DR. Tawakkul Karman, satu-satunya wanita arab dan tokoh Ikhwanul Muslimin yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian

[PORTAL-ISLAM.ID]  DR. Tawakkul Karman, satu-satunya wanita arab dan tokoh Ikhwanul Muslimin yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2011. Saat meraih hadiah nobel, Prof. Muhammad Badi hafidzahullah, mursyid Am IM, menghubungi beliau untuk mengucapkan selamat.

Beliau merasa bahagia mendapat kontak langsung dari sang mursyid, beliau berkata: “Kehormatan ini (hadiah nobel) merupakan hasil dari apa yang saya pelajari dari ajaran Islam, karena saya dibesarkan di sekolah Ikhwanul Muslimin.”

Tawakkul Abdus Salam Karman adalah nama lengkapnya, tapi ia lebih dikenal sebagai Tawakul Karman. Muslimah dari negara Yaman kelahiran  7 Februari 1979 ini bekerja sebagai jurnalis Muslim yang dikenal sangat kritis. Ia juga dikenal sebagai aktivis politik, aktivis hak asasi manusia, dan sekaligus aktivis dakwah.

Di bidang jurnalistik, ia memimpin kelompok “Jurnalis Wanita Tanpa Kekangan” yang kritis menyoroti berbagai isu sosial politik, terutama perempuan dan hak asasi manusia.  Korupsi di dalam pemerintahan juga menjadi fokus perhatian kelompok ini. Kelompok ini didirikannya pada tahun 2005 lalu.

Ia kemudian menjadi sosok utama dalam Revolusi Yaman 2011 yang merupakan bagian dari Arab Spring. Ia dijuluki "Wanita Besi" dan "Ibu Revolusi" oleh rakyat Yaman. Ia adalah salah seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2011 dan wanita Arab pertama sekaligus warga Yaman pertama yang memenangkan Hadiah Nobel.

Penjara dan Revolusi Melati

Muslimah dengan tiga anak ini  memperoleh perhatian besar di Yaman setelah keterlibatannya sebagai jurnalis Yaman pada tahun 2005 dan pendukung layanan berita telepon genggam pada tahun 2007, yang setelah itu ia memimpin protes demi kebebasan pers. Ia mengadakan unjukrasa setiap pekan pada hari Selasa sejak Mei 2007.

Bagi kita, seorang ibu muda berusia 32 tahun tidak mungkin mampu melengserkan sebuah rezim yang berusia 30 tahun, tapi Tawakkul Karman berhasil membuktikannya. Ia dikenal sebagai “Ibu Revolusi” Yaman dan memimpin berbagai unjuk rasa hingga menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh yang diktator.

Tawakkul Karman mengidentifikasi dirinya sebagai juru kampanye bagi para pemuda Yaman terasing dari hiruk pikuk kehidupan. Dia juga merupakan anggota partai Islam oposisi terbesar di Yaman, Partai Al Ishlah, yang telah mengkoordinasi banyak protes terhadap Saleh dan membeli makanan dan persediaan medis untuk ribuan pengunjuk rasa yang berkemah di Lapangan Perubahan. 

Pada awal tahun 2011, bulan Januari, dunia menyorotnya karena ia ditangkap oleh pemerintah Yaman dari dalam mobilnya. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Padahal bukan hanya kali ini saja ia dipenjara oleh rezim Ali Abdullah Saleh. Ia sudah berkali-kali dipenjara. Hal itu memicu ribuan demonstran turun ke jalan menuntut pembebasannya. Hal inilah yang mendorong revolusi Yaman. Tawakkul Karman menyebutnya “Revolusi Melati”.[]