Miftah Yang Bikin Resah


"BUSTAK" Miftah

(Oleh: Azwar Siregar)

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas ketegasan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara - MUI Sumut untuk mengusut pernyataan sesat dan menyesatkan dari saudara Miftah (postingan 1, lihat di atas) tentang Cadar dan batasan aurat bagi seorang muslimah. Link Youtube Sikap MUI Sumut (https://youtu.be/kc23TAFgE88)

Sekali lagi saya tekankan. Saudara Miftah ini bukan seorang Ustadz. Lebih tepat kita sebut saja orang ini "bustak", dalam bahasa Padang Bolak (Angkola) artinya lumpur.

Jadi si Bustak Miftah ini cuma menjual "kesesatan" untuk memuaskan rasa dahaga kelompok Islamphobia. Maka wajar saja setiap Postingan Sesat yang memprovokasi Umat Islam di Akun Facebooknya selalu mendapatkan dukungan dan tepuk tangan justru mayoritas dari non muslim. Lucu saja, ngaku-ngaku ustadz, tapi jamaahnya facebooknya justru mayoritas bukan dari Umat Islam.

Sebenarnya saya tidak keberatan dengan kekonyolan si Bustak Miftah yang bangga dengan Istrinya tidak berhijab. Bangga mempertontonkan rambut, lengan bahkan mungkin kedepan semua badan istrinya akan dipajang kecuali alat kelamin. Karena menurut si Miftah Aurat itu cuma Alat Kelamin...

Masalahnya si Miftah ini mengaku-ngaku Ustadz dan diundang berceramah (pengakuannya) kemana-mana. Jadi pendapat konyol orang ini berpotensi menyesatkan umat. Khususnya masalah batasan aurat.

Padahal berulangkali sudah saya sampaikan. Tidak perlu jadi ustadz untuk memahami batasan aurat. Lihat saja di pelaksanaan Sholat. Mana yang wajib di tutup ketika sholat, maka itulah batasan aurat.

Menurut saya kebanyakan Postingan si Bustak Miftah ini memang benar-benar konyol dan terkesan lebih kepada upaya mencari popularitas dengan menciptakan hal-hal yang kontroversial.

Misal pernyataan yang ada saya screenshoot (No.2 di atas) :

𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙣𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙣𝙞

Orang-orang seperti si Miftah ini justru Provokator yang sangat berbahaya. Bagaimana bisa dia membandingkan rasa cintanya kepada Islam dan kepada Negara. Justru karena Islam kita mencintai negara ini, karena mencintai Negara (Tanah Air) adalah bagian dari iman.

Pernyataan cinta kepada Islam tapi lebih cinta kepada Negara, berarti menempatkan Negara di atas Islam. Padahal Negara Indonesia bahkan Planet Bumi cuma secuil dari Alam  Raya, Bagaimana bisa si Bustak Miftah menempatkan Negara di atas Islam?

Hanya orang dungu yang memperbandingkan yang tidak sebanding. Cinta kepada Islam tidak akan menghilangkan kecintaan kepada Negara. Justru akan lebih memurnikan rasa cinta kepada Negara. Karena ajaran Islam tidak akan mungkin mengajarkan mengkhianati Negara. Sebaliknya, cinta kepada Negara bisa saja mengkhianati Islam. Karena Negara itu objek yang selalu berubah tergantung siapa Pemerintahnya.

Kalau hal-hal sederhana seperti ini saja si Miftah gagal memahaminya, pantas saja dia bangga memamerkan "tubuh" istrinya.

TOBAT KAU BUSTAK !!!

(Azwar Siregar)

[Video - Pernyataan MUI Sumut]