Sri Bintang: RACHMA ANAK SOEKARNO, Samasekali Lain Dari Kakaknya

RACHMA ANAK SOEKARNO: Samasekali Lain Dari Kakaknya

Oleh: Sri Bintang Pamungkas

Aku mengenal Kakaknya Rachma, Mega, jauh lebih dulu daripada mengenal Rachma. Ketika aku menjadi anggota DPR dari PPP pada 1992, Mega sudah lebih dulu beberapa periode... mewakili PDI Soeryadi. Aku tahu Mega karena dia anak Soekarno, sedang Mega tahu saya dari suara dan tulisan-tulisanku yang menentang Soeharto. Karena Guntur, sewaktu di ITB, berada setahun di atasku, aku menduga Mega lebih muda setahun-dua tahun dariku.

Kalau kami berpapasan di Gedung DPR itu, kami saling bersapa, berhenti sebentar untuk bersalaman, lalu pipinya mendarat di pipiku. Awalnya mukaku merah-padam, karena sadar aku dari PPP. Tapi lama-lama terbiasa... toh aku juga bukan kader PPP.

Mei 1996, sesudah turun vonis 34 bulan untukku karena dituduh menghina Soeharto, aku bersama teman-teman seperjuangan mendeklarasikan Partai Uni Demokrasi Indonesia. Aku bersama the Three Musketeers itu membikin PUDI sebagai kendaraan politik melawan Soeharto. Perlawanan semakin menggelegar ke seantero negeri dengan munculnya Partai Politik ke Empat itu...

Menjelang 27 Juli 1996, Mega sudah dinobatkan sebagai Calon Presiden di Kongres PDI di Semarang, dibuatlah Panggung untuk Orasi oleh tokoh2 pendukung Mega di Markasnya di jalan Diponegoro. Beberapa kali aku diminta pula untuk berorasi, sampai pada tanggal mana Panggung itu dihancurkan, Markas diobrak-abrik dan belasan Garda PDI konon terbunuh oleh tentara bayaran. Sutiyoso, SBY dan beberapa jenderal lain, serta tentunya Soeharto sendiri, bertanggungjawab atas peristiwa berdarah itu.

Dalam seluruh Pemilu Orde Baru, PDI dan PPP memang hanya diberi jatah kursi tidak lebih dari 100. Yang selain itu adalah untuk Golkar. Maka adalah wajar kalau PDI dan PPP memendam "dendam" terhadap Soeharto. Yang aku tidak mengerti, kenapa Mega menjadi "Pro- Komunis" hanya karena Soeharto "Anti PKI".

Aku mencatat, karena Mega membangun Poros Jakarta-Beijing-Moskwa-Pyongyang, maka AS pada akhirnya "menunjuk" SBY menggantikan Mega. Karena itu dendam Mega berubah menjadi Pendukung Nasakom yang fanatik dan radikal...

Lain dengan Rachma... Dia menunaikan Ibadah Haji dan bangga menjsdi Hajah, seperti Ayahnya, Haji Ir. Soekarno. Rachma bangga berkerudung dan berhijab. Tentang Kakaknya itu Rachma pernah bilang sumber kekacauan negeri ini karena Mega membikin bangkitnya kembali PKI...

Awalnya aku bersama beberapa tokoh Partai Pelopor bikinan Rachma melakukan berbagai unjukrasa terhadap kebijakan SBY lalu Jokowi... Dari kebersamaan itu aku mulai tertarik dengan sosok Rachma. Dia jelas mewarisi ketokohan Soekarno sebagai salahsatu Founding Fathers dan sekaligus Pahlawan Kemerdekaan. Dia mewakili sisi lain dari Soekarno yang non-Komunis.

Rachma menyesali amandemen terhadap UUD-45, dan selalu mengumpat Kakaknya karena Mega pulalah dari pihak Exekutif yang mendukung dan ikut mengesahkan UUD Palsu itu. Setiapkali Rachma berpidato tidak lupa dia mempersoalkan kembali betlakunya UUD-45 Asli, karya besar Soekarno-Hatta itulah yang melahirkan Republik Indonesia. Setiap kali itu pula Rachma tersedu, terisak dan mencucurkan air mata.

Rachma pun menolak Jokowi dari sejak awal. Ketika mendapatkan Dokumen tentang korupsi Jokowi di Solo, dan Dokumen kekayaan Jokowi dan Jusuf Kalla yang tersimpan di beberapa bank di luar negeri, Rachma pun mengajak saya untuk melaporkan itu ke DPR untuk mencegah Jokowi dilantik. Lalu juga melaporkan ke KPK. Tapi kedua lembaga itu tidak bergeming.

Sebelum itu, ketika terdengar berita Mega ke AS membawa Proposal Referendum Papua "bikinan Jokowi", Rachma pun mendukung peristiwa itu untuk dilakonkan dalam sebuah drama. Drama itu berakhir dengan tersingkirnya Prabowo di Mahkamah Konstitusi, dan dukungan AS dalam pelantikan Jokowi pada 20 Oktober 2014.

Rachma pun mengundang saya bersama beberapa jenderal Purnawirawan untuk berdiskusi di Universitas Bung Karno. Rachma mempersoalkan bagaimana caranya kembali ke UUD-45. Salahsatu jawaban adalah dari aku. Saya bilang, kita harus memakai cara Pak Harto menyingkirkan Soekarno. "... Datangi DPR, minta MPR bersidang Istimewa untuk memberlakukan kembali UUD-45, dan membentuk Pemerintah Transisi...". Beberapa jenderal yang hadir tidak setuju. Mereka bilang belum waktunya. Pertemuan ditunda.

Tanggal 30 November diskusi dilanjutkan. Saat Rachma menanyakan, bagaimana caranya, aku menjawab tegas: "Tulis surat kepada DPR dan MPR... Minta Gelar Sidang Istimewa MPR!". 

Rachma pun bilang hari itu, bahwa dia sudah bertemu Habib Shihab. Habib akan berhenti sampai di Hotel Indonesia, kata Rachma... tapi Rachma akan melanjutkan Long March-nya sampai ke DPR/MPR. 

Esok harinya, Rachma mengumumkan rencana 2 Desember itu di Hotel Sari Pasifik. Rencana itu gagal, karena pagi pasca Subuh itu Rachma ditangkap polisi. Demikian pula aku dan mantan Kepala Staf Kostrad Kivlan Zen, Ahmad Dani, Ratna Sarumpaet dan lain2. Kami dituduh Kapolri Tito Karnavian melakukan Makar... 

Hampir 24 jam kami ditangkap untuk dilepas kembali, kecuali aku. Hampir 4 bulan aku ditahan. Aku bungkam, karena Penyidik sendiri mengaku tidak tahu kenapa aku ditangkap. Rachma dipanggil sebagai Saksi Mahkota untukku. Aku tidak tahu persis apa yang disampaikannya, tapi aku bilang aku akan menolak menjadi Saksi untuk siapa pun Tersangka!

Kini Rachma sudah tiada... Sayang, dia terpengaruh Prabowo dengan masuk Gerindra, yang dengan UUD Palsunya ingin berebut dalam Pilpres 2019. Tetapi saya juga mendengar kesedihannya yang amat mendalam atas hilangnya 53 marinir Kapal Selam Nanggala tanpa reaksi apa pun dari Negara dan Jokowi, khususnya Menteri Pertahanan... bahkan tanpa Bendera Setengah Tiang.... Dengan terbata-bata diulanginya lagi Pembukaan UUD-45: "...melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah...".

Semoga Allah Swt mengampuni segala kesalahan Rachma! Selamat jalan Pejuang!

Jakarta, Hari Dekrit Soekarno Kembali ke UUD-45

@SBP