Felix Siauw: Baru Cucunya, Belum Kakeknya

Baru Cucunya

Diatas seluruh makhluk yang layak dicinta, adalah Rasulullah Muhammad yang paling tinggi kelayakannya. Tak mencintanya berarti merugi, sebab penduduk langit bumipun mencintanya.

Mencintai beliau berarti mencintai keluarganya, itulah sebab kita takdzim pada keluarga Nabi Muhammad. Karena kecintaan kita pada kakeknya, cucu-cucunya kita panggil Habib, sematan cinta.

Satu hari yang terjanji, ketika Nabi Muhammad menandai satu-persatu manusia di padang luas, kita berharap dipanggil, minimal dikenali, agar termasuk bagian yang dinaungi keselamatan.

Andai cucu-cucu Rasulullah, para Habaib, menghampiri kakeknya di hari itu, kita menunduk dan berharap, kecintaan kita pada para Habaib bisa membawa kecintaan Rasulullah pada kita.

Yang kita takutkan, Rasulullah tak mau memandang wajah kita, tersebab tingkah kita di dunia, menyakiti keluarganya, hingga Rasul pun tak berkenan pada kita di akhirat.

Benar, kita takkan pernah melebih-lebihkan manusia, tapi bahkan kadang seorang suami yang terlanjur cinta pun punya kelakuan yang aneh bagi sekitarnya, begitulah para pencinta.

Kita mencintai karena Allah, berbaris dalam perjuangan, berpegangan dengan tali agama Allah. Karena itulah tiap-tiap mereka yang mewarisi Nabi Muhammad, adalah cinta sejati kita.

Rindu sudah terobati saat jarak pergi menjauh, waktu telah tiba bagi perjumpaan untuk membetikkan asa perjuangan. Ahlan wa sahlan Habibana, yang dicinta sebab cinta pada kakeknya.

Dan begitulah dalam tiap episode dunia, saat cinta sudah mengemuka, ada pula hati-hati yang sudah buta, tersambar angkara murka, jiwa terluka seolah tersiram cuka.

Ya Rabb.. hari ini baru salah satu cucunya, lalu bagaimana gembiranya kami ketika besok berjumpa dengan kakeknya. Allahumma shalli 'ala sayyidinaa Muhammad.

(Felix Siauw)