Tere Liye: Mental anti-kritik pejabat di negeri ini sudah ditahap mengerikan

Anti kritik

Mental anti-kritik pejabat di negeri ini sudah ditahap mengerikan. Di depan ngocehnya sih: kritik saya. Di belakang, saat kritikan benar2 diluncurkan, mereka ngamuk. Penyakit ini menjangkiti dari level atas sampai bawah.

Lihat contoh berita ini. Ada kades tidak terima jalan rusak diposting di medsos. 

Entah apa sih yang ada di kepala pejabat2 ini? Karena ketahuilah, sekali kamu digaji oleh uang negara, maka kamu WAJIB dikritik. Titik. 

Lah, saya saja, Tere Liye penulis buku yg tidak laku bukunya, kamu cek medsos, tiap hari ada yang ngomelin, maki, mencaci Tere Liye. Orang2 yg bahkan beli buku sy tdk pernah. Bayar uang ke saya tdk pernah. Dia marah, maki2 Tere Liye.

Apalagi kamu, Dul! Kamu itu digaji dan diberi fasilitas dengan uang negara. Kok bisa kamu korslet sekali tdk mau dikritik. Adalah hak segenap rakyat mau komplain, marah, tdk terima atas layanan publik, fasilitas publik.

Ini malah sebaliknya. Pas pemilihan, kalian sikut2an maksa sekali pengin jadi pejabat, rebutan, bila perlu singkirkan orang lain. Pas pemilihan, kalian minta suara rakyat. Eh pas sudah jadi, rakyat kritik, kamu malah marah2 ke rakyat. Serius, kamu itu waras nggak sih? 

Nah, kalau kamu masih waras, baca tulisan ini kamu seharusnya ngamuk. Tapi ngamuklah ke diri sendiri. Kok saya itu begini sih. Kok sy itu anti kritik sekali. Apa jangan2 saya ini munafik? Apa jangan2 sy ini yg jahatnya?

Dan buat netizen, kalian harus tahu, bahkan sudah berisik dikritik saja, tetap kacau balau, apalagi jika kalian diam semua. Itu jalan rusak, ribut orang kritik di medsos, langsung diperbaiki? Belum tentu. Apalagi jika penduduknya diam semua. 

Paham?

(By Tere Liye)

*fb