INI BUKAN SOAL HRS


INI BUKAN SOAL HRS

By Nazlira Vardha

Subyektifitas facebook sebagai penyedia aplikasi sosial media telah menembus batas logika dan etika moral sebuah penyelenggara ruang opini publik.

Dalam menyampaikan opini politik, saya nyaris tidak pernah mengutip postingan orang lain, tapi kekerdilan moralitas para operator Facebook menembus pula ego dan idealisme saya untuk harus mengutip postingan Legisan S Samtafsir si penulis artikel yang diberangus Facebook ini.

Bagi saya, ini bentuk solidaritas dan perlawanan sesama penulis atas ketidak adilan Facebook dalam menjalankan kegiatannya di Indonesia.  Facebook harus tau bahwa mereka diterima disini karena berdaulatnya rakyat negeri ini, bukan kekuasaan rezim semata.

Berikut tulisan yang dihapus Facebook setelah ribuan kali dishare hanya dalam tempo 2 jam setelah dipublikasikan.

***


EFEKTIF, RESONAN, BERPENGARUH

Oleh Legisan S Samtafsir 

Foto ini mengandung makna yg luar biasa. Uupss...., saya tidak sedang berbicara mengenai HRS. Saya bicara mengenai seorang leader. Foto ini berbicara tentang efektifitas, resonansi dan influence. Ketiganya lengkap pada HRS. Jarang sekali pemimpin sampai begitu powerfull.

Bisa dibayangkan, jauhnya jarak beliau dengan pengikutnya, 7.911 km, 9 jam dengan pesawat, tapi pengaruh beliau tak berkurang. 1 posternya dibakar 1000 poster baru diberdirikan oleh pengikutnya.

Di tengah tekanan penguasa, di tengah fitnah yg terus disebarkan, di tengah himpitan kesulitan krisis, tapi soliditas konstituennya semakin kuat. Gerakan amar makruf nahi mungkarnya gak berkurang; gerakan dakwahnya terus berjalan; aktivitas bantuan sosialnya terus mengalir. Lihat... efektif sekali.

Apakah konstituennya minta gaji ? TIDAK.

Apakah pengikutnya minta jabatan? TIDAK.

Apakah pengikutnya minta harta, pangkat, rumah, mobil, uang? TIDAK.

Ini tuntunan sekaligus tontonan yg menarik, yg membuat kita semua bisa belajar, siapa sebenarnya leader itu.

Di sisi lain....

Banyak pemimpin mengeluh; anak buahnya brengsek, lamban, gak punya aura krisis, gak berprestasi, korupsi lagi. Padahal.... padahal gaji besar, fasilitas mewah, prestise tinggi, status sosial terhormat. Sang pemimpin terus mengeluh, menyalahkan sana sini, faktor global, eksternal, mengancam segera reshuffle, dan seabrek kekecewaan lain divideokan dan diunggah utk publik.

Saya katakan, yg seperti itu bukan pemimpin tapi pimpinan alias boneka. Dia penguasa tapi tidak berkuasa; ia leader tapi tidak leading; ia ruler tapi tidak ruling; ia pemerintah tapi tak kuat untuk memerintah.

Jadi siapa sebenarnya leader itu.?

Jawab saya, 'dia yg punya kekuatan influence, dia yg punya resonansi dan dia yg efektif, dia yg punya ikatan hati, moral dan spiritual dengan konstituennya, dia yg benar2 bertindak 'very low cost high impact'.

Dan akhirnya saya mengerti bahwa 'Leadership adalah hubungan'.

Seharusnya para pemimpin atau juga pimpinan di mana saja, bisa belajar dari foto tersebut.

Selamat belajar jadi pemimpin.

Terimakasih HRS....

[fb]

loading...