HAHAHA... Saya Bukan Buzzer Seperti Abu Janda

Saya tautkan salah satu komentar menarik terhadap status saya (gbr atas). Dia unfollow saya karena menurutnya status-status saya melemahkan imun. Selain itu, daripada menulis panjang-panjang, lebih baik, katanya, saya kontak langsung Jokowi: datang ke Istana, DM medsosnya, atau lewat ajudan.

Ha ha ha.

Begini.

Saya bukan buzzer seperti Abu Janda yang diakuinya sendiri bahwa ia digaji sejak setahun sebelum pemilu untuk menyosialisasikan tentang Jokowi di medsos. Saya tidak berpikir jumlah follower dan berapa orang atau siapa saja yang membaca tulisan saya. 

Jadi follow atau unfollow adalah hak pribadi masing-masing. Setiap kita adalah pribadi merdeka dan setiap kebenaran niscaya memerdekakan kita.

Saya tidak mau menulis hanya untuk didengarkan Presiden Jokowi agar dipandang sebagai orang yang berpengaruh atau untuk mendapat kedudukan politik. Saya menulis sebagai wujud ekspresi manusiawi dan ingin berbagi manfaat/wawasan. Itu lebih membahagiakan.

Semacam kalimat tokoh mama dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Apa yang ada dalam status saya bukan mengenai pribadi saya: harta pribadi, kesuksesan pribadi, liburan pribadi, kebahagiaan pribadi, foto-foto dengan tokoh ternama... Isi dinding saya cuma kata-kata tentang dinamika kehidupan publik dari sudut pandang saya sebagai pelaku industri media massa.

Menurut Joseph Pulitzer, idealisme media massa itu seperti ini: "We will always fight for progress and reform, never tolerate injustice or corruption, always fight demagogues of all parties, always oppose privileged classes and public plunderers, never lack sympathy with the poor, always remain devoted to the public welfare, never be satisfied with merely printing news, always be drastically independent, never be afraid to attack wrong, whether by predatory plutocracy or predatory poverty."

Saya orang biasa, banyak dosa. Bukan pula konglomerat yang punya harta banyak untuk beramal kepada sesama. Maka saya menulis juga sebagai amal untuk kehidupan umum lewat proses pembentukan kebijakan publik.

Contohnya: jika kebijakan Prakerja diubah maka ada Rp5,6 triliun bisa dihemat ketimbang buat membayar video pelatihan ke platform digital. Jika uang retensi Rekind (Pupuk Indonesia) yang ditahan rekanannya (PT Panca Amara Utama) sebesar US$50 juta kembali ke kas BUMN maka bisa dipakai untuk memberdayakan ekosistem petani. Jika duit anak usaha Telkom yang rugi di Tiphone (TELE) Rp1 triliun diusut maka bisa kembali ke kas BUMN untuk dipakai membangun akses internet desa terpencil. 

Apakah Jokowi perlu mendengar? Ya, tidak tahu, kok tanya saya.

Semoga jawaban saya ini menguatkan imun. 

Tuhan beserta kita semua.

Salam.

(By Agustinus Edy Kristianto)