BUZZER...BUZZER...BUZZER...

BUZZER...BUZZER...BUZZER...

Saya berterima kasih atas pernyataan Pak Jokowi yang siap menerima kritikan. 

Tapi sekali lagi, karena yang ngomong adalah Pak Jokowi, tentu saja kita harus berhati-hati. Beliau adalah orang yang sama yang menjanjikan September beberapa tahun yang lalu ekonomi akan meroket (nyatanya nyungsep). Beliau juga pernah menyatakan akan mempersulit impor, menggigit koruptor dan berbagai pernyataan yang pada kenyataannya malah terbalik.

Jadi jangan-jangan ketika beliau menyatakan siap menerima kritik, yang beliau maksud adalah sebaliknya. Siap menerima pujian dan akan tetap menghantam yang berani berseberangan.

Menurut saya, Pak Jokowi secara langsung memang tidak berbahaya. Tapi "buzzer-nya" yang sangat berbahaya dan membahayakan kebebasan berdemokrasi di Negeri ini.

Sudah berapa banyak rakyat yang ditangkap gara-gara Laporan Buzzer beliau?  

Mulai dari Bang Jonru Ginting, Mas Ahmad Dani, Gus Nur, Almarhum Ustadz Maher dan yang lainnya. 

Memang sebagian kasus hukumnya bukan karena "menyerang" Pak Jokowi. Tapi karena dianggap melecehkan dan memfitnah Ormas dan beberapa orang tertentu. Tapi perlu kita catat, Ormas dan orang-orang tertentu, dan paling utama, yang melaporkan adalah semua Pendukung Garis Keras Pak Jokowi.

Sebaliknya, banyak juga hujatan kepada Pak Prabowo, Pak SBY, PKS, UAS bahkan Ormas Muhammadiyah. Setahu saya, satupun tidak ada yang masuk penjara.

Sekarang kembali ke Buzzer...

Walaupun ada upaya cuci tangan dan penolakan dari beberapa pihak, tapi istilah "buzzer" setahu saya mulai pertama kita dengar sejak Pilgub DKI 2012. Ketika ada seseorang Calon Gubernur DKI  yang menjual "kesederhanaan" ketimbang Konsep dan Pemikiran.

Pada dasarnya orang itu menurut saya memang cuma memiliki kesederhanaan. Wajah sederhana, penampilan sederhana dan otak serta kecerdasan yang sayangnya juga sangat sederhana.

Karena memang tidak memiliki sedikitpun konsep dan pemikiran yang cemerlang, akhirnya para cukong dibalik orang tersebut menggunakan jasa buzzer. Muncullah "ormas" Buzzer pertama. Jasbong alias Jaringan Sarang Pembohong atau boleh juga kita sebut Jaringan Sarang Kecebong. 

Tentu saja Jasbong bukan nama sebenarnya (Maaf, kita memang mesti hati-hati kalau mengkritik orang-orang yang lagi berkuasa). Yang jelas Ketua Jasbong sekarang sudah duduk nyaman di Kursi Komisaris BUMN.

Jadi tidak usah kita berdebat. Sudah jelas kapan pertama kali munculnya para Buzzer. Sejak saat itu juga Dunia Media Sosial Indonesia yang sebelumnya tenang, adem, sopan dan bersahabat, berubah jadi ajang caci-maki, saling hujat, dan saling memutuskan tali silaturrahmi.

Jadi kalau mau Indonesia kita kembali tenang, tolong Pak JW tanpa Marriot, Kendalikan Buzzer-buzzer Anda!

(By Azwar Siregar)

*sumber fb

BUZZER...BUZZER...BUZZER.... Saya berterima kasih atas pernyataan Pak Jokowi yang siap menerima kritikan. Tapi sekali...

Dikirim oleh Azwar pada Selasa, 16 Februari 2021