Dapur Pilpres mulai panas! Mereka mengail di air keruh saat pandemi demi kredit politik

Segala sesuatu terjadi ada maksudnya. Pejabat/politisi berbuat pasti ada ujungnya.

Pantau sekitar kita. Sudahkah kenyang 'makan' baliho Menko Perekonomian cum Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto capres 2024? 

Prediksi itu sudah saya tulis pada status terdahulu. Ternyata terbukti, perintah pemasangan baliho/videotron Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) itu tertulis dalam Sprin 23/DPP/Golkar/VII/2021 per 3 Juli 2021. 

Ada juga spanduk/baliho Ketua DPR Puan Maharani. Di banyak tempat, baliho putri Ketum PDI Perjuangan itu dicorat-coret. Ditulis kata-kata tertentu. Janganlah, kita melakukan tindakan rendahan begitu. 

"Maki' saja reputasi dan kinerjanya. Kita tahu istri pengusaha Hapsoro Sukmonohadi/Happy (Rukun Raharja Group) itu lagi kontes. 

Satu lagi, yang seolah tidak pernah kehabisan gaya, adalah Menteri BUMN Erick Thohir. Dimuat di Sindonews (Grup MNC besutan Hary Tanoesoedibjo), tempat di mana staf khusus dan jubir KPC PEN Arya Sinulingga lama berkarier, Erick berceloteh: "Jokowi Presiden Pro Wong Cilik".

Kita dengarkan kecap manisnya: "Apalagi kita punya pemimpin yang luar biasa yang memberikan contoh, beliau selalu turun ke bawah, selalu bersama rakyat, karena memang beliau, kalau kita lihat presiden kita, Pak Jokowi ini kan memang awalnya sangat mengerti kehidupan rakyat di bawah, itu yang membedakan dia."
Saya terbiasa bertahun-tahun menulis dan menyunting tulisan. Saya tahu mana kalimat yang banyak kata sifatnya, repetisi, sudut pandang orangnya tidak konsisten, diksinya klise... 

Orang dinilai dari cara berpikirnya. Pikiran tercermin dari ucapan dan tindakan. Orang yang bicaranya berputar-putar tanpa menunjukkan fakta adalah orang yang tidak tulus bin palsu.

Contohnya di atas itu, yang kata sahibul hikayat adalah pegiat 'akhlak'.

Ini peringatan buat kita. Dapur pilpres mulai panas. Mereka mengail di air keruh saat pandemi demi kredit politik. Demi popularitas dan elektabilitas. 

Hal biasa dalam politik. Hal biasa bagi yang mukanya setebal tembok.

Ngomong-ngomong, jika pilpres digelar sekarang, Anda mau coblos satu dari tiga nama itu (Airlangga, Puan, Erick); memilih Jokowi ditambah periodenya; atau pindah warga Negara Federasi Mikronesia?

2 alternatif pilihan pertama betul-betul kiamat kecil. 

Melihat model kombinasi taktik bisnis dan politiknya, peradaban nasional bisa mundur ke zaman prasejarah, ketika manusia hidup dari berburu (hunting) dan mengumpulkan makanan (food gathering). 

Dari luar terlihat canggih, secara mental primitif.

Salam Pilpres.

(Agustinus Edy Kristianto)