RAFAH, Garis Batas MESIR & GAZA


RAFAH, Garis Batas MESIR & GAZA

Pada masa Kekhalifahan Amirul Mukminin Umar Bin Khattab, pasukan Islam dibawah komando Amru Bin Ash membuka Gaza dan Mesir. Selama beratus۔ratus tahun kemudian Gaza dan Mesir berada dalam naungan Islam tanpa garis batas yang memisahkan keduanya meskipun para pemimpin datang silih berganti mulai dari zaman Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Zankiyah, Ayyubiyah hingga Utsmaniyah. Bahkan di era modern (pasca perang Arab-Israel tahun 1948) Gaza tetap dibawah Mesir hingga tahun 1967 sempat dicaplok Israel.

Setelah bangkit dari cengkeraman penjajahan Kolonialisme Barat di awal dan pertengahan abad ke 20, Dunia Islam bereuforia dengan 'nation state' garis batas baru yang sebagian besarnya justru diciptakan dan digariskan oleh penjajah.

Garis batas itu berarti kemerdekaan, nasionalisme. Cinta tanah air dan nasionalisme adalah suatu hal yang sakral, sebagian dari "iman" dan yang menentangnya adalah pengkhianat.

Akan tetapi, kecintaan pada tanah air dan nasionalisme itu tidak berlaku untuk bangsa seperti bangsa Kurdi atau bangsa Kashmir, Papua, Aceh dll yang ingin mendirikan negara nasionalisme baru. Banyak tokoh dan ulama seperti Buya Hamka, Sayyid Abdullah Al-Ghumari hingga presiden Mursi dll yang dipenjara dan dibunuh karakter hingga nyawanya karena dituduh pengkhianat dan tidak nasionalisme.

Mesir dan Gaza resmi terpisah paska perjanjian Oslo 1993 dimana Israel menyerahan Gaza ke PLO. Ketika Hamas menguasai Gaza tahun 2007, Israel memblokade Gaza melalui darat dan laut hingga melumpuhkan sektor ekonomi jalur Gaza. Masyarakat Gaza yang membutuhkan barang-barang pokok dari Mesir kemudian menggali terowongan diperbatasan Rafah untuk menyelundupkannya ke Gaza. Hingga kemudian Husni Mubarak mendirikan tembok baja sepanjang 10 km dengan kedalaman 20 sampai 30 meter kedalam tanah diperbatasan Rafah yang makin mencekik rakyat Gaza.


Kemarin, 3 orang nelayan kakak beradik warga Gaza yang sedang mencari penghidupannya di laut Rafah ditembak oleh angkatan laut Mesir karena melewati garis batas. Dua orang meninggal, satunya terluka dan ditahan pihak keamanan Mesir.

Bagi tentara Mesir, apa yang mereka lakukan bisa jadi dianggap sebagai bentuk pengabdian terhadap tanah air dan agama. Karena cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Bagi rakyat Gaza, khususnya keluarga korban apa yang dilakukan tentara Mesir bisa dipastikan sebuah kejahatan besar menurut agama.

Siapa yang salah? tentara Mesir? Nelayan Gaza? Agama atau ada kesalahan dalam pemahaman kita terhadap nasionalisme?

Apakah kita harus percaya pada penyair Palestina Tamim Al-Barghoutsi bahwa nasionalisme yang dianggap sebagai kemerdekaan sejatinya adalah penjajahan model baru yang melemahkan dan menceraiberaikan Islam dan Arab?

(By Taufik M Yusuf)