Antara KONTEN TIDAK BERMUTU Dengan PEJABAT PUBLIK TIDAK BERMUTU

Antara KONTEN TIDAK BERMUTU Dengan PEJABAT PUBLIK TIDAK BERMUTU

Menghadapi tontonan tidak bermutu, baik konten Youtube, Tiktok, sinetron abal-abal, podcast gossip, reality show yang tidak real, dan sejenisnya, sangatlah mudah. Tidak usah ditonton acaranya. Selesai!

Masih banyak hiburan lain.

Entah apa manfaatnya menghujat dan memaki pembuat konten. 

Wong namanya acara hiburan kok ditanyain apa manfaatnya. Memangnya apa manfaat dari film Avengers yang berhasil meraup laba sampai belasan triliun itu?

Kok gak ada yang protes?

Benar kata Microsoft. Netizen Indonesia memang kejam. Hobi sekali 'membunuh' sumber nafkah orang lain. Sedikit saja ada yang bikin kesalahan, langsung viral. Pelaku babak belur, seolah-olah ia layak dihukum mati.

Seandainya kekejaman mereka bisa dialihkan untuk menghujat pejabat publik yang korup sampai babak belur. Tentu seluruh rakyat Indonesia akan lebih merasakan manfaatnya.

Kalau ada tontonan tidak bermutu tapi penontonnya banyak, ya harusnya yang disalahkan selera penontonnya. Pemilik konten kan cuma memfasilitasi apa maunya pemirsah. Dibuatkan konten mendidik, eh ga ada yang nonton.

Seperti telah disebutkan di atas, menghadapi tontonan tidak bermutu itu mudah. Tidak usah tonton acaranya. Toh kita tidak dipaksa untuk menonton. Menonton pun tidak bayar pula.

Lha kalau ada pejabat busuk?

Memangnya kita boleh gak bayar pajak sebagai bentuk protes?

(By Wendra Setiawan)