"Amalan Rahasia" Pak RT, Hingga Bisa Bangun Masjid dengan Cepat Lewat Open Donasi FB Mencapai Rp 200 Juta

[PORTAL-ISLAM.ID] Saya menemuinya bada zuhur, memacu motor dari masjid kompleks saya menuju rumahnya. Gak jauh, hanya sekitar 15 menitan. 

Di pekarangan rumah yang lebih tepat disebut kamar-kamar kos berpetak tampak beberapa orang duduk dengan wajah-wajah murung. 

"Pak RT lagi di dalam, lagi sholat," kata seorang ibu, saat saya nyelonong dan menanyakan keberadaan si bapak. Sepertinya mereka-mereka ini sedang antri juga menunggu pak RT untuk mengurus administrasi warga. 

Saya celinguk ke kamar petak milik pak RT, mendapati empat orang sedang berjamaah di dalam salah satu ruang tamu kecil yang pintunya terbuka. Di depan imam ada sebuah bungkusan kecil. Oh, kayaknya sutrah, pikir saya (*Sutrah = batas yang diletakkan di depan tempat sujud saat seseorang sedang menunaikan Solat). Usai sholat, bungkusan itu digendong. Ya Allah, ternyata bukan sekedar sutrah melainkan mayit bayi. Rupanya itu tadi sholat jenazah. Nyesel rasanya saya cuma nungguin tapi gak ikutan tadi, menyia-nyiakan pahala gunung uhud.

Maka terjawab sudah salah satu pertanyaan saya. Apa amalan pak RT ini hingga masjidnya bisa rampung dengan cepat dari donasi Fesbuk. Mungkin ini salah satunya, yakni menjadikan rumahnya sebagai tempat menampung aspirasi warga, bahkan sholat jenazah. Gunung uhud yang luas ia pindahkan ke ruang tamunya yang sempit. 

Ya, pak RT yang saya temui ini adalah orang yang pernah saya ceritakan beberapa waktu lalu. Sosok sederhana yang membangun masjid sendiri dengan tangannya di atas lahan miliknya, tanpa tukang, hanya dibantu beberapa tetangga, bahkan istrinya gak jarang ikut menggotong pasir dan mencampur semen.

Berapa donasi yang terkumpul dari postingan itu?

Lebih 200 juta rupiah!

Padahal hanya sekali saya posting. Padahal gak pernah di-up. Masya Allah..

Bagi saya ini sejarah. Rekor sepanjang saya open donasi. Gempa Palu yang bencana nasional, saya hanya bisa meraup amanah donasi sekitar 150 juta. Pikir saya itu yang terbanyak. Untuk ukuran masjid biasanya hanya bisa di kisaran angka 5 hingga 7 juta. Tapi masjid kali ini beda.

Walaupun begitu, tentu bukan itu poinnya. Bukan soal angka-angka dan pencapaian banyak-banyakan. Ini sekadar perbandingan saja. 

Kesabaran.
Itu yang saya lihat sebagai amalan yang ke dua pak RT. Ia bertahun-tahun berjibaku dengan masjid yang gak rampung-rampung. Bercita-cita membangun masjid megah padahal ia menempati rumah petak yang sangat sederhana. Menyicil satu demi satu zak semen, hanya pernah dibantu sekali oleh anggota dewan, setelah itu semua swadaya. Pak RT ini bekerja gak nunggu apalagi bergantung donasi, mindset yang jarang saya temukan, di mana biasanya orang harus ada donasi dulu baru bisa semangat bekerja. 

Melihat saya datang, pak RT hanya menyapa sekilas, tapi kemudian kaget saat saya buka masker. Ia hendak menjamu saya dulu tapi saya tau diri situasi gak memungkinkan. Penyelenggaraan jenazah harus disegerakan. Berboncengan dengan istri, ia pamit meninggalkan saya menuju pemakaman. 

Hanya beberapa langkah dari rumah pak RT, berdiri masjid yang dibangunnya. Saya sempatkan menengok. Semua interior sudah rampung, lengkap AC pula. Tersisa finishing bersih-bersih sekitar satu atau dua hari lagi. Alhamdulillah, siap dipake berjamaah fardhu, taraweh dan itikaf di bulan ramadhan.

Qadarullah, di sini saya cuma wasilah, hanya semacam kabel yang mengalirkan energi bantuan dari teman-teman muhsinin semua dengan memanfaatkan jumlah followers.

Jujur, manusiawi rasanya kalo saya baper saat kemarin ada ibu pakar parenting yang membuat status untuk saya. Katanya "buat apa banyak follower kalo hanya untuk diaduk emosinya dan diprovokatori", saat mencuatnya kasus ibu rebutan hak asuh anak. Saya dianggap pemicu keriuhan hingga viralnya kasus tersebut. Ya Allah, kalo itu memang salah saya, saya mohon ampun karenanya.

Harapan saya semoga maslahat jadi wasilah pembangunan masjid yang mungkin value-nya sedikit ini bisa menutupi banyaknya mudharat yang saya timbulkan lewat postingan FB, baik sadar maupun yang gak saya sadari. Semoga Allah senantiasa menjaga hati saya dari Riya, sum'ah dan ujub. Aamiin..

12/04/2021

(Arham Rasyid)

Saya menemuinya bada zuhur, memacu motor dari masjid kompleks saya menuju rumahnya. Gak jauh, hanya sekitar 15 menitan....

Dikirim oleh Arham Rasyid pada Minggu, 11 April 2021