BODOH AQIDAH DIJADIKAN ULAMA

BODOH AQIDAH DIJADIKAN ULAMA

Oleh: KH. Luthfi Bashori

“Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyang”. Cuplikan tembang Jawa bernada nasehat ini terasa benar-benar kini sudah sering terjadi di sekeliling kehidupan umat Islam. Adapun maksud dari lirik lagu ini adalah penggambaran, bahwa jaman sudah hampir berakhir dan dekat Qiamat, maka keadaan bumi ini semakin bergoncang tidak stabil.

Banyak orang kaya yang diberi kewenangan dan kekuasaan untuk dapat menguasai harta haram hingga mengeruk kekayaan alam, sedangkan orang miskin semakin banyak yang digencet dengan melambungnya harga sembako, ditarik pajak setinggi langit, digusur tanah dan rumahnya, seakan-akan bumi bergoncang karena tiada keadilan buat mereka.

Kini bermunculan di berbagai belahan dunia, orang jahat nan pandir yang sengaja diangkat menjadi pemimpin boneka, terutama oleh kalangan oligarki yang mempunyai kepentingan jabatan dan keduniawian semata, sedangkan banyak pula orang baik yang pandai nan cendikia, namun sengaja diusir dan dijauhkan dari dunia kekuasaan, tujuannya agar tidak mengganggu kepentingan para penguasa. Bumi memang terasa sudah terbalik dan bergoncang.

Yang ironis lagi, dewasa ini banyak bermunculan figur-figur orang yang hakikatnya bodoh aqidah, awwam agama, tidak mengerti aturan asbabur riddah (beberapa perilaku yang menyebabkan kemurtadan) sebagaimana tertera dalam kitab-kitab para ulama salaf, namun figur-figur tersebut kebetulan dikenal sebagai orang-orang yang pandai berorasi serta suka membawa-bawa teks agama dalam orasinya, hingga akhirnya distigmakan oleh media sosial sebagai figur tokoh ulama panutan, padahal tidak bisa mengaji kitab agama. Bahkan tak jarang mereka berani mengajak umat Islam untuk menjual aqidahnya demi segepok uang.

Misalnya, betapa beraninya para ulama karbitan versi media sosial ini, yang sengaja mengkolaborasikan ajaran agama Islam dengan ritual kekafiran dalam satu kegiatan bersama, entah itu dengan ritual gereja atau ritual agama lainnya, belum lagi ritual kejawen yang diselingi kemusyrikan sesembahan kepada makhluk halus, namun dikemas atas nama pelestarian kebudayaan.      

Diriwayatkan dalam kitab Shahihain dari hadits Shahabat Abdullah bin Umar RA bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama secara langsung dari para manusia. Akan tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Ketika tidak tersisa seorang alim pun, maka orang-orang awwam akan mengangkat para pemimpin yang bodoh agama. Kemudian mereka ditanya ilmu agama, lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu yang memadai, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan banyak orang.”

Disebutkan dalam Mukhtashar Syu’ab Al-Iman dalam mengomentari hadits ini, yakni para ulama yang hakiki akan banyak yang wafat, dan terbukalah ruang yang seluas-luasnya bagi orang-orang yang bodoh agama untuk tampil menggantikan peran para ulama hakiki.”[]