Prediksi Fahri Hamzah Terbukti


Tweet Fahri Hamzah pada tahun 2014 lalu.... saat jelang Pilpres 2014.

Terbukti sampak saat ini, kekuatan negara ini dalam memacu ekonominya berasal dari hutang.

Pada akhir 2014, posisi utang pemerintah berada di Rp 2.608,78 triliun.

Saat ini, Posisi utang pemerintah per akhir Mei 2020 mencapai Rp 5.258,57 triliun.

Artinya, selama +/- masa 6 tahun, pemerintah Jokowi nambah utang negara Rp 2.649,79 triliun.

Utang negara ini NAIK 2X LIPAT !!!

Bicara soal kekuatan uang, negara ini ibarat anak gadis yang memiliki orang tua kaya raya. Hartanya banyak, warisannya melimpah. Siapapun menantu yang didapat pasti akan senang karena kekayaan yang ada pada mertua.

Negara ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Indikator negara maju itu berada di eropa, tapi pahamkah kita bahwa negara maju eropa gak memiliki kekayaan alam seperti yang kita punya?

Inggris punya sawah? Enggak punya.
Belanda punya hutan luas? Enggak juga
Spanyol punya tambang emas gak? Nehi
Swiss punya garis pantai terpanjang gak? Preet

Kita punya semuanya, tapi mengapa kita gak bisa maju dan makmur masyarakatnya seperti mereka?

Presiden terpilih tanpa membawa visi ditubuhnya. Ketiadaan ilmu dan tujuan pasti, membuatnya mengandalkan banyak tenaga ahli yang berbisik. Jadi parah saat tenaga ahli yang terpilih membawa pesan pemain besar dibalik layar.

Sebagai negara pertanian, jadi rancu apabila kita tidak bisa menjadi negara penghasil kebutuhan pokok. Vietnam dan Thailand itu lebih kecil dari kita, tapi mereka sudah lama menjadi negara pengekspor terbesar beras dunia. Lucunya, kita malah impor dari mereka.

Sebagai pemilik hutan terbesar, negara kita malah tidak bisa manfaatkan hutan sebagai penunjang ekonomi rakyat. Sebaliknya, hutan ditebang untuk fasilitasi konglomerat. Yang untung mereka, rakyat hanya jadi pekerja yang mendapat upah mingguan atau bulanan.

Senagai pemilik sumber daya alam termisteri, apa yang gak dimiliki negara ini? Tambang emas ada, tambah timah ada, minyak ada, tembaga/besi ada, dan segala hal yang diperlukan dunia ada di negara ini.

Tapi lihat siapa yang kelola? Bukan kita, melainkan negara asing yang tanamkan sahamnya diperusahaan milik negara. Jika ada BUMN yang mengelola, keuntungannya pun akan habis membayar kompensasi hutang pada negara lain.

Sebagai pemilik lautan terpanjang, negara kita pun belum maksimal mengandalkan kekayaan laut untuk rakyat. Maraknya pencurian dan juga penyelundupan, membuat nelayan belum terangkat derajatnya.

Seorang pemimpin yang tidak tau kekuatan negaranya, maka akan menerima segala tawaran negara lain yang mengetahui potensi negara ini.

China misalnya, mereka paham posisi Indonesia dan kekuatannya. Maka itu mereka mencoba masuk ke bisnis strategis, melalui pihak yang memegang peranan penting di negara ini. Sektor apa yang belum dimasuki oleh kepentingan China di negara ini? Hampir semua sektor ada mereka.

Saat semuanya terbentuk, sebagai rakyat kita hanya bisa melihat hasil pembangunannya, tanpa bisa menikmati secara gratis. Ada harga apabila kita ingin menjamahnya.

Negara luar berlomba-lomba merayu kita agar memakai jasa mereka. Bantuan berupa hutang, infrastruktur, kerjasama pengelolaan, dan lain sebagainya dibunyikan seolah mereka peduli. Padahal mereka tahu, negara ini kaya namun diisi oleh pejabat yang rakus akan materi.

Pejabat negara bangga karena begitu banyak investor datang. Kemudahan diberikan dalam bentuk kebijakan, padahal kemudahan itu yang nantinya mengancam posisi anak negeri.

Bicara hutang negara, berbeda dengan hutang pribadi.

Seorang presiden membuat kebijakan hutang membabi buta. Itu hutang bukan atas nama dia pribadi. Melainkan atas nama negara. Jabatan presiden hanya maksimal 10 tahun lamanya. Setelah itu dia akan terganti dengan tetap menerima jatah bulanan seumur hidupnya sebagai mantan RI 1.

Dia gak akan memikirkan hutang yang telah dibuatnya saat telah usai menjabat. Penerusnya lah yang akan memikirkan dampak hutang yang dibuat. Rakyat akan tetap menanggung kebijakan hutang tersebut dengan pembebanan pajak.

Sungguh enak jadi presiden, seperti menantu yang mendapatkan mertua kaya. Harta berlimpah diberdayakan, digadaikan dan dijadikan umpan dengan alasan pembangunan. Saat nanti semua usai, hasilnya tidak sesuai bayangan. Sang menantu tingga memilih, bercerai dan melupakan semua masalah yang dia buat.

Sudah 1 periode berlalu, tidak ada perubahan ke arah perbaikan. Malah semakin megkhawatirkan ketika caranya masih mengulangi apa yang kemari dilakukan.

Laju ekonomi tersendat, beban masyarakat semakin berlipat, subsidi perlahat dicabut, hak rakyat dikebiri, pajak ditambah dan dibuat berdasarkan situasi. Siapa yang menangis dan tetap tertawa dikondisi saat ini?

Anak yang belum dilahirkan pun sudah ada beban hutang negara nantinya.

(IB)

__
*Referensi jumlah Utang pemerintah akhir 2014 dan akhir Mei 2020:
https://nasional.kontan.co.id/news/posisi-utang-pemerintah-per-akhir-mei-2020-mencapai-rp-525857-triliun
https://bisnis.tempo.co/read/1178080/sejak-2014-utang-pemerintah-jokowi-naik-rp-1-889-t