HEBOH 'Silicon Valley' Bukit Algoritma, Ternyata.... Memanfaatkan Lahan Resort Wisata yang Sepi Pengunjung

Bukit Algoritma Dibangun di Atas Lahan Bekas Resort Wisata

DERETAN gedung bertingkat lima di Desa Pasir Langkap, Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, itu tampak kusam dan kosong. Sebagian lahan pekarangannya dipenuhi rumput dan alang-alang. Berada di hamparan tanah lapang dan bekas kebun sawit, area yang sedianya menjadi resort wisata itu malah tak terpelihara.

Namun sebentar lagi kondisinya bakal berubah. Jika tak ada aral melintang, area yang kini bernama Cikidang Resort itu bakal bersalin rupa menjadi Bukit Algoritma. 

Bukit Algoritma digadang-gadang sebagai kawasan yang bakal diisi inovator, teknokrat, periset, hingga pelaku industri berteknologi tinggi. Inisiatornya adalah Budiman Sudjatmiko, politikus PDIP sekaligus pendiri gerakan Inovator 4.0. Kepada Tempo, kemarin, Budiman mengatakan Bukit Algoritma akan mengintegrasikan kawasan riset dan industri. “Kami sudah pikirkan juga akan ada education center,” ujar dia.

Budiman akan membangun Bukit Algoritma di lahan Cikidang Resort melalui wadah skema kerja sama operasi (KSO) Kiniku Bintang Raya. Entitas ini merupakan hasil kongsi PT Kiniku Nusa Kreasi dengan PT Bintang Raya Lokalestari. Dalam akta perusahaan tanggal 1 April 2019, Kiniku Nusa Kreasi merupakan perusahaan penyedia solusi teknologi dan komunikasi. Direktur Utama Kiniku Nusa Kreasi adalah Tedy Tri Tjahjono, Sekretaris Gerakan Inovator 4.0. Sedangkan Bintang Raya Lokalestari adalah perusahaan pariwisata selaku pemilik dan pengelola Cikidang Resort. Kedua perusahaan ini melibatkan PT Amarta Karya (Persero) sebagai kontraktor infrastruktur.

Budiman mengklaim Kiniku Bintang Raya telah meneken nota kesepahaman (MOU) dengan tiga kampus, yaitu Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran. Menurut dia, IPB akan mengerjakan riset yang berhubungan dengan pertanian. Sedangkan pengembangan kecerdasan buatan dan teknologi nano diserahkan kepada ITB. Unpad akan mengembangkan riset yang berhubungan dengan kesehatan. “Kami alokasikan lahan 25 hektare untuk masing-masing kampus," katanya.

Tak tanggung-tanggung, Budiman memimpikan Bukit Algoritma bakal menjadi "Lembah Silikon" versi Indonesia. Karena itu, dia mengembangkan proyek ini dengan konsep seperti pusat teknologi di San Francisco, Amerika Serikat, itu, yang menyatukan ilmuwan dan industrialis dalam satu kawasan. Bahkan dia mengaku sudah mendapatkan investor dari salah satu negara di Amerika Utara untuk mendanai proyek senilai Rp 18 triliun tersebut. Budiman juga mengupayakan Bukit Algoritma mendapatkan status kawasan ekonomi khusus (KEK) yang menjanjikan aneka fasilitas bagi investor, dari keringanan fiskal hingga perizinan.

***

Berbeda dengan Lembah Silikon yang saat awal berdiri sudah dilengkapi dengan infrastruktur hingga jejaring ilmuwan, periset, dan teknokrat, Bukit Algoritma baru mengandalkan lahan Cikidang Resort yang kini nyaris tak berpenghuni. Bahkan pengembangannya masih menunggu pembangunan infrastruktur pemerintah, seperti jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. Kelanjutan status KEK Bukit Algoritma pun masih dipertanyakan, mengingat usulan serupa yang diajukan PT Bintang Raya Lokalestari untuk Cikidang Resort bertepuk sebelah tangan.

Direktur Utama Bintang Raya Lokalestari, Dhanny Handoko, mengatakan sudah mengusulkan status KEK sejak akhir 2016. Menurut dia, saat itu Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengajak perusahaannya merintis KEK untuk Provinsi Jawa Barat. Dhanny pun mengubah lahan perkebunan kelapa sawit itu menjadi lokasi agrowisata Cikidang Resort. Pada 2017-2018, Bintang Raya Lokalestari membangun berbagai fasilitas di Cikidang Resort, seperti Devi Sakuntala Resort yang berisi 150 kamar, Club House Hotel dengan 50 kamar, serta fasilitas lain. Bahkan tempat ini sempat dijadikan sebagai arena wisata berburu.

Namun, kata Dhanny, pengembangan Cikidang Resort kemudian terhambat banyak hal. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya infrastruktur konektivitas dari wilayah Sukabumi yang berjarak sekitar 30 kilometer. Walhasil, Cikidang Resort, yang sedianya dipasarkan sebagai arena properti wisata, terbengkalai karena sepi pengunjung. Kondisi kian buruk saat pandemi Covid-19. “Sejak pandemi, kami tidak bisa buka secara bebas seperti dulu," ujar dia.

Dhanny yakin kerja sama dengan Kiniku Nusa Kreasi untuk membangun Bukit Algoritma menjadi angin segar bagi Cikidang Resort. Dari lahan seluas 883 hektare milik Bintang Raya Lokalestari, sebanyak 500 hektare di antaranya akan dialokasikan untuk Bukit Algoritma. Lahan seluas 200 hektare akan dijadikan perkebunan lalu sisanya untuk pembangunan properti dan rumah singgah. Dhanny pun berharap kawasan yang ia kelola bisa memperoleh status KEK melalui aneka program yang digarap dalam proyek Bukit Algoritma. "Apalagi jika jalan tol Bocimi sudah selesai. Cikidang Resort dan Bukit Algoritma bisa menjadi KEK milik Sukabumi," ujar dia.

Sekretaris Dewan Nasional KEK, Enoh Suharto Pranoto, membuka peluang pengajuan ulang usulan KEK Cikidang. Syaratnya, pemrakarsa KEK bisa memenuhi persyaratan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2021. “Bisa diajukan lagi sesuai dengan aturan yang berlaku,” ucapnya.

Gimmick

Meski begitu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengingatkan agar pengembang Bukit Algoritma tak gegabah menyebut proyek ini sebagai Lembah Silikon ala Indonesia. 

Menurut dia, Lembah Silikon bisa berkembang baik karena punya tiga faktor pendukung, yaitu periset, industri pendukung inovasi, dan institusi finansial. 

“Kalau tiga poin tadi tidak hadir dalam satu titik, yang namanya Lembah Silikon hanya gimmick,” kata dia. 

Ridwan pun meminta pihak yang terkait dalam proyek Bukit Algoritma memikirkan tiga komponen tersebut dengan matang. “Niatnya saya dukung."

๐Ÿ‘‰Selengkapnya di Koran Tempo (15/4/2021)