Berdamai dengan "Teroris"


Berdamai dengan "Teroris"

Sejak penyerangan 11 September 2001, jargon "tidak untuk negosiasi dengan teroris" viral. Semua negara mengaminkan. Tidak ada yang berani membahas apalagi mempertanyakan keabsahannya. Tidak juga tentang definisi terorisme, radikalisme, pun saat diidentikkan dengan Islam.

20 tahun berlalu. Tetiba perwakilan Taliban "sang teroris" itu diterima resmi di banyak pemerintahan dunia: Asia, Afrika, Eropa, Arab, hingga AS. Safari yang berujung pada penandatanganan damai antara Taliban dengan pemerintah AS, pada 29 Februari 2020 di Qatar.

Jargon "tidak bernegosiasi dengan teroris" pun runtuh. Sekali lagi, tanpa ada kontroversi, kecaman, penolakan. Sebaliknya, kesepakatan itu digambarkan sebagai kesepakatan bersejarah untuk mewujudkan perdamaian. Mengapa? Sebab pelaku di poin pertama dan kedua, sama-sama Amerika Serikat.

Nampaknya, ada beberapa sebab mengapa AS berubah haluan.

Pertama, kampanye soal terorisme dan radikalisme Islam, sudah "sukses" ketika umat Islam membenci ajaran Jihad di banyak tempat. Jika jihad masih digelorakan dan terbukti AS negara adidaya pun lumpuh di Afghanistan, maka boleh jadi gerakan jihad Taliban kembali menginspirasi dunia Islam lainnya dalam melawan hegemoni penjajahan Barat di dunia Islam.

Kedua; AS telah menemukan pengganti dari kampanye perang melawan terorisme (Islam) berubah menjadi kampanye Kearifan Ibrahim. Ajakan yang disambut baik dan dibiayai negara-negara Teluk model UAE, yang akan dikampanyekan ke seluruh dunia Islam. Targetnya, menciptakan agama baru hasil perpaduan agama samawi. Sekaligus mencerabut Islam hakiki dari lingkungan Eropa dan Amerika yang semakin menguat.

Ketiga; Ongkos perang AS di Afghanistan, membengkak. Hal yang mendorong pemerintah Amerika untuk bernegosiasi dengan Taliban. Pengeluaran Departemen Pertahanan AS sendiri di Afghanistan telah mencapai 840 miliar dolar, menurut Pusat Studi Internasional dan Strategis. Sedangkan angka yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan AS, total pengeluaran militer Amerika di Afghanistan dari Oktober 2001 hingga Maret 2019 adalah sekitar $ 760 miliar.

Tetapi studi independen yang dilakukan oleh Cost of War Project di Brown University, Disimpulkan bahwa angka resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah AS tidak mencerminkan kenyataan secara luas. Studi tersebut menyimpulkan bahwa angka resmi tidak termasuk biaya pengeluaran untuk merawat tentara Amerika yang terluka, maupun uang yang dikeluarkan oleh kementerian negara AS lainnya terkait dengan perang di Afghanistan, maupun biaya bunga yang ditimbulkan oleh pemerintah karena pinjaman yang diperlukan untuk memenuhi biaya perang. Studi Brown University memperkirakan biaya perang di Afghanistan mendekati satu triliun dolar.

Perang di Afghanistan juga telah menyebabkan banyak korban jiwa, bagian terbesar dari pasukan Amerika Serikat, dengan 3.200 tewas dan 20.500 luka-luka sejak 2001, jumlah yang melebihi dua kali lipat jumlah kerugian negara-negara koalisi di sana. Presiden Afghanistan mengatakan awal tahun ini bahwa lebih dari 45.000 tentara Afghanistan telah tewas sejak dia menjabat pada tahun 2014.

Apakah pemimpin Taliban berubah? Tidak. Taliban tetap istiqomah dengan tujuannya. Dalam pidato pembukaannya di konferensi Doha, Abdul Ghani Baradar, kepala biro politik Taliban, menyerukan Afghanistan untuk menjadi negara merdeka dengan sistem Islam jika kesepakatan damai dicapai dengan pemerintah Afghanistan selama negosiasi tersebut.

"Saya ingin semua orang mengadopsi Islam dalam negosiasi dan kesepakatan mereka, dan tidak mengorbankan Islam demi kepentingan pribadi," kata Brader. Dia menambahkan, "Kami ingin Afghanistan menjadi negara yang merdeka, makmur, dan Islami," dan "memasukkan sistem Islam di mana setiap orang hidup tanpa diskriminasi."

(By: Nandang Burhanudin)