Jumpalitan Politik Demi Gagalkan Ancol


Jumpalitan Politik Demi Gagalkan Ancol

Oleh: Tumenggung Purbonegoro*

Sekarang semua orang meributkan Ancol, padahal sejak Februari 2020, kepgub sudah dikeluarkan.  Aturan sudah dibuat oleh Pemerintah DKI Jakarta. Semua orang kebakaran jenggot, ingin menggagalkan pengembangan pariwisata di Ibu Kota Indonesia. "Kita ingin menjadikan Ancol sebagai kawasan taman rekreasi terbesar di Asia Tenggara bahkan di Asia" begitu yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta. Ancol yang berada di Jakarta dipinggir teluk Jakarta. Seharusnya jadi sebuah kebanggaan bagi kita yang merasa Indonesia adalah kebanggaan.

Di Teluk Jakarta kebangkitan perlawanan Fatahilah dari penjajahan dikobarkan, kemajuan Ancol adalah kebangkitan perlawanan kita sebagai warga Indonesia terhadap kekuatan bangsa lain. Apakah ini karena persaingan bisnis? Bisa jadi. Di Jawa Barat, akan ada pembangunan taman rekreasi kerjasama Harry Tanoe dengan Donald Trump, bahkan kabarnya sampai mengganggu tanah makam. Tanah Makam yang merupakan penghargaan terakhir pada leluhur juga disingkirkan demi ambisi bisnis milyaran dari presiden Amerika Serikat.

Demo anti pengembangan Ancol ini diduga sarat dengan kepentingan persaingan bisnis dan perebutan pengaruh jelang pilkada 2022 dan pilpres 2024. Mereka yang menolak bisa jadi terancam dengan keberhasilan-keberhasilan yang telah dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta. Program-program yang berpihak pada rakyat dan keadilan sosial selalu akan dicitrakan sebagai sebuah kegagalan. Karena kalau setiap orang melihat itu adalah sebuah keberhasilan maka Anies Baswedan tidak akan terbendung lagi.

Mari kita berhenti membahas politik personal Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta pasti punya agenda politiknya sendiri seperti lawan-lawan politiknya. Mari kita kembali melihat masa depan Jakarta sebagai rakyat biasa. Melihat Jakarta dari kacamata kemajuan dan kebermanfaatan bagi rakyat seluruhnya.

Salah satu rencana yang dibuat di kawasan Ancol adalah Museum Sejarah Rasulullah, museum pertama di luar Arab Saudi. Sudah barang tentu pengunjung di sana pasti akan sangat banyak, namun mari kita lihat museum tentang peradaban Islam yang terkenal di Istanbul. Rata-rata pengunjung yang datang ke Hagia Sophia dan Istana Topkapi adalah sekitar 2 juta orang per tahunnya. Tujuan wisata ini adalah salah satu tujuan yang popular untuk jamaah umroh dari Indonesia dan Malaysia, tentunya mereka juga dengan senang hati bisa berkunjung ke Museum Rasulullah SAW di Jakarta. Itu baru dari satu faktor saja.

Rencananya, pengembangan kawasan ini juga untuk menjadikan Ancol sebagia taman rekreasi terbesar di Asia Tenggara. Salah satu saingan terbesar adalah Singapura. Berdasarkan situs resmi pemerintah Singapura, pada tahun 2018 ada 3,02 juta orang Indonesia yang datang ke Singapura. 40% diantaranya adalah untuk liburan.

Menurut artikel Jakarta Post, tahun 2015 ada 2.731.690 orang Indonesia yang datang ke Singapura dan 50% diantaranya datang ke Sentosa Island, lahan reklamasi yang didalamnya ada Universal Studio dan S.E.A Aquarium. Tidak ada salahnya bagi Ancol membidik posisi untuk bisa bersaing dengan Universal Studio Singapore. Sebagai rakyat harusnya kita bisa bersiap masuk ke persaingan global, bukan mematahkan semangat anak negeri sendiri.

Kita semua tahu bahwa mayoritas saham Ancol dimiliki oleh negeri sendiri. Pemprov DKI Jakarta adalah pemiliki mayoritas saham, setelahnya Pembangunan Jaya dan Publik secara umum. Ancol tidak dimiliki oleh Orang Asing, kemajuan Ancol adalah kemajuan rakyat Jakarta. Akan ada masyarakat Jakarta dan Indonesia yang bisa bekerja di lokasi ini, akan ada uang yang dirasakan oleh para pengusaha baik besar dan kecil.

Bagi yang ingin menggagalkan usaha Jakarta untuk kemajuan dan hanya ribut dan meributkan politik yang tidak berkesudahan. Jika komentar yang dilakukan hanya untuk keributan dan manfaat politik pribadi, bukan untuk kemajuan pariwisata Jakarta dan penanggulangan banjir. Kita catat namanya sama-sama, jika dia anggota DPRD jangan kita pilih kembali, jika dia budayawan jangan lagi kita tonton hasil karyanya, jika dia tokoh masyarakat jangan lagi kita dengarkan pendapatnya. Maturnuwun.

*Sumber: Kompasiana

loading...