Hijrah Merupakan Bukti bahwa Rasulullah SAW Tidak Bergantung kepada Mukjizat

Hijrah dan Sunnatullah

Oleh: Ustadz Yendri Junaidir (Al-Azhar University)

Kalau ada orang yang berhak bersandar kepada mukjizat untuk meraih suatu keberhasilan maka orang itu adalah Rasulullah Saw. Bagaimana tidak? Bukankah ia seorang Nabi dan Rasul? Bukankah ia membawa misi dari Tuhan? Apalagi ia berada dalam kondisi yang lemah, tertindas dan tidak banyak pengikut. Tapi apakah beliau hanya berharap kepada mukjizat dari Tuhan yang telah mengutusnya? Apakah beliau menanti berbagai keajaiban terjadi?

Peristiwa hijrah merupakan bukti kuat bahwa Rasulullah Saw tidak bergantung kepada mukjizat. Segala usaha manusiawi beliau optimalkan :

- Menjaga kerahasiaan hijrah. Yang tahu hanyalah Abu Bakar dan keluarganya.

- Meminta Ali bin Abi Thalib tidur di kamarnya untuk mengelabui orang-orang Quraisy.

- Menyewa seorang guide yang berpengalaman untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Yang jadi acuan dalam hal ini adalah skill dan kompetensi. Tidak masalah meskipun ia seorang musyrik.

- Membeli unta yang sehat dan kuat untuk dijadikan tunggangan menuju Madinah. Ketika Abu Bakar ingin membayarkannya, Nabi menolak. Beliau yang membayarnya dari uang pribadi. Yah, perjuangan memang butuh pengorbanan. Tak boleh menjadi beban bagi orang lain.

- Memilih arah selatan (Yaman) yang tidak biasa ditempuh orang-orang yang ingin ke Yatsrib (Madinah). 

- Menugaskan Abdullah putera Abu Bakar untuk selalu memantau situasi dan menyampaikan semua informasi kepada Rasulullah Saw dan ayahnya Abu Bakar.

- Untuk menghapus jejak kaki Abdullah yang datang ke tempat persembunyian Rasulullah Saw dan Abu Bakar, ditugaskanlah Amir bin Fuhairah untuk menggembala kambing di daerah yang dilalui oleh Abdullah.

Bukankah ini strategi yang luar biasa dan perencanaan yang sangat matang?

Meskipun demikian, Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra hampir saja ditemukan oleh orang-orang yang terus berusaha mencari keduanya. Di sinilah datang ‘intervensi’ langit. Setelah semua daya dan upaya dimaksimalkan. Setelah semua usaha manusiawi dioptimalkan. 

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (التوبة : 40)

“Jika kamu tidak menolongnya, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah) yaitu dua orang ; ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu ia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan memabntunya dengan bala-tentara yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan kalimat orang kafir itu rendah, dan kalimat Allah yang tinggi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Bahkan seorang pemburu ulung dari suku Mudlij bernama Suraqah, yang begitu bersemangat mengejar keduanya karena tergiur dengan hadiah yang disiapkan pemuka-pemuka Quraisy. Suraqah berhasil menemukan keduanya. Tapi ketika seluruh usaha manusiawi sudah dikerahkan, dan yang tersisa hanyalah tawakkal, maka bantuan Allah Swt datang dalam bentuk yang tidak diduga-duga. Kuda yang ditunggangi Suraqah terperosok. Ia bangkit dan mencoba lagi, tapi tetap tidak berhasil. Suraqah baru sadar bahwa sosok yang dikejarnya dilindungi.

Akhirnya Suraqah pulang ke Mekah. Setiap bertemu dengan orang yang ingin mencari Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra, ia berkata, “Berbaliklah. Dari arah sini tidak ada.” Dan mereka pun berbalik karena percaya dengan ucapan Suraqah. Suraqah berubah dalam sesaat ; dari pengejar menjadi penjaga, dari lawan menjadi kawan.

☆☆☆

Keliru kalau terlalu mengandalkan usaha manusiawi. Seolah-olah semua akan berhasil dengan keterampilan yang dimiliki dan usaha yang dikerahkan.

Keliru juga menanti keajaiban dari langit. Seolah semua bisa berubah sekejap mata begitu saja. Tanpa disadari, mental seperti ini menghinggapi sebagian orang yang menunggu kedatangan Imam Mahdi dengan segala kemampuan luar biasa yang dimilikinya.

Kita perlu mengkaji lebih dalam peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw agar kita memahami bagaimana menyeimbangkan antara al-akhdzu bil asbab dengan at-tawakkul al-haq.

رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا      

[YJ]