Sebuah Tanggapan Untuk Pak Menteri "Sesama Keluarga Miskin Besanan, Lahir Keluarga Miskin Baru"


TANGGAPAN UNTUK PAK MENTERI

Oleh: Arka Atmaja

Kemain, saya di WA tetangga, "pak ada hp bekas nggak dipakai? Buat pelajaran online anak saya" katanya, aduh kasian, apalagi ini keluarga bisa dikatakan pas pasan. Kalau ngak ada hp, ndak bisa ikut sekolah. Hp saya yang sudah pecah lcd-nya pun di tembung.

Baru dapat WA kayak gitu, Ini saya baca berita kok lebih menyedihkan lagi, ada seorang menteri, inisial M, ah nggak usah inisial lah, namanya Muhajir menko PMK, yang ngomong orang miskin besanan sama orang miskin menghasilan kemiskinan baru.

Duh ya, ni pak mentri, maaf pak, anda digaji mahal-mahal pakai uang rakyat mbok ya dipikir dulu, jangan asal, ni rakyat udah susah, masih harus dengerin ocehan pejabat yang kayak gini.

Kalau cuma ngomong kayak gini ya pak, nggak usah bapak lah mentrinya. Si Bolot aja tuh mentrinya, biar sekalian nggak nyambung gitu.

Pak, bener, bahwa ada teori, orang miskin akan melahirkan kemiskinan baru, vicious circle proverty, teori lingkanan kemiskinan. Tapi bukan karena besanan.

Coba saya gambarkan sedikit, lingkaran kemiskinan, orang miskin akan tetap miskin dan melahirkan orang miskin.

Orang miskin Produktifitas rendah, hasilnya Pendapatan rendah, karena pendapatan rendah, konsumsi ikut rendah, tabungan rendah, investasi rendah, pembentukan modal ikut rendah. Akhirnya produktifitas kembali rendah. Udah muter-muter gitu aja.

Tugas Negaralah memutus lingkaran kemiskinan itu agar rakyat terentaskan dari kemiskinan. Gimana sih caranya mutus? Kuncinya adalah Pendidikan. Kenapa pendidikan? Karena hanya dengan pendidikan, bisa meningkatkan produktifitas dan pendapatan.

Orang miskin dengan pendidikan rendah, sama-sama bekerja 8 jam, ia akan mendapatkan penghasilan/pendapatan yang jauh lebih rendah dibanding yang berpendidikan lebih tinggi.

Orang yang berpendidikan akan lebih mendaparkan akses pekerjaan yang lebih baik, akses modal, usaha, bisnis, meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga tabungan dan konsumsi naik, investasi naik, modal naik, produktifitas naik, anak yang dilahirkan juga mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi. Terputuslah kemiskinan.

Udah banyak contoh lah dibelahan dunia manapun, Jepang misalnya, apa coba yang dibangun Jepang setelah kekalahan diperang dunia ke 2, membangun SDM, pendidikan. Sekarang lihat Jepang. Jepang itu negara kecil, penduduk dikit, jauh dibanding Indonesia. Tapi Indonesia banyak rakyatnya mayoritas pendidikan rendah.

Sekarang ini lagi ada persoalan Pendidikan dikala pandemi, harusnya bapak selesaikan ini masalah. Ini pembelajaran daring begini semakin memberikan kesenjangan pendidikan. Yang miskin nggak punya kuota, nggak punya perangkat, nggak bisa mendapatkan hak pendidikan. Anda pak menteri malah bicara soal besan.

Kayaknya Presiden Jokowi harus segera rapikan ini mentri, ini mentri pada ngaco ngomongnya.

Moga aman deh negeri kita ini, cuma bisa doa....[]