KH. Hilmi, Anis Matta dan "Remahan Renginang"


KH. Hilmi, Anis Matta dan "Remahan Renginang"

Oleh: Dr. Nandang Burhanudin

Wafatnya KH. Hilmi Aminudin, membangkitkan memori indah para penerima manfaat keluhuran ilmu dan kedalaman imajinasi futuristik almarhum.

Ragam tulisan dibuat. Kesan nan teramat mendalam, terukir kuat dalam bongkahan memori. Cukup memperkaya tabungan keikhlasan dan terajut ishlah yang di masa lalu, sulit terajut kembali.

Tak terkecuali Anis Matta, inisiator GARBI, pendiri dan Ketum Partai Gelora yang notabene bisa disebut sebagai sisi reformis Partai Keadilan Sejahtera, besutan Kiai Hilmi Aminudin, guru dan mentor politik AM, Sekjen 4 periode yang tak tergantikan.

Setahu saya pribadi, kolaborasi ide gagasan dan imajinasi sosok UHA dan AM menjadi energi juang tak tergantikan. Komposisi duet UHA-AM memenuhi 3 unsur energi kesuksesan ala Nelson Mandella:

Pertama, keberanian berpikir "out of the box". Kisah kehadiran Mukernas PKS 2008 di Bali, adalah momentum paling berani keduanya untuk melabrak "hal tabu" di PKS yang semua tahu, di era keduanya teramat kental ke "kanan" sebagai salah satu elemen Islam Politik terbesar kala itu.

Kedua, Keberanian dalam mengimplementasikan ide. Di antara idenya adalah, distribusi tugas para "inohong PKS". Ada Fahri Hamzah yang "diberi tugas" menjadi kritikus kepemimpinan SBY. Adapun AM diposisikan sebagai desainer dari setiap rencana tindak lanjut, hasil bacaan dan pikiran UHA.

Hanya saja, tak ada gading yang tak retak, koalisi ide dan aksi tercoreng oleh kekurangan kedua insan tersebut dalam menerapkan kekuatan ketiga, yaitu keberanian menerima kegagalan.

Gagal mengantisipasi dampak penangkapan LHI dalam kasus korupsi sapi. Juga gagal dalam mengkomunikasikan "perpecahan" kepada khalayak kader yang sering menyebut dirinya sebagai "remahan renginang".

Para "remahan renginang" terutama kader di level anggota ahli di bawah 5 tahun, kader dewasa, kader madya, kader muda, hingga simpatisan dan para konstituen tidak mampu memahami akar konflik, sebab yang dominan justru "operasi" dokumen ungu yang menghebohkan.

AM tanpa UHA, laksana mesin yang kurang oli. UHA minus AM, ibarat mobil tanpa BBM. Bertahun dalam ruang hampa, membuat keduanya bersapa lewat doa. Hingga ajal tiba. Suara jiwa itu bergelora tak bisa ditutupi tabir nestapa.

Akhirnya para "remahan renginang" tak mudah lagi disatukan. Sebagian saling caci lewat medsos dan perang tulisan dan sebagian lagi menikmati kedudukan yang susah didapatkan, saat UHA dan AM masih dalam satu kesatuan.

Tinggal sekarang panggung berada di tangan AM. Apakah mampu mengaplikasikan "grand narrative" di lapangan? Ataukah akan menemui kesulitan disebabkan minimnya tokoh sekaliber UHA yang diakui sebagai guru politik?

Saya yakin, AM mampu melanjutkan dan bahkan mengimplementasikan narasi besar UHA "ustadziatul alam" dengan bahasa kontemporer yakni menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.  Wallahu A'lam.[]