MENGGEBRAK PODIUM

MENGGEBRAK PODIUM. Pernah dilakukan oleh PRABOWO SUBIANTO ketika (mungkin) merasa gregetan atas sesuatu yang tidak bisa dirubahnya dalam kapasitasnya sebagai politisi podium. Atau mungkin itulah ekspresinya sebagai oposisi ekstra parlemen yang tak berdaya mewujudkan kepeduliannya atas kondisi yang terjadi.

Kini Prabowo adalah 'Penguasa Sektoral' sebagai menteri yang menerima pendelagasian kewenangan pada soal pertahanan negara. Yang dengan kekuasaan 'kecilnya' tsb, cukup dengan menulis selembar surat kepada Panglima TNI, maka Hercules TNI AU segera terbang menjemput bantuan APD. Dengan tanda tangannya Prabowo bisa mewujudkan kepeduliannya pada nasib rakyat yang sedang terancam Covid 19. 

Saat itu (awal pandemi), Beliau bukan bagian dari oknum pejabat-pejabat tinggi yang mengolok-olok atau memberikan pernyataan ngasal di media-media. Namun, sebagai Menhan Prabowo bisa 'menjual' namannya kepada kolega-koleganya di negara lain (Misalnya USA dan Australia) terkait bantuan Alkes dan APD yang dibutuhkan untuk negerinya.

Masih sebagai Menhan, Beliau berperan aktif menghidupkan industri dalam negeri, bukan cuma produk alat perang, tetapi juga alat-alat pertanian untuk keperluan program Food Estate. Pun termasuk produksi alkes (ventilator) terkait wabah covid 19. Dimana pada era sebelumnya kebijakan impor yang tergolong 'sarap' membuat industri-industri kita sempoyongan dihajar barang-barang asing yang masuk seakan tanpa permisi.

Sekali lagi, cukup dengan diam-diam, Prabowo menggunakan kewenangannya membatalkan kontrak pembelian Alutsista senilai Rp. 50 Triliyun yang berpotensi merugikan keuangan negara min 10% atau Rp. 5T. Sebuah tindakan PENCEGAHAN tindak pidana korupsi yang seharusnya dilakukan oleh lembaga penegakan hukum seperti KPK yang terlihat masih sibuk dgn OTT, OTT dan OTT (Sekali2 OTW doooong...). OTT = Kejahatan korupsi sudah atau sedang terjadi baru diungkap dimana kemungkinan sudah terjadi kerugian negara.

Setelah menjadi Menhan, Prabowo tidak perlu lagi bercerita soal PANGAN dari podium ke podium, dari ajang diskusi dan wawancara satu ke lainnya seperti sebelumnya. Beliau langsung 'membajak' soal pangan yang selama ini menjadi domain Menteri Pertanian cq Badan Pangan Nasional yang dimasukannya ke dalam bagian dari Strategi Pertahanan. Lahirlah Food Estate di Kalimantan dan segera menyusul di propinsi dan pulau-pulau lainnya.

Food Estate (dimanapun berada) akan menjadi 'propertinya' Kemenhan.
Food Estate (Apapun komoditinya) akan menyerap tenaga kerja tani muda dan prduktif.
Food Estate (Selain Padi/Beras) akan melahirkan aktifitas industri di hilirnya.
Food Estate (Contoh di Kalimantan) mungkin adalah satu-satunya program yang dijalankan oleh seorang Menteri yang didukung oleh para menteri-menteri lainnya. Tidak ada silang sengketa, tidak ada saling bantah. Semuanya bersemangat dalam sinergi positif. Tidak dapat dipungkiri, Faktor Prabowo menjadi 'perekat' sinergitas para stake horlders.

Food Estate (Dan KOMCAD) jika dikupas mendalam, kemungkinan kita akan mendapati strategi 'LIHAI' Sang Jendral untuk Bangsa, Negara dan Rakyat.

Lisan Sang Jendral tidak lagi lantang berteriak soal Pangan karena kini sudah ada dalam kendalinya.

Perkawinan kewenangan di sektor pertahanan dengan penugasan ekstra di sub sektor pangan (Khusus Food Estate) melahirkan program Komponen Cadangan (Komcad). 

Keberadaan Komcad seakan mengejawantahkan keprihatinan Prabowo pada soal pengangguran. Prabowo seakan menyediakan 'pekerjaan'  sementara yang diberi uang saku kepada generasi produktif berupa latihan dasar kemiliteran. Sekaligus menyediakan lapanga kerja di bidang pertanian di lahan-lahan Food Estate setelah masa pelatihan. Tidak cukup sampai disitu, PRABOWO SUBIANTO 'menitipkan' Anggota2 Komcad yang telah selesai pelatihan kepada TNI melalui Program Ketahanan Pangan yang dijalankan oleh TNI AD. Tangan KASAD terbuka lebar menyambut titipan ini. Alhamdulillah.....

Keberadaan KOMCAD yang disebar di semua KODAM seluruh Indonesia berikut persenjataannya yang sudah dipesan, mungkin sedikit menjawab kekhawatiran kita pada potensi gangguan oleh orang-orang asing yang menjadi TKA. Wallahu'alam.

PRABOWO SUBIANTO memilih terjun bebas dari posisinya sebagai politisi paling populer, memilih meninggalkan podium oposisi dimana Beliau selalu menerima tepuk tangan riuh dari pendukungnya. Membiarkan dirinya dicemooh oleh beberapa pihak karena dianggap mempermalukan dirinya dengan menyerahkan loyalitas totalnya kepada rival politiknya Presiden Jokowi. 

Tetapi mungkin itulah 'MAHAR' yang harus dibayarnya agar mendapatkan kewenangan atau potongan kecil kekuasaan untuk dijadikan media pengabdiannya kepada bangsa dan rakyat. 

Mahar yang hanya bisa diberikan oleh seorang PATRIOT!

(By As Kencana)