Petinggi Ansor vs Jenderal Gatot


SEBUAH KATA PENGANTAR DARI FILM G30S/PKI

Seharusnya pemerintah senang, karena bulan September bukan diramaikan dengan omongan janji ekonomi yang meroket. Entah bulan September ke berapa ini.

Bicara PKI di bulan September itu suatu pengingat bahwa pada bulan inilah sebuah sejarah telah dicatatkan oleh PKI. Pemberontakan Madiun 1948 dan G30SPKI terjadi pada bulan ini.

Sebuah pemberontakan yang harus di kenang agar tidak terjadi pengulangan. Soeharto membuat film G30S/PKI mempunyai tujuan begitu, agar film tersebut menjadi pengingat dan kewaspadaan, bahwa pernah ada sebuah upaya makar yang dilakukan oleh PKI.

Menilai PKI dan segala bentuk kejahatannya gak melulu dari film tersebut. Boleh saja ada pihak yang meragukan film tersebut sesuai runutan kisah nyata di malam biadab, namun tidak semuanya apa yang terjadi di film tersebut dianggap dusta/manipulatif. Kematian para jendral itu fakta, keluarga mereka pun sudah bersaksi dengan mengingat kejadian malam biadab itu.

Bahkan ada yang berkata bahwa perlakuan PKI lebih kejam dari film yang biasa kita tonton.

Sebagai penonton yang dari kecil sudah melihat film itu, sedikitpun saya gak ada menjadikan film tersebut sebagai gambaran kejadian 65 yang mencitrakan PKI memang bahaya. Literasi saya bukan film itu saja, sebuah film hanya pengantar berita yang membuat saya mencari referensi tambahan dan menemukan banyak fakta, bahwa PKI memang sangat bahaya.

Tahun 65 adalah puncak kebrutalan PKI, menuju tahun itu sudah banyak kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dan benar-benar mengancam negeri ini.

Bapak Luqman Hakim sebagai seorang NU (Anggota F-PKB DPR RI, Ketua Bidang Politik & Pemerintahan PP GP Ansor), seharusnya bersyukur pada Soeharto karena hanya memfilmkan kejadian 65. Andai Soeharto memfilmkan kejadi Madiun 48, apakah bapak bisa berkata seperti ini?

Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 banyak membunuh rakyat sipil. Korban mereka justru orang-orang yang menjadi warga NU. Para kyai, santri, lurah, dan masyarakat agamis yang tidak tunduk pada idiologi mereka harus dijemput malam dan dieksekusi dengan kejam.

Dijemput dan tidak pernah kembali, bahkan tidak pernah ditemukan dimana mayatnya. Banyak kesaksian para keluarga korban, masyarakat yang mengalami dan masih hidup bercerita bagaimana situasi saat ini dengan PKI yang dominan membenci agama islam.

Pesantren mereka anggap musuh yang harus dihabisi. Para kyai dan santri adalah orang-orang yang harus disingkirkan karena menganggu perjuangan mereka.

Jika pemberontakan 48 yang dibuatkan film, apakah Bapak Luqman Hakim mampu untuk berkata tendensius begini? Bisa saja Bapak Luqman hanya diam, namun saya gak yakin orang NU akan melupakan bagaimana PKI pernah menganyang mereka tanpa belas kasihan.

Film G30S/PKI bagi saya adalah jendela untuk melihat bagaimana PKI merongrong negara ini. Sebagai bentuk pembelajaran bagi kaum muda kita untuk mengenal bahwa di negara ini pernah ada kelompok yang begitu dekat dengan penguasa, namun mempunyai niat untuk menggulingkan kekuasaan dengan idiologi yang mereka bawa.

Buat Bapak Luqman dan warga NU yang ikut mengecam Pak Gatot di tweetnya, seharusnya bersyukur bahwa hanya film G30SPKI yang diangkat, bukan kejadian Madiun 1948.

(By Aaron Jarvis)