Pemimpin Hamas Gaza: Tel Aviv Yang Menjadi Kiblat Penguasa Arab, Kami Ubah Menjadi Keset

[PORTAL-ISLAM.ID]  GAZA – Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Gaza, Yahya Sinwar mengatakan, Sabtu (6/5/2021), perlawanan Palestina baru menggunakan 5% dari kekuatan yang dimiliki selama pertempuran “Pedang al-Quds”, ditegaskannya bahwa perlawanan tak akan mundur, dan memiliki semangat dan kemampuan tempur yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam pertemuannya dengan para penulis dan akademisi serta dosen di Gaza, Sinwar menegaskan jika terjadi ledakan konfrontasi, maka akan mengubah peta Timur Tengah, dengan pertolongan Allah kami mampu menggempur Tel Aviv, dan yang dirahasiakan lebih besar lagi.

Menurut Sinwar, penjajah zionis hanya mampu menghancurkan sedikit dari terowongan perlawanan di Jalur Gaza.

Musuh gagal menghancurkan terowongan Hamas, karena kami mencintai tanah ini sebagaimana tanah ini mencintai kami, serta gagal menghancurkan kemampuan perlawanan, yang rencananya hendak membunuh 10 ribu pejuang perlawanan, namun realisasinya tak mampu menghancurkan selain 3% dari terowongan, lanjut Sinwar.

Perlawanan Palestina yang diblokade musuh dan sekutunya, justru mampu menggetarkan Tel Aviv dengan 130 roket dalam satu kali tembakan. Tembakan terakhir dalam pertempuran Pedang al-Quds menggunakan semua roket lama, dan apa yang masih dirahasiakan lebih besar lagi, ujar Sinwar.

Tokoh Hamas ini menjelaskan, Tel Aviv yang menjadi kiblat penguasa Arab, kami ubah menjadi keset, dan perlawanan mampu menghentikan aktifitasnya cukup dengan satu kaki saja.

Sinwar menyebutkan, langkah perdamaian Arab dengan Israel, dan perpecahan Palestina, serta kondisi internasional saat ini, mendorong Israel berani melancarkan agresinya.

Perlawanan tak menerima jika warga di Gaza tak merasakan kebebasan, dan setelah kemenangan besar ini, kami katakan bahwa pasca Mei 2021, kami bukan lagi seperti sebelum Mei 2021, tegas Sinwar.

Sinwar menyebutkan, setiap orang yang hendak berinvestasi di Gaza maupun yang hendak berdonasi untuk Gaza, makan pintu selalu dibuka, dan pihak perlawanan sama sekali tak akan mengambil donasi tersebut.

Hari-hari kedepan, akan menjadi ujian nyata bagi penjajah, dunia internasional dan otoritas untuk menerjemahkan kesepakatan yang dicapai, lanjut Sinwar.

Di hadapan kami ada kesempatan untuk mengakhiri perpecahan dan menyusun agenda internal Palestina, kami tegaskan kembali bahwa semua yang diusulkan sebelum 21 Mei maka dianggap tidak layak.

Sinwar menekankan bahwa "PLO, tanpa Hamas dan faksi-faksi perlawanan, hanyalah salon politik."

Dia menjelaskan bahwa "kami memiliki hak langsung untuk mengatur PLO untuk mewakili semua elemen, dan untuk mengembangkan strategi manajemen konflik nasional untuk mencapai tujuan rakyat Palestina."

Menurut Al-Sinwar, berbicara tentang pembentukan pemerintahan Palestina dan pertemuan yang bertujuan untuk menghabiskan waktu dan tidak seirus, tidak akan dapat diterima.

(Sumber: PIP)