Memimpin Ala Dokter


Memimpin Ala Dokter 

Di era modern ini, hampir semua orang pernah berobat ke dokter. Termasuk kita. Entah punya keluhan kesehatan apa saja.

Yang menarik dicermati adalah bagaimana SOP (standar operasional prosedur) setiap dokter dalam menghadapi pasien. Pertama dilakukan adalah diagnosa. Baik dengan pemeriksaan fisik maupun cara lain, termasuk bertanya kepada pasien.

"Yang dirasakan apa pak/bu/mas/mbak/dik?"
"Sudah sejak kapan dirasakan?"
Dan seterusnya.

Terkadang sebuah penyakit, mudah didiagnosa. Tapi beberapa kasus lain juga tidak langsung bisa dipastikan karena apa. Yang dilakukan adalah diagnosa lanjutan. Lalu diperlukan pemeriksaan darah, EKG, rongten dan seterusnya. Hingga bisa disimpulkan jenis penyakitnya apa. Apakah tunggal atau komplikasi.

Dari diagnosa tersebut, kemudian dokter bisa memberikan sejumlah alternatif pengobatan. Perlu pengobatan intens di rumah sakit, opname. Atau cukup rawat jalan. Butuh diberikan resep untuk sejumlah obat. Atau bahkan tanpa obat sudah cukup. Dengan target yang jelas, menjadi sehat.

Pilihan bentuk pengobatan tersebut makin kompleks saat ditemui jenis penyakit yang tidak tunggal. Bisa jadi penyakit A disembuhkan lebih dahulu, baru penyakit B diberi pengobatan. Atau bisa simultan. Tentu saja semua itu berawal dari diagnosa yang tepat. Diperlukan juga kemampuan dokter untuk menyiapkan program penyembuhan bagi tiap-tiap pasien.

***

Inspirasi paradigma kerja dokter tersebut sepertinya diperlukan oleh para politisi. Utamanya para pemimpin di semua level.

Kemampuan diagnosa, merumuskan mother of problem. Sebelum menyusun langkah kebijakan hingga program dan kegiatan yang akan menyedot anggaran.

Tentu saja diawali dengan tujuan yang jelas. Mensejahterakan rakyat, bukan untuk diri dan golongan.

Bila diawali dengan niat yang benar. Diagnosa yang tepat. Apakah kegiatan kursus online pada program kartu pra-kerja itu tepat dan menjawab masalah?

Atau kebijakan dan program kegiatan lain. Yang kontroversi. Semua bisa kita nilai. Bahkan dari kacamata masyarakat awam saja. Bisa jadi memang salah sejak dari niat, bukan semata untuk kesejahteraan rakyat. Namun ada motif kelompok. Bisa juga problem pada diagnosa masalahnya.

Para pemimpin semestinya memastikan timnya bekerja dengan diawali niat dan diagnosa yang tepat.

Apalagi pemerintah itu memiliki instrumen yang sangat besar untuk melakukan diagnosa. Datanya komprehensif dan up to date. Didukung dengan struktur pemerintahan, SDM birokrasi dan anggaran yang besar.

Kalau ingin mensejahterakan rakyat, insya-Allah pasti bisa!

Untuk para sahabat politisi yang akan maju dalam perhelatan pilkada tahun ini. Saya sarankan untuk belajar kepada para dokter. Agar mampu melakukan diagnosa atas problem daerahnya. Kemudian mampu menyusun program penyehatan, termasuk meracik resep yang tepat. Dengan segala daya dukung dan tantangan daerah.

Salam,

By Setiya Jogja
(Sekjen DPW Partai Gelora DI Yogyakarta)

*Noted : Gambar hanya pemanis :)