Pangamat: Mesir Gunakan Gencatan Senjata Israel-Hamas Untuk Meningkatkan Derajat Di Hadapan AS

[PORTAL-ISLAM.ID] Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berhasil ditengahi oleh Mesir dipandang sebagai upaya Kairo untuk membuktikan kemampuan politik di kawasan kepada Amerika Serikat (AS).

Alaa Tartir dari lembaga think tank Palestina, Al-Shabaka: The Palestinian Policy Network, mengatakan Mesir ingin menunjukkan kepada AS bahwa ia masih bisa menangani persoalan Palestina.

"Rezim Mesir ingin mengilustrasikan kepada pemerintahan (Presiden Joe) Biden bahwa mereka masih dapat menangani 'file Palestina', dan bahwa mereka bersedia mengikuti panduan AS dalam hal ini," ujarnya, seperti yang dimuat dalam laporan Al Jazeera, Jumat (4/6/2021).

Sementara itu, AS sendiri memiliki ketergantungan pada Mesir. Lantaran Mesir adalah salah satu dari sedikit negara di Timur Tengah yang terlibat dengan Israel dan Hamas.

Upaya diplomatik Mesir dalam mengamankan gencatan senjata setelah 11 hari pertempuran antara Israel dan Hamas telah memperkuat peran Kairo di kawasan.

Bahkan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengupayakan gencatan senjata permanen. Kepala intelijen Abbas Kamel juga mengunjungi Israel dan para pemimpin Hamas di Gaza.

Menurut co-editor Jadaliyya, Mouin Rabbani, Mesir terus menjalin hubungan dengan Hamas meski menutup perbatasannya dengan Gaza pada 2007 untuk meningkatkan posisinya di hadapan AS.

“Itu juga berarti bahwa Mesir sekarang secara aktif terlibat dalam upaya untuk mencegah konfrontasi baru, menyelesaikan pertukaran tahanan, dan memainkan peran sentral dalam pengaturan terkait lebih lanjut,” kata Rabbani.

Selain memulihkan hubungan dengan Washington, menengahi perdamaian antara Israel dan Hamas adalah kesempatan luar biasa bagi Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk mengalihkan perhatian dari masalah regional lainnya.

“Sekaligus, dia dapat mengalihkan perhatiannya dari kesalahan penanganan krisis Sungai Nil Ethiopia, dan mengangkat dirinya ke status penting regional,” kata profesor media dan studi budaya di Institut Doha untuk Studi Pascasarjana, Mohamed Elmasry. [Aljazeera/RMOL]