Ahmad Dhani: Kalau Waktu Itu Prabowo Perintahkan Revolusi, Terjadilah!


[PORTAL-ISLAM.ID]  Yusril Ihza Mahendra pernah bercerita, jika saja dulu Soeharto melawan atas revolusi rakyat pada dirinya, dipastikan negara ini akan lebih dulu punya cerita bak negara Suriah dan Basyar Al Assad.

Apa yang tidak dipunya oleh Soeharto kala itu? Walau keadaan negara lagi krisis kepercayaan pada pemerintah, Soeharto masih memiliki TNI yang loyal pada dirinya. Sebagai panglima tertinggi, beliau berkuasa penuh untuk memerintan aparat.

Jika Soeharto memerintahkan menghabisi para mahasiswa dan masyarakat yang demo, gak butuh satu hari, bisa selesai semua. Tapi Soeharto gak melakukannya. Dia pun gak lari dari tuntutan rakyat. Dia hadapi dan berbicara atas tuntutan mundurnya.

Sebagai pemimpin yang telah berkuasa 32 tahun, beliau menunjukkan kebesaran hatinya. Menerima tuntutan tanpa perlawanan, hanya mata beliau yang berkaca tanpa isak tangis terbata.

Jiwa militer membuat beliau mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi. Pelengserannya berjalan mulus.

21 tahun kemudian, bertepatan usainya Pilpres 2019. Teladan Soeharto diperlihatkan pada sosok Prabowo. Sebelum keputusan sengekta Pemilu di MK, Prabowo masih yakin bahwa dirinya lah pemenang pemilu. Namun saat MK sudah memutuskan hasilnya, Prabowo menerima kekalahan dengan ksatria.

Jalan konstitusi telah ditempuh, ikhtiar sudah dilakukan. Hasilnya adalah sebuah ketetapan. Beliau menerima dengan lapang dada.

Andai putusan MK itu tidak diterima Prabowo dan memutuskan melawan. Apa yang akan terjadi pada negeri ini? Pastinya akan banyak darah yang tertumpah dan situasi akan mencekam. Tidak ada kedamaian, yang ada hanya kerusuhan diberbagai daerah yang puncaknya kita akan saling menghabisi.

Rezim saat ini bukanlah rezim Soeharto yang mengerti tuntutan rakyatnya. Kejadian kerusuhan menjelang putusan MK, bisa memperjelas bagaimana rezim ini bertindak brutal pada setiap ancaman yang dianggap makar. Mereka gak peduli dengan HAM, yang mereka tau hanya tindak tegas dan selesaikan semua aksi-aksi yang merusuh.

Berapa korban kala itu? Berapa nyawa harus pergi dengan isak tangis keluarganya? Apakah ada sanksi bagi aparat yang menindak?

Sosok Prabowo jeli melihat semuanya. Tidak ingin perpecahan terjadi, beliau mengambil kendali. Menerima ajakan rekonsiliasi pada pihak yang dianggap mencurangi. Ketegaran beliau liar biasa. Bagi sebagian orang, mungkin beliau akan dianggap pecundang dan pengkhianat. Namun bagi pihak2-pihakyang mengerti, cara yang beliau pilih adalah sikap menyelamatkan negeri dari perpecahan.

Sosok Prabowo mencontoh apa yang dilakukan oleh Soeharto. Mempunyai kemampuan untuk menggasak semuanya, namun nuraninya lebih berbicara bahwa itu akan membahayakan orang-orang yang mendukungnya. Akan banyak darah yang tertumpah, akan banyak rakyat mati dengan nelangsa.

Soeharto dan Prabowo tidak mau mengorbankan rakyat untuk merebut kekuasaan. Jalan konstitusi selalu dipilih. Jika belum berhasil, mungkin esok masih ada kesempatan lain.

2 orang yang yang luar biasa.

Salut..👍

"Kalau waktu itu Prabowo bilang 'kita revolusi!', maka kita akan revolusi waktu itu," kata Ahmad Dhani di acara podcast Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu.

"Bener. Kalau Prabowo waktu itu perintah revolusi, Indonesia akan terjadi revolusi!" tegas Ahmad Dhani.

"Gak gampang jadi Prabowo. Makanya masyarakat Indonesia harus berterimakasih kepada Prabowo," ujar Ahmad Dhani.

"Kalau Prabowo waktu itu pimpin revolusi, Indonesia bisa pecah," lanjutnya.

[Video]