COVID

T: Nah, ini ada tawaran gratis ke Amerika loh. Trus berapa pendapatan rakyat negaramu saat pandemi ini?

C: Boncos, minus, banyak yang ngutang. (Dalam hati: Kok malah gw yang dia tanya-tanya ya)

T: Apalagi rakyat negara kami yang 20 tahun dikuasai rezim korup yang bahkan lebih korup dan lebih miskin dari Zimbabwe. Kalo ke Amerika, dari tunjangan tukang sampah pun bisa borong gunung di Afghanistan.

C: OK, sekarang saya paham mengapa banyak orang-orang antri di Bandara Kabul

T: Iya, itu Amerika sendiri yang goblok, bikin pengumuman ngawur.

(fb)