Kepongahan Intelektual yang Berujung "Tragedi" (Catatan untuk Bapak Abdillah Toha)


Kepongahan Intelektual yang Berujung "Tragedi"
(Catatan untuk Bapak Abdillah Toha)

Hormat saya untuk beliau Bapak Abdillah Toha - Cendekiawan Muslim Pendiri Partai PAN.

Namun karena dalam tradisi intelektual tidak dikenal kasta seperti umur misalnya, melainkan fokus pada subyek pemikiran, MAKA tulisan ini dimaksudkan untuk mengkritisi pemikiran beliau yang banyak tersebar di media massa seperti berikut ini:

Ke Mana Jokowi Akan Membawa Kita?
https://www.qureta.com/post/ke-mana-jokowi-akan-membawa-kita

Dengan demikian, selugas dan sekeras apapun status ini HANYA DITUJUKAN kepada pemikiran beliau dan bukan untuk  individunya.

(1) Bapak Abdillah Toha (selanjutnya disingkat AT) adalah Cendekiawan Muslim lulusan Australia yang dulu ikut mendirikan Partai Amanat Nasional, NAMUN belakangan membuat pernyataan dukungan kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pendiri PAN Dukung Jokowi dan PSI
https://www.medcom.id/pemilu/news-pemilu/5b2q3raN-pendiri-pan-dukung-jokowi-dan-psi

(2) Beberapa hari yang lalu, Pak AT membuat artikel yang pada intinya kecewa pada Jokowi dan lantas "curhat" yang menurut Beliau adalah sebagai upaya meringankan beban moral yang saya pikul dan sekaligus sebagai penyalur unek-unek. Siapa tahu ada gunanya.

Ke Mana Jokowi Akan Membawa Kita?
https://www.qureta.com/post/ke-mana-jokowi-akan-membawa-kita

(3) Ha..ha...ha.... cuman itukah yang bisa Bapak lakukan ? 😅😂

Sementara, Bapak dulu (2014) begitu menggebu-gebu mendukung Pak Jokowi hingga membuat tulisan viral berjudul: 

10 Alasan Pendiri PAN Abdillah Toha Dukung Jokowi
https://kabar24.bisnis.com/read/20140530/15/231787/10-alasan-pendiri-pan-abdillah-toha-dukung-jokowi

Dan 2019 kembali membuat lagi tulisan (yang juga kembali viral):

10 Alasan Mengapa Saya Tidak Memilih Prabowo
https://geotimes.co.id/kolom/10-alasan-mengapa-saya-tak-akan-memilih-prabowo/

(4) Apa yang Bapak lakukan adalah contoh nyata bagaimana Kepongahan Intelektual dipertontonkan tanpa punya rasa malu, sementara "tragedi" (pakai tanda petik) akhirnya terjadi TANPA Bapak bisa berdaya untuk melakukan apa-apa.

Kenapa bisa disebut pongah?

Ya karena dalam 2 kali Pilpres anda sedemikian menggebu dan membabi buta mendukung Jokowi NAMUN berujung pada "tragedi" KARENA anda hanya cuman bisa curhat untuk mengeluarkan unek-unek AKAN TETAPI DENGAN MASIH MENYERTAKAN KALIMAT: "Tidak berarti bahwa bila waktu diputar kembali ke belakang, saya akan memilih Prabowo".

Sekali lagi, anda masih saja pongah menulis: "Tidak berarti bahwa bila waktu diputar kembali ke belakang, saya akan memilih Prabowo".

PADAHAL, masih dalam paragraf yang sama, anda menulis: "menyimak berbagai peristiwa yang terjadi berulang pada periode 2 pemerintahan Jokowi yang belum setahun ini, membuat saya menjadi makin sulit untuk membela Jokowi dan mengatakan bahwa Jokowi memang merupakan pilihan tepat sebagai Presiden RI"

Ha.ha..ha...ha... betul-betul sebuah kepongahan yang memalukan yang dilakukan oleh seorang intelektual. Padahal mestinya, anda bisa secara tulus dan rendah hati mengakui bahwa apa yang pernah anda tulis adalah SALAH. TANPA HARUS LAGI MEMBAWA-BAWA PERSOALAN PILPRES kembali.

Kenapa bisa disebut "Tragedi"?

Ya karena kegagah-perkasaan anda dalam membela dan (kembali) mengusung Ir. H. Joko Widodo dalam tampuk kepemimpinan Pemerintahan Indonesia SAMA SEKALI TIDAK PUNYA ARTI ketika ybs. sukses menduduki jabatan KARENA TIDAK MEMBERIKAN RUANG YANG MEMADAI kepada anda Kaum Intelektual Pendukung untuk memberikan saran dan masukan di Pemerintahan yang sedang berjalan.

(5) Dua tulisan Anda terdahulu yang viral (dalam rangka mendukung Jokowi) TERBUKTI ADALAH tulisan yang dibangun dengan argumen yang rapuh dan hanya bermodalkan opini emosi YANG JUSTRU (IRONISNYA) ANDA PATAHKAN SENDIRI 😂🤣

Silakan cek sendiri tulisannya pada link di atas, bagaimana beliau menjelek-jelekkan dan menyudutkan salah satu nama Tokoh Capres secara sadis, NAMUN di sisi lain mengagung-agungkan salah satu Tokoh Capres yang lain dengan narasi yang super hiperbolis nan halu. Ini tulisan Cendekiawan atau Tukang Dongeng ?????

*Note: MAKANYA, sekaligus penegasan bahwa status ini tidak akan pernah ada, jika yang membuat artikel "Ke Mana Jokowi Akan Membawa Kita?" adalah Abu Janda atau Denny Siregar yang kita sudah sama-sama tahu keterbatasan kapasitasnya 😂🤣

(6) Pilpres sudah selesai! Secara realistis "suka atau tidak suka" ... "terima atau tidak terima" ... Pemenangnya sudah ditetapkan dan secara konstitusional harus diakui sebagai Kepala Pemerintahan & Kepala Negara hingga 2024.

NAMUN ....pernyataan anda "Tidak berarti bahwa bila waktu diputar kembali ke belakang, saya akan memilih Prabowo" PERLU JUGA UNTUK DITANGGAPI bahwa Upaya Penggantian Jokowi (Yang tidak mesti harus Prabowo 'sih sebetulnya, Maka pilihan kepada Prabowo adalah ya karena yang ada "cuman" itu) ADALAH untuk mendorong "hadirnya" satu konstruksi politik yang sehat yang argumen ini tidak akan mungkin bisa anda bantah. APA ITU?

Jika Jokowi yang diusung oleh PDIP KALAH DALAM PILPRES maka diharapkan akan terjadi "Checks and Balances" yang optimal dalam Konstruksi Perpolitikan Indonesia.

JADI hal-hal yang kita rindukan pada era Pemerintahan SBY (ada Anggota DPR yang Walk Out rame-rame karena Kenaikan Harga BBM... ada Tokoh Partai yang menangis berurai air mata katanya ingat penderitaan rakyat...) BISA TERJADI LAGI !

Adapun terhadap bantahan, bagaimana jika ternyata malah PDI-P berkoalisi dengan Pemerintahan  sebagaimana yang dilakukan oleh Gerindra? bisa dijawab : ya potensi terjadi tetap ada, AKAN TETAPI tradisi PDI-P belum pernah terbukti melakukan opsi seperti itu. Sebagai Partai Pemenang hampir dipastikan dia akan menjaga wibawa dengan tidak "tunduk" dalam hegemoni politik yg ada.

(7) PENUTUP

Siapapun bisa salah serta khilaf, termasuk juga dengan beliau Bapak AT dan Penulis tanggapan ini, NAMUN kesempatan untuk "taubat" selalu akan terbuka selama hayat masih dikandung badan.

Yang terhormat Ayahanda Haji Abdillah Toha, hormat kami anak bangsa atas kiprah kepedulian Bapak  terhadap negeri selama ini dan berharap semoga Allah SWT memberikan Bapak dan KITA SEMUA hidayah untuk senantiasa berdiri tegak di atas obyektivitas didukung kelimuan yang memadai dengan meminimalkan tendensi pribadi, hingga bersama-sama mengawal Kapal Besar "NKRI" ini untuk bisa terus berlayar dalam arah yang benar dan selamat hingga tujuan. Aamiin Ya Rabbal Aalamiiin.

Mohon Maaf Atas Kalimat Yang Tidak Berkenan.

Salam ....

(Tara Palasara)