SINEMA: SENJATA PROPAGANDA

SINEMA: SENJATA PROPAGANDA

Komunitas Muslim Selandia Baru tak berhenti menyuarakan penolakannya terkait rencana pembuatan film yang mengisahkan penembakan Masjid Christchurch, Selandia Baru. Komunitas Muslim menuntut film itu dibatalkan. [Republika, 14/6/2021]

Mereka mengapresiasi komentar PM Selandia Jacinda Ardern yang menilai film tersebut terlalu sensitif untuk Selandia Baru dan komunitas Muslim.

“In my view, which is personal view, it feels very soon and very raw for New Zealand. And while there are so many stories that should be told at some point. I don't consider mine to be one of them. They are the community's stories, the families stories,” ungkapnya dalam sebuah wawancara. 

Sejak awal tragedi, PM Jacinda Ardern dinilai banyak pihak telah menunjukkan respons yang tepat. Ia hadirkan kehangatan seorang sahabat dengan memeluk para korban selamat dan keluarga para syuhada. Ia berikan rasa aman pada warga negaranya.

Keberatannya akan rencana pembuatan film itu pun menuai pujian. Apa pasal? Narasi yang tak tepat akan memicu gejolak. Apalagi kejadian itu masih lekat dalam ingatan korban maupun keluarganya. Lebih bijak kalau film itu tak dibuat saja.

Angle atau sudut pandang adalah kunci bagaimana narasi film dituturkan. Sekalipun berkisah tentang peristiwa yang sama, namun kalau angle-nya berbeda, bisa mengubah makna.

Sebagaimana diungkap USC Annenberg Inclusion Initiative yang melakukan analisis terhadap 200 film dari Amerika Serikat, Australia, New Zealand, dan Inggris pada 2017 hingga 2019, tentang karakter Muslim dalam sebuah film.

Hasilnya, penelitian tersebut menyimpulkan, dari 41 karakter Muslim, 39 persen digambarkan sebagai pelaku kekerasan. Ini bukan hal baru sebenarnya. Karena film adalah bagian dari propaganda. 

Sebuah buku berjudul "An Empire of Their Own" yang ditulis Neal Gabler mengungkapkan bagaimana sepak terjang orang-orang Yahudi terkemuka yang memproduksi film-film di awal berdirinya Hollywood. 

Seperti kita tahu, Hollywood adalah pusat industri perfilman terbesar di dunia. Milyaran dolar investasi digelontorkan di tempat ini. Orang-orang kaya rela membakar uangnya, karena tergiur dengan hasilnya. 

Buku tersebut juga menjelaskan latar belakang bisnis orang-orang Yahudi Hollywood dalam kepemilikan teater, distribusi ritel, dan industri garmen membentuk pendekatan yang diambil pemilik studio dalam memproduksi film. 

Yang terlihat di permukaan adalah para kapitalis yang mencoba mencengkeram dunia dengan tayangan yang meninabobokan, mengumbar syahwat, dan menjual impian kosong.

Tak banyak yang menyadari apa yang tersembunyi justru lebih dahsyat lagi. Seperti yang tercantum dalam Protocol of Learned Elder Zion.

Protocol pertama berisi tentang pengalihan pikiran dan tujuan hidup manusia. Orang-orang harus dibuat hidup dengan cara bersenang-senang dan mengejar popularitas. Sehingga mereka kehilangan esensi dan abai dengan tujuan hidup sesungguhnya.

Sementara itu orang-orang Yahudi tetap konsisten dengan pembangunan kekuatan finansial, teknologi dan militer. Hingga akhirnya dunia berada dalam genggaman mereka, seperti yang kita saksikan hari-hari ini.

Jerat-jerat halus disebar di setiap lini. Termasuk industri perfilman dan musik dunia. Tanpa disadari, generasi muda Muslim terperangkap dalam jeratan itu dan tak bisa keluar lagi.

Akankah kita membiarkannya?

Jakarta, 15/6/2021

(By Uttiek)