NASIB PARA PENGKHIANAT

NASIB PARA PENGKHIANAT

Oleh: Azwar Siregar

Saya kalau mau dituduh Simpatisan Taliban, ya silahkan. Tapi yang jelas saya tidak ada kenal satupun orang disana. 

Dalam banyak hal, saya yakin sangat banyak berbeda dengan mereka. Misalnya saya doyan Nasi sedangkan Taliban makan Naan (Sejenis Roti).

Orang Taliban juga ganteng-ganteng, kulit cerah, tinggi, berbulu dan hidung mancung. Saya? Ya kebalikannya.

Dalam beragama saya yakin juga cukup jauh berbeda. Walaupun sama-sama Muslim dan sama-sama Sunni.

Taliban kemungkinan benar-benar beragama berdasarkan sumber hukum Al-Quran dan Hadist. Sedangkan saya selain itu, masih mengakomodir kebudayaan Pra Islam.

Maaf, saya tidak akan menyebut kebudayaan Nusantara. Karena Kebudayaan Nusantara yang banyak diklaim para Islamphobia sebenarnya adalah kebudayaan pra-Islam, misalnya kebudayaan Hindu (India) dan kebudayaan Budha (China). 

Kalau kebudayaan asli Nusantara, ya kemungkinan masih bertelanjang. Berarti jaman Purba atau jaman Prasejarah. 

Jadi kalau ada yang menuduh saya simpatisan Taliban, sebenarnya sangat membingungkan. Karena memang tidak berdasar.

Jadi satu-satunya ikatan saya dengan Taliban ya hanya kesamaan Iman. Islam memang bersaudara. Taliban muslim dan saya muslim. Jadi kami saudara seiman. 

Kalau mau ditambahi, saya memang Taliban versi Lokal (Santri, karena saya orang Pesantren). Karena Taliban artinya Pelajar Sekolah Agama. Sedangkan Taliban bisa saja disebut Santri ala Afganistan.

Nah, sekarang yang menggelitik adalah, kenapa Kemenangan Taliban membuat ribuan Warga Afganistan memadati Bandara Kabul. Hendak kabur melarikan diri ke Luar Negeri.

Bagian ini kemudian digoreng oleh media sekuler dan Kelompok "You Know Who" di Negeri ini.

Padahal, sejarah Negeri kita juga pernah lo mengalaminya.

Ngga percaya?

Sebelum tahun 1945, Negara kita juga dijajah Asing. Spanyol, Portugis, Belanda, Prancis,  dan Jepang. Emang sih rata-rata Negara Penjajah itu Eropa. Bahkan sampai sekarang. Bahkan yang sekarang juga dialami oleh Afganistan.

Paling lama kita dijajah oleh Belanda. 

Nah, ketika Belanda kalah Perang dan pulang ke Negerinya, warga Pribumi yang selama ini membantu Penjajah Belanda juga ikutan minta minggat ke Belanda. Misalnya Tentara KNIL dan keluarganya. Mata-mata Belanda. Pejabat dan semua orang yang dimasa Pendudukan Belanda menikmati hidup mewah.

Tentu saja dengan pulangnya Penjajah Belanda, kaki tangan Penjajah itu juga ketakutan. Karena selama ini mereka sadar sudah mengkhianati bangsanya sendiri.

Saya pikir, hal sama yang sekarang yang terjadi di Afganistan. Sayangnya, saya baca di Media, misalnya Pemerintah Jerman lebih memilih untuk menyelamatkan ribuan botol bir dan miras lainnya dari Afganistan ketimbang bekas mata-mata dan kaki tangan mereka.

Oh, iya. Kabarnya Ribuan yang memadati Bandara Kabul yang hendak kabur itu, selama dimasa Pendudukan Amerika di Medsosnya paling senang dan sering unggah foto Profil Bendera Afganistan. Kalau Demo juga selalu teriak-teriak "Afganistan Harga Mati".

Jadi ingat kumpulan kecoak yang sama di Negeri Wakanda !!!

(fb)