Presiden Negeri Baliho, Anies Baswedan Diuntungkan

Oleh: Ady Amar*

TAHUN 2024 masih jauh, tahun dimana Pemilihan Presiden (Pilpres) akan berlangsung. Lebih kurang 2,5 tahun lagi. Tapi geliat menuju 2024 sudah dimulai. Perang baliho tampak menghiasi kota-kota setidaknya di seluruh Jawa.

Tidak kurang wajah Pejabat Tinggi Negara, Ketua Partai Politik, dan Menteri yang juga menjabat sebagai ketua partai berlomba nampang pada baliho yang bertebaran dengan senyum sumringah, senyum mengembang. Tidak ketinggalan jargon kata-kata manis bahkan kata-kata mutiara diumbar, seperti layaknya penjual obat keliling.

Tidak terang-terangan memang, dalam pesan-pesan yang disampaikan, misal menyebut diri pantas menjadi RI-1. Hanya mencantumkan “2024”. Masih tahap penjajakan, dan tidak pantas jika belum-belum sudah mematok diri dengan “harga tinggi”. Terpenting nampang dulu, soal laku-tidak laku itu persoalan belakangan.

Tentu butuh modal tidak kecil menampilkan wajah dalam baliho-baliho di tempat-tempat strategis itu. Pastilah butuh modal besar. Apalagi jika harus memenuhi kewajiban bayar pajak iklan. Tidak persis tahu apa kewajiban yang demikian dipenuhinya.

Perang baliho biasanya diumbar saat hari-hari besar agama. Tapi saat ini bertebaran baliho sama sekali tidak dalam rangkah itu. Dipasang sekadar penjajakan menuju 2024, mengukur diri laku atau tidak dijual. Sekali lagi, yang penting menjajakan diri dulu. Soal-soal yang lain bisa diatur belakangan.

Perang baliho ini, setidaknya di satu sisi, menjadikan pengusaha periklanan sedikit terhibur. Ada sedikit geliat ekonomi di sana. Makin banyak baliho yang dipasang, makin menyenangkan buat mereka yang terlibat didalamnya. Tentu aspek positif yang didapat.

Mengenai efektivitas pemasangan wajah-wajah pada baliho itu seperti apa, tentu sudah dipikirkan betul oleh setidaknya partai bersangkutan. Pastinya positif yang didapat, jika tidak dihitung demikian, mustahil wajah-wajah itu ditampilkan dalam baliho-baliho besar.

Puan Juara Pertama

Dari perjalanan tiga pekan lalu, Surabaya-Banyuwangi, baliho wajah Puan Maharani tampak dominan di setiap kota yang dilalui. Tidak cuma satu baliho besar pada satu kota wajah Puan tampil. Tampak wajah Puan dengan kerudung menghias wajah bulat bak rembulan, tapi ada juga yang dengan memakai masker, dan tidak ketinggalan anjuran untuk taat prokes.

Tidak bisa diperbandingkan banyaknya baliho Puan dengan tokoh-tokoh lainnya. Ada wajah Prabowo dengan memakai kendaraan Partai Gerindra, yang dipimpinnya. Meski tetap saja tidak dapat menandingi banyaknya wajah Mbak Puan.

Ada juga wajah Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menko Perekonomian, nyembul di beberapa titik. Tidak menonjol memang, tapi setidaknya cukup tampil di sana-sini. Tidak ketinggalan wajah Cak Imin/Gus Imin, Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB yang juga Wakil Ketua DPR RI. Dengan senyum lebar mengembang, ia tampak optimisme menjajakan diri.

Ada juga wajah ganteng Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Partai Demokrat yang juga bisa ditemui, meski jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari tangan kanan sepanjang perjalanan menuju kota paling Timur di Jawa Timur.

Para penjaja wajah pada baliho itu pun berpikir sama, buatnya ada di posisi RI-1 atau RI-2, tidaklah jadi masalah. Itu bagian dari ikhtiarnya, meski tidak pantas jika itu dikatakan peruntungan nasib. Terpenting sosialisasi wajah untuk lebih dikenal seolah menjadi keharusan. Jika tidak dikenal, mustahil bisa dipilih. Bekal dikenal itu diharap bisa menghipnotis pemilih.

Terkecuali tentu Prabowo yang jelas-jelas mengincar RI-1, dan itu pantas buatnya. Perjuangan panjangnya diharapkan di tahun 2024 menemukan hasil. Dan selentingan kabar yang muncul, bahwa Prabowo akan disandingkan dengan Puan Maharani, sebagai RI-2.

Maka tugas Puan dengan PDIP adalah menaikkan elektabilitasnya agar keluar dari nol koma. Maka sosialisasi baliho adalah langkah yang ditempuhnya. Di tengah masa pandemi Covid-19, mustahil ia bisa turun kebawah langsung menemui masyarakat, maka baliho dipilih sebagai alat menyapa masyarakat.

Puan memang terlambat mensosialisasikan diri, mengenalkan diri dengan menampakkan ia pantas menjadi pimpinan nasional. Meski Puan bukanlah orang yang tidak dikenal, ia cukup dikenal dengan baik, setidaknya ia saat ini sebagai Ketua DPR RI, mantan Menteri, anak Megawati Sukarnoputri dan tentu cucu Ir. Soekarno.

Kelebihan-kelebihan herediter khususnya, yang dipunya Puan, itu mestinya mampu mengerek elektabilitasnya. Puan dan timnya lengah mengelolah kelebihan-kelebihan yang dipunya. Dan itu dimanfaatkan oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang kader PDI-P, secara diam-diam dan nggeremet seperti kura-kura mengerek namanya meraih elektabilitas tinggi. Ini kerja panjang seorang Ganjar, yang baru disadari partainya, dan lalu tergagap ingin menghentikannya.

Anies Baswedan Diuntungkan

Perang baliho ini tampaknya akan terus jadi pilihan. Dianggap efektif, dan lewat baliho itu pesan-pesan politik disampaikan. Besar nominal yang dikeluarkan, pastilah itu hal yang sudah diperhitungkan.

Bagaimana dengan Anies Baswedan, yang hanyalah seorang Gubernur Jakarta, ia mustahil akan juga ikut-ikutan dengan mereka yang “tebar pesona” lewat sebaran baliho se-nusantara. Secara etika tidak mungkin itu ditiru. Disamping itu Anies memang anti wajahnya ditampilkan pada baliho, meski itu di wilayah Jakarta. Jadi sulit bisa melihat wajahnya terpampang di jalan-jalan ibu kota.

Anies asyik dengan pekerjaan-pekerjaan yang dihadapinya, tanpa tergiur masuk pada wilayah tidak semestinya. Apalagi di masa pandemi ini, Anies suntuk menghadapi itu dengan kerja serius. Hasilnya pun bisa dilihat. Ditambah lagi dengan tidak berpartai, sehingga mustahil bisa mendanai pemasangan baliho yang butuh modal tidak kecil.

Jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur akan berakhir di tahun 2022. Setelah itu, jika ia akan maju sebagai Calon Presiden (Capres), dan tentu jika elektabilitasnya tetap tinggi, maka ia akan dipinang bahkan beberapa partai politik.

Maka, setelah itu, bisa jadi tebaran wajah Anies pada saatnya akan juga menghiasi baliho-baliho di seluruh negeri. Semua memang akan hadir pada waktunya…

Bagi Anies belum saat sekarang, tapi tidak pada lainnya, yang sudah jauh-jauh hari menebar wajah-wajah sumringah pada baliho-baliho yang bertebaran. (Hidayatullah)