"Saya pasrah. Allah yang mengatur semua ini.."

PASRAH

Konon usahanya rugi miliaran. Kena efek pandemi. Tapi ia tetap buka. Waktu ditanya kenapa tetap buka padahal rugi? Jawabnya: Saya pasrah. Allah yang mengatur semua ini.

Tetapi bukannya dengan terus buka di era pandemi, berarti makin memperbesar kerugian?

Jawabnya, saya punya vendor, kalau bahan dari mereka tidak saya beli, kasihan mereka tidak bisa makan. Usaha mereka hanya dari jual bahan makanan, memasok ke warung makanku.

Saya juga punya karyawan, mereka tidak punya kecakapan lain sehingga yang bisa menerima kerja hanya warung makanku. Mau kemana mereka kalau di-PHK?

Aku baru tahu, dan jadi kagums. Rupanya ia pengusaha yang mengutamakan orang lain. Vendor dan karyawannya. Padahal ia harus rugi miliaran untuk itu.

Oh ya satu lagi, mengapa Bapak sering kasih diskon ke konsumen? Kan malah tambah rugi?

Kalau engga jual diskon, siapa yang mau beli. Udah diskon saja kadang masih ada sisa bahan di malam hari. Padahal rumah makan saya selalu menyajikan makanan segar, bukan nget-ngetan.

Lagian kastemer juga banyak yang lagi susah. Banyak yang di-PHK, banyak yang usahanya bangkrut. Itung-itung aku ikut membantu mereka dapet makanan dengan harga murah.

Wah aku benar-benar makin kagums. Banget.

Seperti kata Gus Baha, pengusaha itu, sepelit-pelitnya, masih bayar buruh, bayar kuli. Jadi mereka tetap bersedekah....

Lalu apa yang membuat kamu tetap bertahan dengan usaha yang terus merugi ini?

Ya itu tadi. Pasrah kepada Allah. Dibalik semua musibah ini pasti ada kebaikan untuk hamba-hambaNya yang berbuat baik....

Kagums kagums kagums.

(By Amin Yadi)