Karena Politik Kita Pendek, Perlu Dipanjangin


Karena Politik Kita Pendek, Perlu Dipanjangin

Oleh: Setiya*

Politik kita pendek. Yang digadang-gadang ujungnya dibuang. Bertahun-tahun mesra, tiba-tiba berbeda. #eaa

Sejauh ini, belum ada kesepakatan politik yang bisa bertahan panjang. Bahkan ketika dibangun dengan semangat ideologis sekalipun. Lihat saja bagaimana beragamnya warna koalisi saat pilkada.

Dalam perspektif ideologis, partai berhaluan "kanan luar" sekalipun, bisa berkoalisi dengan yang "kiri luar". Yang dianggap paling merah bisa berkoalisi dengan yang paling putih. Sangat cair. Berdasar pertimbangan yang pendek lebih taktis, bukan jangka panjang.

Memang, dalam konteks pilkada ada pertimbangan yang bersifat lokal. Misalnya perolehan suara atau kursi tiap partai, kesiapan tokoh partai dan seterusnya. Misalnya saja ada partai pemenang yang rela menjadi wakil, karena tokoh partainya kalah pamor dengan partai lain.

Kalau cairnya politik di pilkada dianggap terlalu lokal, dalam skala nasional ternyata kita sulit juga menemukan kesepakatan politik yang dibangun dalam jangka panjang. Dulu Bu Mega dan Pak Prabowo pernah membuat kesepakatan Batu Tulis pada 16 Mei 2009. Namun kesepakatan itupun tidak bisa bertahan lama, pendek saja.

Koalisi merah putih (KMP) pada pemilu 2014 sepertinya akan bertahan untuk jangka agak panjang. Namun akhirnya bubar juga. Meski Pak Jokowi dan Pak Prabowo kembali bersaing pada pilpres 2019, namun dengan koalisi yang berbeda.

Menyambut pilpres 2024 kita akan melihat manuver tiap tokoh dan partai. Yang bisa jadi konstelasinya akan berbeda sama sekali dengan saat ini. Yang seakan mesra, bisa jadi nanti akan berhadap-hadapan.

Politik yang pendek itu ibarat melakukan perjalanan jauh, namun terlalu sering berhenti. Menghabiskan banyak waktu di perjalanan dan tentu saja tidak segera sampai tujuan.

Akibatnya dalam banyak hal, kita sebagai negara akan makin ketinggalan dengan negara-negara lainnya. Padahal kita tuh memiliki potensi yang amat sangat besar. Baik potensi sumber daya alam ataupun manusia.

Menyadari realitas itu, kita butuh memanjangkan cara berpolitik. Sayangnya untuk memanjangkan politik, kita tidak bisa meminta jasa Mak Erot. Maka Gelora lahir menawarkan sebuah rumusan cita-cita bersama untuk membawa Indonesia menjadi kekuatan utama dunia. Satu cita-cita yang diharapkan bisa menyatukan semangat kolektif bangsa.

Sependek apapun kita dalam praktek berpolitik, namun tidak lupa cita-cita bersama membawa Indonesia lima besar dunia. Agar kalaulah kita sesaat ribut, karena kompetisi dalam pemilu atau pilkada, tapi jangan menghabiskan waktu. Segera move on, agar Indonesia enggak kalah dengan negara lain yang terus melaju. Bahkan meroket.

Kini, virus corona seakan me-restart dunia. Semua negara menghadapi masalah yang sama. Menjadi tantangan kita bersama, sebagai bangsa Indonesia, untuk berkerja sama melakukan lompatan-lompatan besar. Memberi yang terbaik bagi bangsa dan dunia. Karena Indonesia adalah panggung kita bersama.

Jumat, 7 Agustus 2020

*Penulis Sekjen DPW Partai Gelora DI Yogyakarta