KERETA API CEPAT YANG BIKIN TERCEKAT

Ditengah pandemi, ditengah terseok seoknya ekonomi,... Rezim Jokowi yang awalnya berjanji akan stop utang, kembali mencari pinjaman atau utangan untuk biaya operasioanal Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung.

Ini menambah panjang daftar hutang negara, yang entah kegunaanya untuk siapa.

Semua tahu, biaya pembangunan proyek KAC ini, dapat utang dari China, bahkan tenaga kerjanya pun banyak dari China. 

Dan sekarang, tambah utangan buat nanti biaya operasioanal (kalau kereta udah jalan) KAC tersebut, masih dari China.

Silahkan fikirkan, berapa puluh tahun utangnya bisa lunas, kapan bisa BEP, kapan bisa mandiri dan siapa yang menikmati keuntungan dari proyek tersebut...

Rakyat dan Bangsa Indonesia dapat avaaahh....?

"Jadi akang gak suka melihat negara ini maju? Punya layanan transfortasi super cepat seperti negara lain??"

Begitu seorang teman berfikir saat kami terlibat obrolan santuy.

Begini,
Semua orang pasti senang dengan suatu kemajuan. 
Namun harus dilihat tingkat urgensinya.

Toh, jalur kereta Api Bandung - Jakarta dengan jarak tempuh 3 jam sekarang masih efektif, masih nyaman dengan layanan Argo Parahyangan-nya. 

Toh masih ada Tol membentang yang menghubungkan Jakarta - Bandung.

Toh masih ada penerbangan pesawat Jakarta - Bandung.

Jadi, kalau dinilai dari segi urgensi transportasi, kayaknya itu hanya ilusi dan alibi.

Karena sampai saat ini, route Jakarta - Bandung masih relative mudah untuk dijangkau.

Kalau untuk memperlancar transportasi Pelaku Bisbis?

Pelaku bisnis yang mana?? 

UMKM...? Bisnis rakyat kecil?

Nggak mungkinlah, dengan tarif KAC yg konon katanya sekitar 600ribuan, rakyat kecil dengan bisnis kecil, pasti lebih memilih pake travel seharga 100rb, Bus 60rb, atau pake kendaraan sendiri, sambil maen bareng keluarga.

Kecuali para pebisnis besar, komunitas eksklusif yang ingin ada fasilitas transportasi langsung dan cepat dari area mereka tinggal....

Misal dari Meikarta ke Sumarekon Bandung...
Ini misalnya lhooo... misalnyaaa... 😃 😃  

Jadi rakyat kebanyakan bagaimana???

Rakyat tetap bahagia ketika masih bisa jalan jalan pake mobil bak terbuka...

Rakyat tetap tertawa saat elf penuh dan kebagian duduk di atap kendaraan.

Rakyat miskin yang nantinya dipungutin pajak ini itu, untuk bayar utang proyek KAC yg mungkin tidak akan pernah mereka naiki.

Saya Pribadi sih, tetap yakin, proyek Kereta Api Cepat untuk saat ini belum tepat. Malah bikin tercekat. Terjerat.

"Koq kang kayak gak suka banget sama China, TKA China...?" 
Teman yg lain pernah berfikir seperti itu.

Idddihh, mana mungkin saya benci sama China, sementara didalam badan saya ada mengalir darah Chinanya.

Begini,
Soal TKA China,
Dari jaman rezim rezim pemerintahan yg dulu, yang namanya TKA itu ada. Mau dari China, Africa,  atau negara manapun, boleh masuk Indonesia, dan bekerja di Indonesia. Sebagai tenaga Ekspatriat / expatriate.

Biasanya dengan level tinggi dan keilmuan yang diharapkan bisa diajarkan kepada masyarakat Indonesia. Agar orang Indonesia tambah pinter, bisa menimba ilmu dari mereka.

Begitupun sebaliknya, banyak orang Indonesia yg pinter dan kompetensinya bagus, jadi expat di luar negeri.

Jadi hal itu wajar.

Yang tidak wajar adalah, ketika gelombang TKA China masuk ke Indonesia dengan bidang kemampuan yang orang Indonesia saja mampu. 

Bahkan bisa lebih baik.

Jadi apa yg mau diajarkan atau ditukarkan?

Operator alat berat?
Sopir?
Pekerja atau buruh tambang? 
Petani?

"Tapi kang, Kan banyak juga orang Indonesia yang jadi TKI atau TKW, bukan expat, mereka bisa kerja diluar negeri "...

Owh.... Betul ituu...

Cuma sini saya jelaskan, biar ada gambaran yang jelas.

Di Jazirah Arab, banyak orang Indonesia yang jadi TKI atau TKW, hampir sebagian besar jadi sopir, ART/house keeper.

Karena warga Arab gak ada yg mau jadi ART.

Kalau ada warga Arab yang mau jadi ART, pasti mereka yang didahulukan. Gak mungkin orang Indonesia masuk kesana.

Kalau ada orang Arab yg mau jadi Sopir, gak mungkin orang Indonesia kesana mengisi posisi itu.

Dan, maaf, biasanya kalau bukan tenaga expat, maka biasanya upah yg dibayarkan terhadap TKI dengan tenaga kerja lokal, akan lebih besar dengan tenaga lokal (pribumi).

Naahh,...

Di Indonesia kebalikan...

Masih Banyak orang Indonesia yg mau jadi buruh tambang, eh dikasih ke WNA china. Dan kalaupun mereka kerja ditempat yg  sama, eh malah TKA china yg upahnya lebih besar dan fasilitas yg lebih baik.

Masih Banyak orang Indonesia yg masih mau jadi sopir, operator alat berat, buruh kasar... eh malah dikasih duluan ke WNA China.

Kalau orang Indonesia dan WNA china kerja di proyek yang sama, maka WNA upahnya lebih besar...
Jadi jelaslah soal TKA, TKI atau TKW...

Gak ada itu istilah benci China, Arab, Africa atau etnis manapun. 

Yang Saya benci adalah ketidakadilan, perbedaan perlakuan dan kebohongan...

Paham?

(Danke Soe Priatna)