Anis Matta: Indonesia Lebih Banyak Dimanfaatkan Negara Lain


[PORTAL-ISLAM.ID] Dalam dua dekade terakhir pasca reformasi, bangsa Indonesia sepertinya belum bisa bergerak maju untuk memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki. Juga belum bisa memberdayakan berbagai peluang yang terbuka yang muncul akibat revolusi teknologi dan arus globalisasi.

“Indonesia terkesan lebih banyak dimanfaatkan sebagai pasar potensial bagi negara-negara lain yang sedang bertumbuh di kawasan,” ujar Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Anis Matta dalam keterangan tertulisnya, seperti dikutip dari JawaPos.com, Selasa (14/7/2020).

Anis juga menilai, bangsa Indonesia juga terlihat sibuk dengan pekerjaan rumahnya sendiri, hingga lupa untuk melihat ke dunia luar yang sedang mengalami pergolakan dan sedang menuju pembentukan keseimbangan baru.

“Energi bangsa ini terserap oleh bermacam-macam konflik yang tidak perlu, dan justru menciptakan pembelahan dan polarisasi masyarakat, yang membuat kekuatan kita sebagai suatu bangsa melemah,” ujar Anis Matta.

Karena itu, untuk bergerak maju, lanjut Anis, semua pihak perlu menumbuhkan tiga fitur utama dalam masyarakat Indonesia. Hal itu dilakukan agar tercipta daya dorong yang kuat bagi kemajuan bangsa ini, yaitu efektif, inovatif dan kolaboratif.

Anis menjelakan, soal apa yang dimaksud dengan fitur efektif. Menurutnya, Bangsa Indonesia terlalu banyak menghabiskan energinya untuk konflik internal pada hal-hal yang tidak perlu, dan membuat kita tumbuh dalam lingkungan sosial yang tidak efektif.

“Kita lebih banyak berbicara tentang perbedaan dan bukan persamaan. Ini menyebabkan kita kehilangan daya dorong untuk bergerak maju sebagai sebuah bangsa,” katanya.

“Oleh karena itu kita perlu menumbuhkan lahirnya masyarakat efektif dengan menciptakan kembali energi sosial yang akan menjadi tenaga penggerak bangsa ini untuk maju,” terangnya.

Mengutip Upholf N, (1996) energi sosial itu tercipta paling tidak dengan empat unsur Yaitu: (1) ide, (2) cita-cita, (3) persahabatan, dan (4) kepemimpinan.

“Kita perlu memiliki cita-cita besar yang melampaui kepentingan primordial kita masing-masing, untuk menjadi tujuan bersama. Suatu gagasan yang tidak hanya bisa menyatukan, tapi juga menjadi
‘collective mind’ yang memberikan kita arah,” jelasnya.

Lebih lanjut Anis menambahkan, masyarakat juga perlu menumbuhkan kembali semangat persaudaraan, yang pada dasarnnya merupakan sifat bawaan bangsa Indonesia dan juga cerminan dari religiusitas masyarakat. Serta mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin berjiwa besar yang mampu menginspirasi bangsanya untuk bergerak, bukan dengan kekuatan pemaksa dan otoritas.

“Kehadiran energi sosial semacam ini akan membuat kehidupan sosial kita jauh lebih efektif. Bukan karena kita menginginkan semuanya harus sama, tapi karena kita semua bergerak ke arah yang sama dalam keberagaman dan perbedaan kita masing-masing,” terangnya.

Kedua adalah inovatif. Hidup dalam era percepatan yag membuat pengetahuan-pengetahuan lama lebih cepat kehilangan relevansi. Persoalan-persoalan baru hadir dan memerlukan cara-cara baru dan pendekatan-pendekatan baru dalam menyelesaikannya.

“Oleh karena itu, dibutuhkan semangat inovasi yang tinggi dalam masyarakat. Inovasi tidak selalu kaitannya dengan temuan-temuan ilmiah dalam dunia sains, tapi juga metode-metode baru dalam memecahkan persoalan masyarakat,” bebernya.

Untuk itu, kata Anis, perlu didorong lahirnya masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Sebuah masyarakat yang ditandai dengan pemerataan pendidikan tinggi dan pemanfaatan pengetahuan serta inovasi sebagai faktor utama dalam penciptaan kemakmuran, mendahului faktor produksi klasik lainnya.

Karena dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, Anis memandang, individu dan komunitas bisa saja mendorong terwujudnya masyarakat berpengetahuan di Indonesia. Tetapi untuk mewujudkannya dalam skala yang lebih luas dan waktu yang relatif lebih singkat, kebijakan pemerintah akan jauh lebih berpengaruh.

“Kebijakan yang terencana dengan dukungan anggaran yang lebih pasti, akan membuat peroses pencapaian tujuan dapat dilakukan dengan lebih efektif,” ungkapnya.

Sementara, hal ketiga kata Anis adalah kolaboratif. Persoalan bangsa ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh otak satu orang. Juga terlalu rumit untuk diselesaikan oleh pikiran satu orang. Oleh karena itu kata dia, dibutuhkan semangat kolaborasi sesama anak bangsa.

“Kita tidak perlu menunggu seorang ‘Superman’ atau seorang juru selamat untuk datang menyelesaikan persoalan-persoalan kita,” ungkapnya.

Karena, bangsa ini memiliki otak-otak cerdas dan bakat-bakat hebat yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

“Lihat saja prestasi-prestasi luar biasa pelajar-pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mengikuti kompetisi-kompetisi global, tidak kalah dari negara-negara maju,” ujarnya.

Namun, yang belum dilakukan sebagai sebuah bangsa, adalah mempertemukan otak dan bakat-bakat hebat ini dalam semangat kolaborasi untuk kepentingan bangsa kita. Potensi-potensi berserakan ini perlu diwadahi oleh negara, dengan menyediakan ruang-ruang kolaborasi dan penghargaan terhadap kontribusi serta karya-karya mereka.

Karena dengan hadirnya masyarakat yang efektif, inovatif dan kolaboratif, maka telah menciptakan suatu budaya baru pada bangsa Indonesia. Budaya yang menjadi modal besar bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi negara maju, melengkapi modal yang telah dimiliki sebelumnya, yaitu bonus demografi dan kekayaan alam.

“Jika itu dibangun, mimpi untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia akan sangat mungkin terwujud di masa depan,” pungkasnya.[]