KELAINAN JIWA TUKANG LAPOR

KELAINAN JIWA TUKANG LAPOR

Salah satu keheranan saya pada pendukung sebelah adalah mereka selalu memproduksi manusia-manusia yang tebal muka (gak tau malu) dan tumpul otak untuk membuat laporan2 pada pihak yang dianggap bersebrangan. 

Tabiat PELAPOR ini memang harus tebal muka.  Pelaporanya adalah bukti bahwa dirinya tidak mampu untuk beradaptasi pada situasi terkini. Yang mereka tau ketika diri terhina, ketika sang idola tersudutkan, maka mereka harus mencari sisi kelemahan pihak yang disasar untuk dilaporkan. 

Misalnya di sosmed, maka mereka akan menunggu dengan sabar sembari terus memperhatikan adanya kesalahan dalam penulisan, yang bisa membawa hal itu pada pelaporan. 

Di WA mereka akan berusaha untuk masuk ke grup yang telah disasar. Menjadi member untuk memprovokasi, lalu menunggu siapa yang terpancing dan Screenshoot akan digunakan sebagai barang bukti. 

Tere Liye penulis Novel Negeri Para Bedebah, menuliskan beberapa tabiat para tukang lapor.

Tabiat tukang lapor ini adalah :

1. Mereka selalu pakai organisasi abal-abal. Lumrah sekali orang2 ini mendadak bikin organisasi, misal PECI, Pemuda Cinta Indonesia. PETE, Pembela Toleransi dan Emansipasi, PSBB, Persatuan Suka Bala-Bala, PPPB, Pemuda Pura-Pura Bahagia. Adaaa saja organisasi yg mendadak mereka bentuk tersebut. Dengan nama seolah paling patriot. Aneh kan? 

2. Kalau tidak pakai organisasi abal-abal, mereka minjam nama lembaga. Misal, pinjam nama alumni kampus. Ini aneh sekali. Itu betul, mungkin mereka memang alumninya, tapi whaaat? Kamu dan teman2 kamu itu jelas bukan suara kampus tsb. Kenapa sih harus bawa2 nama kampus? Apalagi yg sampai bawa2 organisasi agama besar. Ciyus? Pendiri organisasinya boleh jadi sedih lihat kelakuanmu yang dikit2 lapor.

3. Pengin banget laporannya diperhatikan. Ini aneh sekali sebenarnya. Kalau mau lapor, ya lapor saja ke polisi. Tidak perlu panggil2 wartawan, bikin press release. Itu kan masalah hukum, bukan? Urusannya penegak hukum. Kalau kamu belum apa2 sudah bergaya di depan kamera, duuh, itu nggak jelas lagi, hukum atau nyari panggung.

Kayaknya semua sepakat, bahwa tukang lapor bukanlah suatu sikap yang baik. Sebanyak apapun orang yang dilaporkan, sejatinya itu adalah bukti yang bermasalah bukanlah orang yang dilaporkan. Melainkan diri pelaporlah yang bermasalah. 

Lucu aja saat salah satu pihak sebelah, malah membanggakan siapa saja yang pernah dia laporkan sampai membuat draft nama2 orang yang telah dilaporkan. 

Mulai dari nama Jonru, Buni yani, Andi latief, Habib Bahar Bin Smith, artis Anji dan Hari Pranoto, sampai paranormal Mbak You. 

Semakin banyak orang yang dilaporkan, menandakan semakin banyak permasalahan hidupnya. Orang-orang yang berjiwa asyik, dia gak akan ambil pusing dengan opini, hinaan, atau hujatan pada dirinya atau sosok yang dijagokannya. 

Karena apa? 

Karena dia menganggap, mereka yang menghujat/menghina/melecehkan tidaklah lebih banyak jumlahnya daripada mereka yang percaya bahwa dirinya atau sosok yang dijagokannya tidak seperti apa yang dituduhkan. Hujatan akan dijawab bukti kerja, hinaan akan dijawab senyuman, pelecehan akan diabaikan. 

Dari 10 orang jika hanya 1 yang menghina, itu bukan persoalan besar. Karena masih ada 9 orang yang akan memberikan kesaksian sebaliknya. Tapi jika dari 10 orang ada 8 yang meremehkan dan mengungkapkan fakta, maka itu pasti akan berujung pelaporan. Karena tidak mau dirinya terbongkar, akan merusak nama dan merusak singgasana pemujaan padanya. 

Semakin banyak pelaporan yang kau lakukan, maka semakin menunjukkan ada kelainan jiwa yang kau perlihatkan. Kecuali, pelaporannya memang demi kepentingan umum, berdasarkan fakta yang ada. 

Melaporkan tindakan korupsi, melaporkan penghinaan pada agama/Rasis karena berpotensi merusak persatuan. Untuk hal yang bersifat pribadi, ada baiknya dibawa santuy. 

Semoga kita terhindar dari sikap tukang lapor ini. Janganlah kita menyerupai sifat sebuah kaum, karena nantinya kita akan masuk dalam golongan mereka. 

Amit-amit jabang bayi...😳😳

(By Setiawan Budi)