SEDEKAH, Keindahan Ajaran Islam

[PORTAL-ISLAM.ID]  Sedekah adalah tabungan yang tidak bisa dicuri oleh siapapun, tabungan yang tidak terkena inflasi dan tidak terpengaruhi oleh fluktuasi. Sedekah adalah investasi yang pasti akan membawa keuntungan. 

Suatu ketika Sahabat  Agung Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau kamu mau menyimpan hartamu di tempat yang tidak bisa diraih oleh pencuri ataupun rayap, maka simpanlah dalam bentuk sedekah”.

Imam Sofyan Al Saury selalu gembira apabila bertemu orang miskin atau orang membutuhkan bantuan, beliau berkata, “Selamat datang orang yang akan meleburkan dosa-dosaku…”.

Imam Fudhail bin Iyadh juga berkata, “Orang miskin yang kita santuni itu membawa bekal kita tanpa meminta ongkos, sampai akhirnya bekal itu diletakkan di atas timbangan di sisi Allah…”.

Imam Laits bin Saad, memiliki lahan pertanian dan perkebunan sejauh mata memandang, tapi tidak pernah membayar zakat! Karena sebelum masuk waktu zakat, hartanya sudah habis dibagikan kepada masyarakat. 

Ketika musim haji, banyak orang Mesir berhaji ke Mekkah, Imam Malik sering menitip satu piring kurma ajwa kepada sahabatnya Imam Laits di Mesir, Imam Laits pasti membalasnya satu piring yang sama, namun isinya bukan kurma, tapi kepingan emas!

Ketika Allah menitipkan banyak kelebihan harta, sebenarnya itu bukan kelebihan, tetapi hak orang yang dititipkan untuk disampaikan, dan ongkos manyampaikan itu adalah rahmat Allah, ampunan Allah dan Surga. Namun, ada yang mengira itu miliknya semua, padahal hanya titipan.

Begitulah mereka memahami makna sedekah....

Ingatlah Keppres yang selalu dikeluarkan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz setiap tahun, “Tebarkan biji gandum di atas gunung, supaya tidak ada yang mengatakan bahwa burung-burung kelaparan di Negeri Muslim!”. 

Sebegitunya, beliau bertanggungjawab atas amanah menjadi pemimpin, tidak hanya memikirkan perut rakyat, tapi sampai perut burung-burung yang beterbangan di gunung juga dipikirkan. 

Persis seperti kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang menangis semalaman tidak bisa tidur saat dilantik menjadi Khalifah, karena takut tidak bisa bertanggung jawab kalau sampai ada kambing kelaparan di ujung negeri! Nggak gemen-gemen, ujung negerinya bukan di ujung Mekkah atau Madinah, tapi di perbatasan Irak dengan Iran!

Khususnya dalam kondisi seperti saat ini, pasti saling berbagi sangat diperlukan...

(Ust. Saief Alemdar)