Rezim Komunis China Mao Zedong Dulu Mengajak Rakyat Menyampaikan Kritik, Setelah Itu Ditangkapi dan Disiksa

HUNDRED FLOWERS MOVEMENT (1956 - 1957)

Kampanye Seratus Bunga, juga disebut Gerakan Seratus Bunga (bahasa China tradisional: 百花齊放), adalah periode dari tahun 1956 hingga 1957 di Republik Rakyat China di mana Partai Komunis China mendorong warga untuk mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka tentang rezim komunis.

Mao Zedong, pemimpin China saat itu membuka pintu warganya untuk memberikan kritik kepada pemerintah yang dipimpinnya. Bukan hanya membuka, saat itu bahkan gerakan ini dikampanyekan. 

"Biarkan seratus bunga mekar; biarkan seratus aliran pemikiran bersaing," ujar Mao. 

Awalnya kebijakan ini ditanggapi secara skeptis. Hanya segelintir cendekiawan yang menyampaikan kritik, itupun dengan bahasa yang amat hati-hati dan halus. 

Mao Zhedong kemudian meyakinkan masyarakat, bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang amat disukai. Sekali lagi kampanye ini ditekankan lebih massive.

Kampanye ini kemudian disambut dengan baik. Banyak warga memberikan kritik dan saran kepada rezim komunis itu secara terbuka. Pemerintah menerima ribuan surat setiap hari dari para warga yang menyampaikan kritiknya. Terutama mengenai keadilan sosial dimana terdapat jelas kesenjangan hidup para pejabat partai komunis dengan rakyat banyak.

Masyarakat berbicara dengan memasang poster di sekitar kampus, berkumpul di jalan-jalan, mengadakan pertemuan dan menerbitkan artikel majalah. Mahasiswa di Universitas Beijing misalnya, membuat "Tembok Demokratis" di mana mereka mengkritik pemerintah melalui pemasangan poster dan surat.

Namun tak lama sesudahnya, kampanye ini dihentikan. Aparat bergerak. Ratusan ribu oposisi ditangkap dan disiksa di penjara. Ribuan orang hilang tak jelas rimbanya. Diyakini, 4 juta jiwa menjadi korban aparat setelahnya.

TERNYATA... seruan rezim komunis China agar rakyatnya menyampaikan kritik kepada pemerintah adalah upaya terencana untuk mengidentifikasi, menganiaya, dan membungkam kritik terhadap rezim.


(Afwan Riyadi W)