Pendaftaran Dibuka, Relawan Uji Coba Vaksin China Tidak Dibayar

(Uji klinis vaksin di Wuhan China)

[PORTAL-ISLAM.ID]  BANDUNG - Sebanyak 1.620 relawan dibutuhkan dalam proses uji klinis vaksin covid-19 dari China.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, menyatakan tim sudah memperoleh izin untuk melakukan uji klinis vaksin dari China. Karena itu, semua relawan yang ingin berpartisipasi sudah bisa mendaftarkan diri.

"Kerelewanan bisa memndaftarkan diri ke gugus tugas. Yang namanya vaksin bukan percobaan aneh-aneh jadi jangan khawatir. Karena disuntik biasa, nanti dilihat imunnya meninggi atau tidak," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil kepada wartawan, Selasa (28/7/2020).

Emil mengatakan, adanya vaksin ini merupakan kabar gembira. Berdasarkan informasi Menko Perekonomian, Indonesia akan mendatangkan vaksin dari tiga negara. Yakni, China, Korea Selatan dan Inggris.

Vaksin sendiri sebelum digunakan ditesnya harus tiga kali. Dua di negara asalnya dan yang ketiga di negara konsumennya. "Nah yang dari Korea dan Inggris belum dites klinis kedua, di negaranya. Kenapa dari Cina, Karena dia sudah mengetes dua kali di negaranya. Buat kita kan mana aja yang cepat," paparnya.

Menurut Emil, di Jabar sendiri angka reproduksi Covid-19 masih terkendali. Yakni, angka reprodukasinya di bawah satu lagi sekitar 0,84 persen. "Ini, masih terkendali," katanya.

Sebelumnya, Komite Etik Penelitian Universitas memberikan persetujuan terkait pelaksanaan uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3. Tim riset uji klinis vaksin Covid-19 Unpad mulai membuka pendaftaran peserta terhitung mulai Senin (27/7). “Benar, (Komite Etik) sudah (menyetujui),” ujar Ketua tim riset uji klinis vaksin Covid-19 Unpad Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K), M.M., dalam siaran pers Humas Unpad, Selasa (28/7).

Prof Kusnandi mengatakan, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi calon peserta uji klinis. Pertama, calon peserta merupakan orang dewasa berusia antara 18 – 59 tahun yang dinyatakan sehat, serta senantiasa mematuhi protokol kesehatan dan melakukan pembatasan fisik maupun sosial selama wabah pandemi Covid-19 berlangsung. Calon peserta juga dinyatakan tidak memiliki riwayat terinfeksi Corona.“Calon peserta akan dilakukan tes terhadap apus tenggorokan (swab test) dan rapid test untuk mengetahui apakah ada kemungkinan sedang atau pernah terinfeksi Covid-19,” katanya.

Menurut Prof Kusnandi, peserta akan mendapatkan tes swab maupun tes rapid secara cuma-cuma. Nantinya, sehat tidaknya kondisi calon peserta dibuktikan dengan tidak mengalami penyakit ringan, sedang, atau berat, tidak memiliki riwayat penyakit asma dan alergi terhadap vaksin, hingga tidak memiliki kelainan atau penyakit kronis seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, diabetes, penyakit ginjal dan hati, tumor, epilepsi atau penyakit gangguan syaraf lainnya.

Prof Kusnandi menjelaskan, calon peserta tidak memiliki kelainan darah atau riwayat pembekuan darah, tidak memiliki penyakit infeksi lain dan demam, serta tidak memiliki riwayat penyakit gangguan sistem imun. Suhu tubuh calon pendaftar juga tidak boleh melebihi 37,5 derajat Celcius.

Selanjutnya, kata dia, calon peserta bukan merupakan wanita hamil atau berencana hamil selama periode penelitian, serta tidak sedang menyusui. Calon peserta juga tidak sedang ikut atau akan diikutsertakan dalam uji klinis lain.

“Peserta tidak mendapat imunisasi apa pun dalam waktu 1 bulan ke belakang atau akan menerima vaksin lain dalam 1 bulan ke depan,” kata Prof Kusnandi.

Selain itu, kata dia, calon peserta berdomisili di Kota Bandung dan tidak berencana pindah dari lokasi penelitian sebelum penelitian selesai dilaksanakan.

Prof Kusnandi menegaskan, dalam 14 hari sebelum dimulainya penelitian, peserta tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien terinfeksi Coronavirus, tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien yang menunjukkan demam atau gejala sakit saluran pernapasan yang berdomisili di daerah atau komunitas yang terdampak Covid-19, serta tidak memiliki dua atau lebih kasus demam dan atau gejala saluran pernapasan di daerah dengan lingkup kecil, seperti rumah, kantor, dan sekolah.

Sebanyak 1.620 relawan dibutuhkan dalam proses uji klinis vaksin. Namun, tidak semua peserta akan disuntikkan vaksin. Sebanyak 540 orang akan disuntikkan vaksin, sedangkan sisanya akan mendapat cairan plasebo. Penentuan pemberian vaksin atau plasebo akan dilakukan secara acak. “Bagi yang menerima plasebo akan mendapatkan vaksin Covid-19 setelah vaksin didaftarkan,” kata Prof Kusnandi.

Tidak Dibayar, Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Dapat Asuransi

Para relawan uji klinis calon vaksin Covid-19 yang merupakan warga Kota Bandung, Jawa Barat, tidak akan mendapat bayaran.

Hal tersebut disampaikan dokter Eddy Fadliana selaku manajer lapangan tim penelitian uji klinis tahap 3 calon vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

"Imunisasi ini sukarela, tidak dibayar," kata Eddy saat ditemui seusai audiensi dengan Wali Kota Bandung Oded M Danial di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Senin (27/7/2020).

Eddy menjelaskan, meski tidak mendapatkan bayaran, para relawan akan mendapatkan asuransi kesehatan secara penuh selama mengikuti masa pemantauan.

Jika nantinya di tengah jalan mengalami sakit, maka relawan dipastikan bisa berobat secara gratis di institusi kesehatan manapun.

"Segala sakit apapun selama periode penelitian akan kita cover. Sampai periode selesai sekitar 6 bulan," kata dia.

Tidak hanya asuransi kesehatan, tim peneliti juga memastikan akan mengganti ongkos berobat yang dikeluarkan oleh relawan yang telah disuntikkan calon vaksin Covid-19.

"Kalau nanti berobat pakai mobil, kita ganti uang transportasinya," tutur Eddy.

Dalam uji klinis tersebut, sebelum disuntik calon vaksin Covid-19, para relawan akan diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan belum terjangkit Covid-19.

Sumber: Republika, Kompas