Tidak Mungkin Seorang Moeldoko Berani Melawan SBY Jika Tidak Ada Pendukung Kuat di Belakangnya

Oleh: Tengku Zulkifli Usman (Pengamat Politik)

TIDAK mungkin seorang Moeldoko berani melawan SBY jika tidak ada pendukung kuat di belakangnya.

Jika kita melihat kasus KLB Partai Demokrat secara utuh, maka kita akan menemukan muara masalahnya ada pada beberapa hal.

Pertama: Ambisi Moeldoko yang ingin nyapres 2024, tapi tidak memiliki kendaraan politik.

Kedua: Balas dendam Politik trah Soekarno kepada kubu Cikeas atas dendam masa lalu yang belum selesai.

Ketiga: menghambat trah Cikeas kembali ke panggung kekuasaan, dan menghambat semua orang yang berpotensi mendukung trah SBY ke panggung kekuasaan termasuk Anis Baswedan.

Keempat: Abuse of Power dari penguasa, mengingat sampai sejauh ini kelakuan Moeldoko masih terus didiamkan oleh atasan Moeldoko yaitu presiden.

Kelima: Menyibukkan rakyat dengan masalah masalah kudeta begini agar penguasa punya waktu dan leluasa dalam menyusun rencana melanggengkan kekuasaan 2024 nanti.

Pertama jelas Moeldoko yang bisa jadi memang sangat berambisi maju sebagai capres. Rekam jejak Moeldoko memang terkenal dengan gaya menjilat dan punya ambisi menggebu gebu dalam politik.

Moeldoko juga lihai menjilat atasan untuk memuluskan karirnya, sampai sampai SBY pun merasa kecolongan pernah memberikan dia panggung.

Namun semua itu tidak akan berjalan baik jika Moeldoko tidak mendapatkan"dukungan" dari penguasa. Moeldoko bukan siapa siapa dihadapan SBY tanpa tangan penguasa.

Moeldoko bukan lawan politik yang seimbang dengan SBY jika saja Moeldoko tidak mendapatkan dukungan orang kuat baik itu dari istana maupun dari Teuku Umar yang mengatur istana selama ini.

Moeldoko jelas punya ambisi, maka tidak heran jika dia dulu juga berusaha keluar masuk partai agar mendapatkan tiket untuk pemilu.

Disinilah aroma balas dendam kubu Teuku Umar yaitu Megawati sangat tercium. Diamnya istana dan penguasa atas kelakuan Moeldoko jelas memberikan sinyal bahwa ada support yang solid di belakang Moeldoko.

Publik masih ingat, bagaimana dendam nya Megawati terhadap SBY. Sampai sampai 10 tahun SBY menjabat presiden, ibu Mega tidak pernah mau ketemu apalagi salaman bermaaf-maafan. Di titik ini mereka mirip Donald Trump dan Joe Biden di AS pasca pilpres.

Dendam kesumat Megawati terhadap SBY sangat mungkin dimanfaatkan oleh Moeldoko untuk memuluskan rencananya. yang dengan rencana kudeta itu juga sekaligus membawa berkah yang simbiosis mutualisme dengan musuh SBY lainnya termasuk ibu Mega.

Apa yang dilakukan Moeldoko terhadap SBY jelas sebuah Anomali Demokrasi, ini jelas merupakan musibah dan bencana dalam panggung demokrasi kita.

Moeldoko yang awalnya tidak mengakui akan melakukan kudeta dengan sendirinya terbantahkan saat dia mau hadir ke KLB Demokrat versi Deli Serdang dan mau diangkat sebagai Ketum Demokrat.

Semua ini menurut saya sudah direncanakan dengan baik dan matang, dengan memanfaatkan celah yang kebetulan SBY punya banyak musuh baik dari dalam Demokrat dan luar Demokrat.

SBY memang punya banyak musuh dalam politik, tapi membandingkan cara SBY bersaing dengan cara Moeldoko yang merampas tentu sebuah kesalahan.

SBY punya salah, tapi menjadikan kesalahan SBY untuk membenarkan cara cara Moeldoko dan para supporter nya merampas partai orang lain itu jelas sebuah logical fallacy yang fatal.

Muara dari semua masalah ini sangat jelas, yakni melemahkan kubu SBY dan siapa saja yang punya peluang berkoalisi dengan SBY untuk pilpres mendatang, baik Anies Baswedan, PKS atau lainnya.

Cara melihat masalah kudeta ini sangat simpel pada dasarnya, yaitu jika nanti kemenkumham mau mengesahkan Demokrat versi KLB kubu Moeldoko, maka ini adalah puncak dari semua tabir rahasia gelap selama ini yang melibatkan istana.

Besar kemungkinannya penguasa akan merestui Moeldoko, itu hitungan saya. Namun istana dalam analisa saya tidak akan mau vulgar mengakui Moeldoko, mereka akan bermain di ranah hukum yang berbelit yang akan memakan waktu yang cukup lama untuk mengulur waktu agar lawan tetap bisa dilemahkan.

Sangat besar kemungkinannya penguasa akan merestui Moeldoko sebagai Ketum Demokrat walaupun plat maling sudah tercetak bold di jidat Moeldoko. Ingat kata Moeldoko sejak awal bahwa semua ini sudah direstui oleh "pak lurah".

Begitu lah fakta nyata didepan mata rakyat hari ini, sebuah tontonan pelecehan demokrasi yang dilakukan terang terangan tanpa rasa malu, demi syahwat politik yang menggebu gebu.

Sebuah Anomali Demokrasi begini memberikan kita sebuah gambaran besar, bahwa maling biasanya akan mendukung maling, penjahat akan berkolaborasi dengan penjahat, dan endingnya yang melakukan kudeta akan dikudeta kembali.[]