GONG PERANG UNTUK DEMOKRAT

GONG PERANG UNTUK DEMOKRAT

Demokrat, PDIP, dan Gerindra itu partai yang sama ketika ketokohan dijadikan ikon partai. Demokrat dengan SBY, PDIP dengan Megawati dan Gerindra dengan sosok Prabowo. Dulu Golkar pun demikian, nama Soeharto adalah ikon partai berlambang beringin tersebut. 

Kasus 98 menjadi titik balik runtuhnya singgasana Soeharto dan kolega di Golkar. Yang mengakibatkan, Golkar berpindah tampuk pimpinan dan meniadakan keluarga cendana dalam struktur organisasinya. Ini fenomenal, sebuah partai yang cukup dikenal dengan nama Soeharto, akhirnya berpindah tangan tanpa ada nama keluarga cendana didalamnya. 

Sesuatu yang mustahil, tapi benar terjadi. 

Melihat kekhawatiran Demokrat dengan pernyataan AHY sang putra mahkota SBY, ini bakalan jadi seru. 

Periode pertama Jokowi, Demokrat selalu menampilkan politik abu-abu. Dibilang koalisi tidak, dikatakan opisisi tidak juga. Dan ini sangat menyenangkan bagi pemerintahan Jokowi. 

Peranan Demokrat adalah penyeimbang, malah mengesankan Demokrat menahan laju karena ada kartu yang dipegang penguasa. Jika kartu ini dibongkar, maka Demokrat akan berakhir seperti Golkar yang berpindah tangan. 

Memasuki periode ke-2, perolehan suara Demokrat terjun bebas. Satu-satunya partai yang hasilnya menurun drastis pada Pemilu 2019 adalah Demokrat. Sadar akan hal ini, Demokrat memilih jalan ninja sebagai oposisi. Terlebih momentnya sangat tepat, ketiadaan Gerindra di kubu oposisi menciptakan relawan yang hilang pegangan. 

Demokrat mengambil peluang itu untuk menaikkan kembali nama mereka yang kemarin jatuh. Sayangnya, memilih berada di jalur oposisi menandakan Demokrat harus siap berhadapan dengan rezim yang bisa melakukan apa saja, termasuk membuka "dosa lama". 

Kasus kudeta saat ini, adalah bukti bahwa pertarungan itu telah dimulai. 

Kasus Hambalang masih menyisakan nama putra mahkota yang lainnya (Ibas -red). Orang berpikir kasus tersebut telah usai dengan ditangkapnya pejabat struktural Demokrat. Namun banyak keyakinan bahwa putra mahkota ikut terlibat namun masih belum tersentuh. Bahkan keterangan para tersangka ada menyebutkan peranan sang putra mahkota.

Tokoh-tokoh yang dianggap merancang kudeta telah disebutkan. Dari beberapa nama, ada mantan napi kasus korupsi yang melibatkan kader Demokrat yang memiliki jabatan penting kala itu. Mantan napi itu pernah menyebut peranan putra mahkota dalam korupsi yang menjeratnya. Bahkan mantan ketum yang saat ini masih ditahan, juga menyebutkan nama yang sama. 

Apa yang terjadi di Demokrat saat ini bisa jadi api perlawanan baru pada diri Demokrat. Sebaliknya pemerintah yang dituduh ikut serta karena keterlibatan orang istana, bisa jadi akan menampik dan memandang Demokrat tidak lagi seperti kemarin. 

Mereka yang menjadi pesakitan dulu, saat ini kembali dengan mendapatkan "dukungan" dari orang dalam pemerintahan. Kita sudah tau bagaimana rezim ini bisa melakukan apa saja ketika mereka sudah menginginkannya. 

Apa jadinya kalau ada pihak yang kembali melaporkan peranan putra mahkota dan pemerintah membuka peluang itu sebagai bentuk tidak terima karena telah ditunjuk terlibat kudeta oleh Demokrat? 

Para saksinya adalah mereka yang dituduh terlibat dalam kudeta. Bayang-bayang pengambil alihan Golkar karena kasus yang menjerat Soeharto akan terjadi pada Demokrat. 

Demokrat meradang, meributkan dan menaikkan masalah ini ke sosial media untuk meminta dukungan. Perebutan kekuasaan secara inkonstitusional kata AHY. Kader-kader mereka telah ikut meramaikan dengan menunjuk peranan istana. 

Yakin istana akan diam saja? 

Walau saya percaya ada peranan orang dalam istana, namun pasti mereka gak akan diam dan menerima tuduhan itu secara mudah. Mereka pasti akan membalas, membuka kembali peti es yang telah menyimpan berkas kasus lama. Dan menaikkannya untuk memberi perlawanan dan mengirimkan pesan khusus pada Demokrat. 

Esok jangan kaget apabila ada oknum yang tiba-tiba konfrensi pers, bahwa dia kembali membuka kasus lama dan meminta KPK untuk mengungkapnya. 

Jika itu terjadi, Demokrat wajib waspada. Karena Golkar pernah merasakannya.

Ribut saat ini, bukan berarti perkara telah usai. Keributan ini sebagai tanda, gong pertarungan telah ditabuh. Sebagai penonton, saya ikut nyimak sambil ngemil Teh Talua Tapai..

Mantaaaap..👍👍

(Setiawan Budi)