Kebodohan Takmir Masjid Larang Jamaah Shalat Pakai Masker, Makanan Empuk Buzzer Islamophobia

Kebodohan Takmir Masjid Larang Jamaah Shalat Pakai Masker, Makanan Empuk Buzzer Islamophobia

Sudah beberapa hari ini saya menahan diri untuk menunda pembahasan hebohnya kasus di salah satu masjid Bekasi terkait adanya oknum pengurus masjid yang dianggap ustadz melarang seorang jemaah sholat menggunakan masker.

Bahkan tak hanya melarang, sejumlah orang disekitar oknum ngustadz ini bersikap diluar batas kesopanan dan jauh dari adab yang dituntunkan oleh Islam. 

Baik adab terhadap sesama Muslim, adab kepada orang yang lebih tua, adab mengeraskan suara dalam rumah Allah hingga adab membuat keributan atau rusuh di masjid.

Dalam video yang viral tersebar dimedia sosial (maaf, saya pikir tak perlu lagi ikut menyebarluaskannya lebih jauh), tindakan yang tak memcerminkan akhlak Islami itu dibiarkan saja oleh orang-orang disana hingga nyaris terjadi baku hantam setelah masker yang dipakai oleh bapak tadi dirampas paksa dari mukanya.

Saya sempat bilang lirih ke isteri, andai model beginian kejadian di Palembang, niscaya bisa pulang tinggal nama saja mereka. Tahu sendiri watak wong Plembang khan? 

Beruntung sang bapak yang jadi korban di Bekasi itu terlalu sabar untuk melayani sikap kekanak-kanakan orang-orang tersebut.

Sederhana sajalah ya. Saat ini kondisi di seluruh dunia harus diakui memang tengah dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Pandemi masih jadi hantu yang membatasi ruang gerak banyak orang. 

Terlepas apakah wabah ini terselip adanya politisasi, konspirasi atau apapun itu... Juga terlepas bagaimana posisi setiap orang menyikapinya, entah percaya dan tidak percaya.... Namun tetap tidak dibenarkan kita mengganggu hak orang lain yang hendak beribadah kepada Allah apalagi didalam rumah-Nya. 

Dengan alasan apapun itu.

Sempitnya pemahaman dan penafsiran orang-orang dalam video viral itu terkait ayat-ayat al-Quran sehingga seakan menjadi pembenar alasan perbuatannya ini justru membuat Islam tercoreng moreng dihadapan umat beragama lain.

Semakin garing gorengan para buzzer pembenci Islam di negeri ini dengan isyu anti telor-asinnya (baca: toleransi).

Padahal faktanya, dahulu di jaman Rasulullah saja... Ada orang arab badui ujug-ujug datang dan kencing di sudut masjid Nabawi lalu para sahabat marah namun oleh Nabi justru dilarangnya dan membiarkang sang arab badui tadi menyelesaikan hajatnya.

Riwayat dari Abu Hurairah: Ada Arab Badui kencing di masjid, maka sebagian orang mencelanya, tetapi Rasulullah ﷺ menegurnya, "Biarkan dia. Siramkan seember air ke kencingnya. Kalian diutus untuk memberi kemudahan, bukan untuk kesulitan." (HR. Nasa'i: 328) - http://hadits.in/nasai/328

Dalam riwayat Abu Daud nomor 324 yang bersumber dari Abdullah bin Ma'qil bin Muqarrin disebutkan jika dalam kejadian ini  orang-orang disekeliling Nabi dengan segera membentak arab badui tadi, lalu Nabi ﷺ melarang mereka dan bersabda, "Ambillah debu tanah yang dikencingi itu, lalu buanglah. Setelah itu tuangkanlah air ke atas tempat (yang dikencingi itu)". 

Lihat bagaimana agungnya akhlak Rasulullah. 

Orang yang jelas-jelas mengotori masjid dengan najis saja tidak dibentak-bentak apalagi diajak gelud. Maka bagaimana kiranya bila orang seperti sang bapak di Bekasi itu hidup di jaman Rasulullah? Apakah kira-kira sikap Nabi akan sama seperti oknum ngustadz di masjid tersebut? 

Bukankah ada pula riwayat lain tentang seorang laki-laki memasuki masjid lalu shalat, kemudian ia menemui Nabi ﷺ seraya mengucapkan salam kepadanya, beliau kemudian menjawabnya dan bersabda, "Ulangi dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat, " lalu ia pun kembali, dan ia melakukan seperti semula sampai tiga kali, " Abu Hurairah berkata, "Laki-laki itu kemudian berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini, maka ajarilah aku," beliau bersabda, "Jika kamu berdiri untuk shalat maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur'an, lalu rukuklah hingga engkau tenang dalam rukukmu, kemudian angkatlah hingga engkau berdiri tegak, lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu, lalu angkatlah hingga engkau duduk dengan tenang dan lakukanlah hal tersebut dalam shalatmu." (HR. Ahmad: 9260) - http://hadits.in/ahmad/9260

Dalam kasus terakhir, apakah Nabi marah-marah melihat laki-laki itu keliru dalam melakukan sholatnya? Ternyata tidak.

Malah Nabi dengan lembut memintanya mengulangi sholatnya sampai 3x. 

Nabi tidak membentak apalagi marah-marah. Boro-boro mengajaknya berantem.

Maka akhlak siapa yang menjadi teladan sang pengurus masjid di Bekasi itu?

Wallahua'lam.

Sekedar catatan tambahan saja... Bahkan di Haramain atau dua tanah suci (Mekkah dan Madinah) orang-orang melakukan sholat dengan menerapkan pembatasan jarak serta menggunakan masker. (Lihat video yang saya lampirkan dalam posting ini).

Dengan demikian, status yang saya buat kali ini mudah-mudahan dapat membantu memberi gambaran pelengkap dari sekian banyaknya sudah penjelasan alim ulama yang berkomentar atas kasus yang sama ini.

Semoga tak terulang lagi ditempat lainnya. Mari jaga marwah Islam. Teladani sikap Nabi secara utuh. 

(Oleh: Armansyah, M.Pd)