Kepak Sayap Muhammadiyah, Buka Kampus di Malaysia

(Catatan Among Kurnia Ebo)

MUKTAMAR MUHAMMADIYAH di Solo memang tertunda kena efek plandemik yang panjang. Tapi bukan berarti Muhammadiyah berhenti dalam amal usaha dan beribadah. Semua tetap jalan seperti biasanya. Tetap berbuat kebaikan demi kemaslahatan bagi umat manusia.

Kabar gembira yang patut disyukuri warga Muhammadiyah adalah terbitnya ijin dari jawatan berwenang bahwa Universitas Muhammadiyah Malaysia secara resmi sudah berdiri dan beroperasi. Bukan cuma progam sarjana, tapi langsung gazzzzzz buka program master dan  doktoral.

Ini adalah kampus pertama Muhammadiyah di luar negeri. Sebelum ini sudah dirintis pengembangan sekolah Muhammadiyah di Melbourne Australia yang rencananya akan berdiri di atas lahan tujuh hektar. Banyak kader Muhammadiyah yang tinggal di kota ternyaman di dunia ini. Saya pernah dijamu oleh senior IMM saat ke Melbourne dulu, mas Hamim Jufri makan, minum, mandi, menginap di rumahnya yang satu blok rumah Prof. Arief Budiman. Lalu diajak ikut pengajian di Mushola SURAU di dekat rumah makan Padang kampus Melbourne University dan ketemu teman-teman mahasiswa Indonesia di sana.

Meski bukan Muhammadiyah yang lurus-lurus amat dan bukan yang mengabdikan total hidup untuk Muhammadiyah kecuali mampir sebentar di IRM dan IMM, tapi rasa bangga terhadap organisasi Islam tertua di Indonesia yang tetap eksis hingga hari ini, semakin besar saja rasanya.

Sebuah rasa kebanggaan yang mungkin tak bisa dirasakan oleh orang yang tidak lahir dari rahim keluarga Muamadiyah. Bahkan, sering Gus Muwafiq berseloroh kalau pas ketemu: kamu itu bahkan sudah ada cap muhammadiyahnya ketika belum lahir jadi manusia!

Ini adalah semacam kado hadiah atas Milad Muhammadiyah dan Muktamar Muhamadiyah Solo yang tertunda akibat kopit tahun kemaren.

Ini berarti menyusul pendirian lembaga pendidikan Muhamadiyah di Ostralia yang beberapa tahun kemaren juga sudah dirintis. Sudah punya lahannya yang cukup luas. Di lahan hampir sepuluh hektar.

Semoga kedua-duanya semakin mengeksiskan Muhammadiyah sebagai persyarikatan yang terus mengepakkan sayap dakwahnya di mana-mana, di belahan bumi mana pun. Untuk tujuan terus memperbanyak upaya mencerdaskan kehidupan anak manusia. 

Sebagai anak Muhammadiyah dan anak bangsa, saya ikut bangga dengan pencapaian itu semua. Semoga negara juga ikut bangga, meski pemerintahnya belum tentu. 

Semoga menjadi amal jariyah tak berhingga bagi Kiai Ahmad Dahlan yang merintis Muhammadiyah dari langgar kecilnya, yang penuh tetesan air mata dan resistensi yang luar biasa dari lingkungannya.

Selamat untuk Universitas Muhammadiyah Malaysia...

Jangan lupa Ipin Upin diajak mengibarkan bendera sang surya di seantero negeri jiran Malaysia. (*)