Orang Puasa Tak Pernah Minta Dihormati

Orang Puasa Tak Pernah Minta Dihormati

Perjalanan kemarin dari Bangko menuju Sungai Penuh, masih di Propinsi Jambi. Sudah Jam 11, dua anak saya yang kecil-kecil: Sumayyah dan Fatimah terus bercoletoh,“Lapar, lapar, lapaaar.” 

Berbagai macam jajan yang ada tak sanggup menghentikan coloteh mereka. 

Sebenarnya kami bawa kompor, magic com untuk menanank nasi pun ada. Tapi rasanya akan memakan waktu lama kalau sekedar masak untuk Maya dan Ima. Sedang perjalanan kami masih jauh. 

Saya lanjut terus mengemudi. Saya cari-cari warung yang masih buka di siang Ramadhan. Rerata pada tutup. 

Sampailah pada satu warung, yang saya lihat pintunya terbuka separuh. Saya samperin, “Bu, ada nasi?” 

“Tak ada Bang. Mana ada siang-siang orang jual nasi!” duh...

“Saya beli bungkus, Bu. Nanti makannya di mobil,” saya coba jelaskan. 

“Tak ada. Masih belum siap semua!” 

Saya lihat Si Ibu sedang menggoreng ayam. Saya segera sadar, bahwa sebenarnya bukan gal ada makanan yang sudah mateng. Secara di kuali, ayam yang sedang digoreng pun sudah waktunya diangkat. Sudah mateng. 

“Bu, ini bukan untuk saya. Tapi buat anak-anak saya yang masih kecil, mereka memang tidak puasa.” 

Mendengar penjelasan saya, Si Ibu tersenyum. “Ya Allah Bang, saya kira abang yang mau makan.” 

Si Ibu tersenyum, diikuti permintaan maaf yang sanggup membuat getar hati saya. 

Beliau begitu komitmen tidak melayani orang dewasa untuk beli makanan di siang hari. Sementara di belahan tapak yang lain, ada banyak penjual nasi yang terang-terangan menjajakan makanan.  

Akhirnya Si Ibu melayani saya dengan senang hati. Dua bungkus nasi putih sama ayam aja. Gak pake bumbu atau yang lainnya, takut Maya dan Ima kepedasan. 

Saat saya mau bayar, Si Ibu menolak. Tapi saya paksa. Saya kasih aja 40 ribu rupiah. Kebetulan ada uang pas. 

Sungguh ini bukan persoalan orang berpuasa minta dihormati. Bukan pula kami yang berpuasa tak akan sanggup melanjutkan puasa hanya karena melihat orang makan di siang hari. 

Puasa sudah lagi tak sekedar menjadi perintah agama. Tapi ia adalah kearifan yang telah turun temurun melekat pada masyarakat kita di Nusantara. 

Istri saya di rumah, saat ia sedang tidak puasa karena haid, pun gak akan makan di depan saya dan anak-anaknya yang sedang puasa. 

Anak-anak gadis saya, coba kami pahamkan tentang ini. “Kamu kalau lagi udzur, tidak puasa, jangan makan di depan orang puasa!” 

Bahwa kita boleh salah, bisa berdosa, sebab kita memang manusia. Tapi selagi kita masih punya malu untuk tidak melakukan dosa secara terbuka, berharap ketika mati nanti, Allah berkenan mencabut nyawa kita dalam keadaan husnul khatimah. 

24 Ramadhan 1442

(Ustadz Abrar Rifai)