Antara Prank Keluarga Akidi Tio dan Kontribusi Umat Islam

ANTARA PRANK KELUARGA AKIDI TIO DAN KONSTRIBUSI UMAT ISLAM 
Oleh: Gus Sirot*

Prank soal bantuan 2 trilyun dari Akidi Tio menjadi viral dan menghiasi media Nasional dalam beberapa hari ini. 

Sekelas Ade Armando sempat mengelu elukan "bantuan" 2 Trliyun dari pengusaha WNI keturunan tersebut. Parahnya, Armando membandingkan dengan konstribusi umat Islam yang dianggap nol, bahkan Ade berani menghina Muslim pribumi. Padahal "bantuan" tersebut hanya prank yang menyebabkan anaknya Akidi Tio ditangkap polisi. 

Ade Armando buta sejarah. Mungkin waktu sekolah nilai pelajaran sejarahnya merah. Padahal jika Arnando mau jujur dan membuka sedikit matanya terhadap jejak rekam sejarah, dia akan menemukan fakta betapa terlalu besar konstribusi umat Islam untuk Indonesia, baik sebelum, saat dan setelah kemerdekaan. 

Saat kemerdekaan, dimana Indonesia membutuhkan dana besar untuk pembangunan, kerajaan Islam Siak dengan suka rela tanpa gembar gembor membantu Indonesia sebesar 13 Juta Gulden atau setara  1.074 Trilyun. Belum lagi berapa besar konstribusi atas kerelaan Kerajaan-Kerajaan Islam se Nusantara melebur diri, bergabung menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia kemudian menjadi penyokong utama pembangunan. 

Konstribusi Umat Islam dibidang pendidikan dan kesehatan tak kalah besarnya, bisa mencapai Ribuan Trilyun. 

Kementerian Agama mencatat, ada 47.221 Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Mereka bergerak secara mandiri tanpa bergantung pembiayaan dari pemerintah, mulai pembebasan tanah, pembangunan dan operasional Pendidikan. Jika kita konversi ke rupiah, nilainya bisa mencapai ratusan trilyun. 

Jika kita sederhanakan, setiap Lembaga pendidikan Islam menelan biaya 5 Milyar saja dikalikan 47.221 maka nilainya mencapai 412 Trilyun. 

Belum lagi Konstribusi Pesantren di Indonesia yang berjumlah 26.973. Jika dikonversi ke rupiah, dengan nilai asset pesantren rata-rata 20 Milyar saja, maka konstribusi Pesantren mencapai 540 Trilyun. Sementara jumlah Rumah Sakit Islam di Indonesia yang masuk anggota MUKISI saja mencapai 500 rumah sakit. Jika nilai asset setiap Rumah sakit 200 milyar maka konstribusi Rumah Sakit Islam untuk Indonesia sebesar 100 Trilyun. 

Itu baru konstribusi Lembaga Pendidikan Islam, Pesantren dan Rumah Sakit Islam, belum konstribusi Dana Zakat, Infaq dan wakaf umat Islam yang di distribusikan untuk fakir miskin yang pemerintah sendiri tidak mampu menanggungnya, tentu jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai puluhan ribu trilyun rupiah. 

Fakta sejarah ini, mestinya bisa membuka mata mereka yang selama ini nyinyir dan meragukan peran Umat Islam Indonesia. Umat Islam, pemilik sah Republik, karena peran mereka tak bisa dipisah dari perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

*Penulis adalah Ketua DPW Partai Gelora Jatim